Usia 20-an

Di usia ini, saya baru aja semester-semester awal kuliah. Alhamdulillah, tak perlu nganggur, langsung lolos di sebuah PTN di Surabaya. Jauh dari rumah dan segala kenyamanannya. Krisis ekonomi akibat reformasi. Seolah ikut menyempurnakan keadaan, Bapa memutuskan memilih suatu jenjang karir yang berimbas pada tertundanya uang pensiun. Syediih, tapi pelajaran hidupnya tak tergantikan 🙂

Poin utamanya bukan soal kesedihan, tapi soal usia labil, fase peralihan dari anak rumahan menjadi anak rantau. 

Semacam…liar…begitu…😂

Seorang pengamen di kereta Rapih Dhoho memaksa kami (saya dan serombongan teman) untuk memberinya uang. Dia memaksa dan saya menyalak. Untungnya waktu itu, ada kakak lelaki seorang teman yang menemani kami berangkat ke kota. Si pengamen sudah mengacungkan bogem pertanda ancaman, sementara saya bersikeras merasa benar 😀 Dunia jalanan itu keras dan saya tak paham benar soal semacam itu. 

Di masa orientasi pun, saya nekat menyatakan kebenaran yang diputarbalikkan oleh panitia. Ternyata itu memang akal-akalan mereka untuk menyeleksi siapa yang bisa dijadikan teman sekufu. 

Wah, bakalan panjang lebar kalau diceritakan satu per satu yak 😄 Gara-gara si mbak seleb yang lagi in video plagiasinya, saya jadi nostalgia masa 20an. Masih labil gitu. Kalau soal tulisan, boleh lah diadu, hahaha (mengeriap hasrat seleb), dan saya (kalau gak salah ingat 😂) anti plagiasi. Berkas-berkas tulisan masih saya simpan sebagian. Sebagian ikut lenyap bersama hardsik teman yang rusak. Saya tak punya komputer tapi suka nulis, jadinya suka nongkrong di komputernya teman-teman, nulis apaaa saja. 

Kalau saya gak suka atau gak cocok sama seseorang, saya langsung buang muka atau pergi. Hihihi, jahat ya… Kebetulan, rata-rata yang tidak saya sukai memang orang yang mbencekno secara umum. Mbuh ya, susah amat basa-basi. Sampai sekarang juga. Cuma sekarang, karena udah dewasa (a.k.a tuwa), lebih ke arah diam, muka datar, udah. Gak frontal kayak jaman usia 20an 😀

Pernah ya, setelah terpisah selama sekian belas tahun, seorang konco plek telpon dan dia sangat heran melihat perubahan sikap saya. Yaaah, seiring dengan usia bertambah, pengalaman hidup mengajarkan banyak sekali hal, yang memang tak bisa didapat secara instant. Berkali-kali mabuk, jatuh bangun dengan sejumlah kejadian, yang bikin gak bisa tidur 😕

Bersyukur sekali, saat itu belum ada medsos, saya memiliki beberapa teman baik yang bersedia menampung keluh kesah saya, Mamak masih sehat untuk memompa semangat saya, duit di kantong juga sangat cekak untuk bisa bersenang-senang, hahaha… Banyak ya, faktor penting untuk melewati usia 20an dengan baik-baik saja. Meski, teteeep, ada tumbal berupa pengalaman memalukan yang jadi pelajaran besar 😅 

Dunia maya itu lebih kejam, mainnya di pikiran, minim koordinasi dengan fisik yang berkepentingan. Semisal nih, kalau saya adu argumen sama teman, saya tinggal pergi atau cari teman diskusi lain, udah kan. Kalaupun saya didebat keroyok, berapa sih yang sanggup, lingkupnya kan terbatas, gak sampai seluruh penjuru Indonesia. Belum lagi ada kontrol sosial kalau dilihat sekitar. 

Bandingkan dengan medsos, saat orang-orang yang tak setuju langsung ‘menawur’ berjamaah tanpa ampun, tanpa pertimbangan empatik dan simpatik 😩

Pendidikan kita memang tak banyak mengajarkan untuk bersikap, lebih menekankan pada pencapaian akademis. Tapi jangan melulu nyalahin itu ya, faktor pengasuhan di rumah dan lingkungan juga ikut ambil peran penting. Kata seorang pakar parenting, mahasiswa jaman sekarang itu anak-anak yang terperangkap dalam tubuh dewasa, karena masa bermainnya kurang. Jadi ingat cerita seorang teman yang jadi guru. Si ibu (ortu) begitu semangatnya mengkursuskan anaknya, supaya gak main aja di rumah selama liburan. Yaaah ibuuu, main-main kan juga belajar 😦

Rata-rata kita di usia 20an memang masih labil yah. Padahal dari sudut pandang agama, juga kebiasaan dari pola asuh barat, usia segituan udah berhak bisa menentukan nasib sendiri mau ngapain. Ada comic bule yang heran, banyak pria Indonesia yang udah hampir 30an kenapa juga masih makan tidur numpang ortu, kan mereka udah sanggul mandiri. Buat dia, itu sangat memalukan. Hehehe, lain padang lain belalang ya 😂

Semua orang pastinya pernah melakukan kesalahan, sebesar atau sekecil apapun itu. Orang dewasa aja masih mungkin tertekan sampe depresi, kalau ditolak atau diancam lingkungan, apalagi remaja tua usia 20an. Berat juga hidup si adek yang ‘terindikasi sering melakukan plagiasi setelah ditelusuri oleh para copyspace yang bisa napas’ 😉

Semua orang juga memiliki kecenderungan kebaikan yang memang harus dipoles supaya tidak dikuasai sifat buruknya. Jadiii, yang tak berkepentungan langsung, lebih baik jangan memperburuk keadaan ya. Kalau tak suka, lakukan dengan cara yang baik, tunggu respon, trus udah, tugas selesai, semoga segera dapat jalan keluar terbaik. Move on dong dengan kesibukan kita sendiri-sendiri.

Kita pernah usia 20an kan…
Yang udah menikah dan punya anak, nantinya juga nyampe 20an kan…

Feel that…

Gambar dari bintang.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s