Pengalihan Umek

Waktu Moldy masih tiga tahun, salah seorang terapisnya menilai, dia ADHD. Ndilalah, bukti kesehariannya menguatkan itu. Tidak tidur sampai dini hari, tak bisa duduk diam, suka merusak barang, dan menolak pembelajaran apapun. Panik dong, saya manut aja waktu disuruh konsultasi ke seorang psikiater di Surabaya, yang handal dalam menangani pasien autis. 

Soal ADHD ini masih jadi kontroversi, simpang siur. Kalau masih kecil, kan tumpang tindih dengan masa eksplorasi anak, jadi bingung juga. Lalu ada penelitian juga (silakan googling), yang menyebutkan bahwa sebenarnya tak ada kebutuhan khusus jenis ADHD. Itu bisa ditangani dengan pola hidup yang teratur serta terapi yang sesuai, sehingga anak penyandang ADHD bisa completely normal ketika dewasa. 

Singkat cerita, kami pun konsultasi ke psikiater yang dimaksud dan pulang dengan membawa sepaket obat yang harganya ratusan ribu. Moldy langsung anteng, nampak lemas, sehabis minum satu dosis saja.

Panik lagi dong, apalagi setelah baca-baca bahwa anak usia segitu memang wajar kalau umek. Lalu saya sempat gabung di grup kebutuhan khusus yang kebanyakan ortu dengan anak autis. Di grup ini, strict sekali, rata-rata lebih sepakat pada diet makanan dan terapi yang sesuai, tanpa mengandalkan obat. Untuk orang normal saja, kebanyakan obat tak baik, bisa menjadikan ketergantungan, apalagi yang kebutuhan khusus. Saya hentikan ke psikiater, dan masih terus mencari apakah dia ADHD atau yang lain.

Moldy melihat film yang dia sukai dengan runut, memahami tiap detail adegan, meniru dan mengingat dengan baik bagian tertentu, bahkan menangis mellow jika filmnya bikin haru biru 😯 Saya cari teksnya, tak ada, karena suaranya sudah disulih. Jadi matanya bekerja cukup detail, entah itu kemampuan visual spasial atau kemampuan yang memang melekat pada tunarungu murni, saya sudah embuh, hehehe…

Saya malah mikir gimana pengalihan umeknya, energi berlebihnya. Baru ketemu beberapa orang yang paham maksud saya, antara lain pelatih renangnya. Dia langsung diajari gaya bebas, dan dalam satu sesi bolak balik disuruh berenang, dia semangat bahkan sampai kolam mau tutup dan hampir tak pernah kecapean.

“Sengaja bu, kan dia kuat, biar tenaganya terkuras, jadi cepet cape. Kalau adiknya kan gemulai, jadi gaya katak aja dulu, baru nanti gaya bebas,” terang pak pelatih 🙂

Sampai di rumah pun, masih aja sempat main mrikithik ke sana sini, dan baru tidur kalau saya ajak tidur. Kalau tidak diajak, ya bisa aja nonton film atau ngapain aja sampai tengah malam 😐

“Harusnya bu, dia jauh lebih tahu banyak hal (karena umeknya), dibanding temannya yang tidak,” duga pak terapis lain. 

Semoga begitu ya, pak. Alhamdulillah dan inshaallah memang dia tahu banyak. Untuk Moldy saya harus siap dengan tindakan pengalihan, tarik ulur, dan semacamnya. Moldy itu semacam manusia silver peselancar yang ada di film Fantastic Four. Hihihi… Aturan apapun, dia selalu memiliki cara untuk membengkokkannya. Dia juga yang memegang kendali pada pemberontakannya. Karena itulah, saya menerapkan sikap embuh pada tiap orang yang memberikan macam-macam penilaian. Bagus, alhamdulillah. Jelek, astaghfirullah. Anggap saja itu bentuk perhatian mereka dengan caranya sendiri.

