Jogjaaa…..

Study tour di masa SMU mengawali kegandrunganku pada kota gudeg ini. Memutuskan untuk segera kuliah di sini, yang segera ditolak mentah oleh orang rumah šŸ˜Æ Mbuh lah, alasannya sangat ajaib, karena pergaulan. Anak bungsu begini, yang ikutan mengatur dari ayah sampai kakak. Baiklah, aku mengalah, daripada tak dapat subsidi biaya hidup šŸ˜‚ Tapi aku tetap mengajukan permohonan untuk kuliah di kota besar. Aku emoh di Malang, kurang menantang. Eaaa, sok banget… Surabaya dah harga mati, meski dari sisi gaya hidup sebenarnya lebih hedon dan lebih patembayan daripada Yogya. Alasan lain, supaya gampang dikunjungi, mengingat Winnie pernah kuliah di Bogor dan itu riweuh banget buat Bapa dan Mamak.

Yogya itu seperti cinta yang tak pernah bisa dimiliki. Paling tidak, dengan tidak lama di sana, aku masih punya harapan untuk selalu melihatnya dari sisi terbaik. Aku bisa kembali sesekali untuk menyesap madu kegandrungan, tanpa harus kecewa dengan sedikit cela yang tersembunyi. Biar saja tak nampak šŸ˜‰

“Janji ya Bubun, ajak aku ke Yogya suatu hari nanti, kita berdua,” pinta Shena, sepulangku dari seminar itu.

Berhubung waktu Jemi untuk bisa liburan berempat sangat tak bersahabat dengan keinginan keluarga, maka aku lebih sering bepergian bertiga atau berdua dengan salah satu Moldy atau Shena. Ke Yogya dengan Moldy. Ke Makassar dengan Shena. Ke Ngawi, ngikutin rombongan Winnie, bersama Moldy dan Shena. Pada jarak pendek dan transportasi yang tak rumit, aku selalu ajak mereka berdua. Jarak jauh, aku masih harus banyak latihan. Meski sudah cukup terkendali, daya eksplorasi Moldy hampir tak pernah usai. Tempat baru seolah menjadi tempat pengisian baterai dalam kondisi fully charged šŸ˜ƒ

Yogyakarta memenuhi kriteria pribadiku soal kehidupan yang tak mau lepas dari sinyal, hahaha, tapi masih mempertahankan nilai keguyuban sebagai makhluk sosial. Kata temanku yang hijrah jadi warga Yogya, banyak cafe gaul yang didirikan atas dasar suka-suka, entah gimana dapat untungnya. Biaya hidup yang murah juga menandai kelanggengan nilai kebersamaan. Aura keraton yang masih kental, menempatkan unggah-ungguh pada porsi yang tepat.

Beberapa tahun lalu, aku sudah hampir memutuskan untuk memenuhi gejolak cinta, dengan menyekolahkan Moldy di sini, di SLB Karnnamanohara. Aku ragu-ragu karena kami harus berpisah dengan Jemi. Kehadiran dan kasih sayang orang tua, mumpung masih lengkap (aku dan Jemi), secara utuh; lebih penting daripada pendidikan dini terbaik sekalipun. Kasih sayang orang tua itu sangat personal, tak bisa didapatkan di sekolah manapun, jangan sampai mencerabut hak anak untuk itu. Okeee, sekolah yang bisa ketemu Bubun dan Yayah setiap hari. Belakangan aku baru tahu sesuatu. Aku iseng mengutak-atik gawainya Jemi, baru awal tahun ini. Gawai kami dalam kondisi bebas ya, satu sama lain, tapi malah aku jarang cek-cek. Saat aku sedang galau jadi tidaknya berangkat ke Yogya bersama anak-anak, diam-diam ia mencari lowongan pekerjaan di Yogya šŸ˜¢ Oh…dan aku baru tahu 2-3 tahun sesudahnya.

Tiap melihat kereta Sancaka atau Pasundan yang lewat dekat sekolahnya Moldy, melantunkan doa dalam hati semoga keinginan Shena untuk bisa ke sana segera terlaksana. Cuma itu, nginep di manaaa… 

šŸ˜‘šŸ˜‘

Gambar Malioboro

Advertisements

3 thoughts on “Jogjaaa…..

  1. Lama gak berkunjung di sini…ternyata ‘cinta’ kita sama2 tertambat di jogja
    Wkwkwkwkwk……selalu ingin dan tak pernah bosan untuk kembali ke sana, uhukk

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s