Di Jepang (entah apakah sekarang masih ada), ada perusahaan kontraktor yang mempekerjakan orang stress untuk menghancurkan gedung yang akan direnovasi. Namun mereka tetap diseleksi terlebih dahulu sebelum bertugas.

Deuce Bigalow, di film saru. Jangan fokus pada sarunya ya :mrgreen: Deuce terpaksa berkencan dengan para wanita aneh, yang selalu ditolak pria manapun. Wanita yang super besar, yang memakai kaki palsu, dan yang menarik adalah wanita pengumpat. Si pengumpat ini selalu tanpa sadar mengumpat dimanapun, bikin orang tersinggung, tapi dia sendiri tak bisa mengontrolnya, lalu minta maaf. Oleh Deuce, dia diajak ke pacuan kuda, di sana dia mengumpat sepuasnya, yang malah disoraki banyak orang dan itu membuatnya bangga 😁 Finally, tersalur juga kebutuhan lebihnya.

Itu contoh-contoh ekstrim ya. Selama tak melanggar norma yang berlaku, semua jenis keunikan anak perlu difasilitasi. Bukan berarti jika gaya belajarnya umek dia dipaksa duduk diam. Itu kan penyiksaan, sementara tangan, kaki, dan otaknya tak sanggup diam. Sebaiknya kita semua perlu baca tuntas delapan jenis kecerdasan paparan Howard Gardner dan juga gaya belajar anak yang beda-beda. Terutama untuk anak dengan gangguan pendengaran seperti Moldy, sudah pasti dia mengandalkan gerak fisik dan matanya demi mewakili ketidakhadiran suara. 

Kata Abah Ihsan, kalau anak mau berubah, maka orang tua harus berubah dulu. Jadi udah, setelah belajar sana sini soal konsep umek dan pengalihannya, saya ikuti aja kemauannya selama tak membahayakan dan tak melanggar norma (yang kami anut). Moldy tak akan lari terlalu jauh jika ngambek, sering melakukan percobaan fisika seperti membuat derek dan membuka pintu dengan tali dari jarak jauh, juga bisa membaca petunjuk berupa gambar, dan dia bisa marah melihat orang lain disakiti (meski tidak dia kenal). Artinya, sebenarnya dia bisa kok memahami penjelasan sebab akibat dan semoga juga paham konsep baik buruk ☺

Saya coba menerapkan pengalihan atas energi lebihnya. Pengalihan umek versi saya, ringkasnya begini:

👦 Saya harus tahu apa yang sangat dia sukai dan harus cepat memperkirakan bagian mana dari suatu tempat baru yang pasti akan dia datangi.

👦 Jika dia menghilang dan membuat saya panik, saat ketemu saya jelaskan itu semua sehingga dia tak mengulanginya lagi. Soal menghilang ini harus banyak diantisipasi dan jangan sampai teledor lagi. 

👦 Saya tak akan bepergian ke tempat baru yang luas dan penuh sekat, tanpa suami atau saudara lain sebagai tenaga bantuan ekstra jika daya eksplorasinya sedang bekerja dalam kekuatan turbo. 

👦 Saya menjaga komunikasi yang intens dengannya, menanggapi semua ‘celotehnya’, dan terus mengingatkan bahwa dia tak boleh menjauh, sekaligus menjelaskan apa bahayanya. Meski, untuk medan yang cukup luas, saya lebih memilih mengandalkan mata, tangan, kaki. Fiuh, alhamdulillah, masih punya lengkap itu semua dan berguna dengan baik ☺

👦 Wisata alam jauh lebih bermanfaat daripada wisata mall, meski mungkin luasnya hampir sama. Wisata alam itu menyehatkan, tidak terlalu menguras kantong, dan pastinya butuh sangat banyak energi untuk melakukannya. Ini cocok sekali untuk Moldy 😉

👦 Penjadwalan pergi keluar lebih sering, supaya dia terus beradaptasi. Buat saya juga ya, supaya terbiasa dan lebih paham pola umeknya.

👦 Saya belajar banyak untuk mengatasi panik, dari banyak orang sebenarnya 😉 Seorang ibu pernah memperingatkan saya dengan lembut, ‘jangan kageti anak ketika dia akan melakukan hal yang (kita anggap) bahaya’. Bisa jadi, bahaya itu malah benar terjadi karena kepanikan kita. Semisal saat dia bergaya ala Spiderman dengan alas jatuhnya berupa bebatuan tajam, maka saya datangi dan peringatkan dia hati-hati, saya beritahukan mengapa, supaya dia mikir juga. 

👦 Adaptasi kotor juga yah, hehehe… Kesukaannya bergaya ala tentara yang merayap di bawah kursi saat ada acara seminar atau lainnya. Jika melihat trotoar lebar dan nampak menarik, semisal di depan Suncity, maka dia berguling atau berpose seperti siap difoto. Ngambek juga gitu, meringkuk di tanah bergaya pura-pura pingsan. Biarin aja lah, tetap hati-hati memintanya bangun, bukan dengan panik 😂

👦 Soal hukuman fisik seperti mencubit dan memukul, sebisa mungkin jangan. Saya juga masih belajar menahan 😥 Memang butuh tenaga dan kesabaran ekstra untuk menahan (apalagi kalau ortu sudah terbiasa main tangan), tapi ayolah diusahakan sesedikit mungkin melakukannya. Alasannya: itu sama dengan menghalangi perkembangan daya kreasinya –> aku mau belajar kok dipukuli–> yawes gak mau belajar lagi :?. Alasan lain, dia marah terpendam karena tak ada penjelasan mengapa. Saya tak tega melihat mata anak terluka seolah menuntut penjelasan ‘kenapa sih’, sehabis dipukuli atau dicubit ibunya karena dia umek. Sedihnya, saya sering lihat itu di tempat umum 😥

🙎 Jemi sempat mengusulkan agar saya mengajarkan dia tahu nama, alamat, nomor telpon; serta menempelnya pada baju saat kami bepergian. Saya tidak/belum melakukannya. Sebenarnya saya agak parno sih mengungkap identitas di tempat umum, seperti malah mengundang bahaya. Itu kebijakan masing-masing ortu ya. Untuk anak spesial, pembelajaran kemandirian itu bertahap, tak bisa dipaksakan sama seperti yang normal. Memang, butuh lebih banyak tenaga ortu 🙂

Kalau terpaku pada aturan normalitas yang mengharuskan anak begini begitu, bisa stress beud 😀 Bagaimana dia bisa belajar mencintai dirinya sendiri dan menyayangi ortunya, kalau dipaksakan sama dengan yang lain. Jika sudah menunjukkan kemajuan di sebuah tantangan kemandirian, maka tantangan harus ditingkatkan dan hati ibu juga mulai dipahat supaya bisa lepas. Meski tetap, doa terus dipanjatkan ☺

Demikian yang bisa dibagi dari pengalaman saya, semoga bermanfaat. Masih terus belajar, supaya bisa lebih baik. Silakan dikoreksi jika ada yang kurang berkenan ☺

Gambar pikiran

Advertisements

4 thoughts on “Pengalihan Umek

  1. Aktif bgd ya Moldy Mbk. Bener deh kata pelatihnya. Dia mmg kuat. Alhmdulillah. La habis latihan pulangnya masih seget main2.
    Semangat selalu ya mbk. Selalu jaga kesehatan byr bs nemenin si umek moldy. 😊

    Like

  2. Aktif banget anaknya mbak. Anak2ku jg suka umek2 gtu tapi saya awasin, selama gk bahaya saya biatrkan, meski kdng suka bikin gemes jg.
    Katanya anak2 yg ky gini emang lbh pinter, cerdas gtu mbak.
    Kita aminin aja ya 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s