(sedang berusaha) Tidak Ngopi

Konon, kopi ternikmat tak perlu diberikan bahan tambahan apa-apa, selain air tentunya. Kopi bisa disajikan pula dengan air dingin. Kopi memiliki manfaat untuk meningkatkan konsentrasi, memperlancar peredaran darah, membersihkan usus, menguatkan jantung, dan bacalah sendiri πŸ˜‰

Ada catatan tambahannya ya. Itu berlaku lebih maksimal pada kopi dengan ampas. Kopi instant? Err…



Saya mencoba hampir semua jenis kopi instant, yang tanpa ampas. Indocafe, Gooday, Grande, sampai yang namanya ajaib, namun akhirnya mentok sama Indocafe coffemix. Padahal bubuk kopinya kan cuma seuprit, campuran kimianya yang banyak. Nikmat aja, deg deg ser yang medium, tidak seheboh kopi tubruk atau excelso yang bikin euphoria berlebihan. Kaki dan tangan bisa gemerutukan sendiri, tak bisa dihentikan. Belum lagi keringat dingin yang mengucur deras. Ah ya, jantung saya tak cukup kuat ternyata. Harusnya lengkap sekalian dengan rokok kretek ya, hahaha, lengkap sudah ratjunnya πŸ˜„πŸ˜„

Jadi emak rumahan, kesempatan ngopi instant jadi makin banyak, sehari bisa sampai tiga kali kalau bener-bener judeg. Lambung saya gak kuat. Sering ngopi, repot ngurusi anak-anak, galau karena gak bisa cari duit sendiri (eaa…), sampai kemudian sering lupa makan. Hasilnya, terkapar seharian dengan perut melilit, sakiiit… 😣

Kapok ngopi?

Enggak lah. Lanjut πŸ˜•

Sakitnya berganti pose, menyerang daya tahan tubuh, seperti batuk, pilek, sakit tenggorokan, masuk angin. Dalam kondisi yang nampak sepele itu, makanan terbaik adalah makanan alami atau kukusan/rebusan jika perlu dimasak. Kopi, sudah jelas tak masuk daftar. Manis artifisialnya bisa mengoyak stabilitas lendir di tenggorokan. Grook…

Kapok ngopi?

Enggak, tetep lanjut 😐

Saya pikir, kopi adalah ‘sebuah dewa’. Dia bisa menyajikan ekstase kenikmatan, dinamika kreasi, dan juga dentum bahagia, tanpa harus berurusan dengan pihak berwajib. Hei, candu kopi bukan sebuah kejahatan bukan πŸ˜‰

Saya tahu, bahwa menikmati terlalu banyak kafein bagi seorang wanita juga tak baik. Kabarnya, kopi bisa memperkecil buah dada dan menggerogoti asupan kalsium. Padahal wanita sudah kehilangan banyak nutrisi saat menstruasi, hamil, melahirkan, menyusui, bahkan dengan pekerjaan rumah yang tak pernah berhenti. Sepertinya pekerjaan rumah itu semacam olahraga, padahal bukan. Kita tidak rileks saat mbabu, tapi mikir, mana dulu yang mesti dikerjain πŸ˜‚ Kadang jadi frustasi menghadapi kenyataan bahwa pekerjaan rumah itu seperti membersihkan koruptor di negara berkembang. Makin diselesaikan, makin banyak yang mengantri. Kata sebuah quote parenting, membersihkan rumah saat anak-anak sedang bermain itu seperti sikat gigi sambil makan oreo. Cucoklah, dengan menyelesaikan perkara korupsi 😐

Kapok ngopi?


Enggak, tapi mulai gamang. Hehehe… πŸ˜‘

Di awal tahun 2020, saya akan menginjak usia 40. Duhaiii, ejawantah hidup yang akan mengerucut menjadi sebuah pembentukan kearifan. Menjadi yang baik. Atau menjadi yang tak terlalu baik. Saya mempercayai hakekat kebaikan, kemuliaan seorang manusia sebagai khalifah, namun entah pada usia berapa keanggunannya akan siap menemani 😐

Seorang teman, membeberkan kisah perih hidupnya di media sosial. Sedih, galau, terluka; ada beberapa bagian yang juga saya alami. Huhuhu, wanita dan sejuta rahasianya. Dia kemudian memutuskan untuk memulai gaya hidup sehat. Obat penenang bisa membantu sesaat namun memungkinkan ketergantungan, bahkan tak banyak membantu mengurangi angka bunuh diri. Namun pola konsumsi yang baik dan sesuai kebutuhan tubuh, bisa banyak mempengaruhi kesehatan mental.

Bagi penyandang gangguan stabilitas emosi, kopi mengandung bahaya tak terlihat. Kopi memberikan efek euphoria berlebihan dalam jangka waktu pendek, lalu senyap kemudian. Seperti halnya narkoba ringan, energi berlebih itu sebenarnya ‘hutang’ jatah energi lain, sehingga lemas kemudian. Jika ingin mempertahankannya, teruslah ngopi 😯

Sejak rutin mengaji, kondisi mental saya sangat membaik, lebih stabil dan tak mudah cranky. Meski demikian, rencana dan penjadwalan pola hidup sehat tetap harus dicanangkan.

Setelah sakit tenggorokan yang kesekian kalinya dan indera perasa yang makin genit dengan kualitas, akhirnya saya memutuskan tidak lagi ngopi sebagai konsumsi harian. Saya memilih mengonsumsi banyak buah dan minum air putih, seperti dulu. Tidak sepenuhnya berhenti sih, supaya tak kaget. Ambil jeda waktu dan tidak lagi menyimpan stok. Pengen, harus beli. Kalau beli, harus bawa prajurit kecil dan siap galak dengan permohonan mereka πŸ˜‚

Untuk kesehatan lebih baik, ada pilihan untuk food combining, keto (no carbo no sugar), cfgf (casein free gluten free), atau puasa. Kopi adalah daftar yang dicoret dari semuanya. Kopi bagi fcers digunakan sebagai pembersih usus dalam arti sebenarnya, dimasukkan di selang yang terhubung melalui anus 😯

Saya belum menemukan kopi enak. Iyalaaa, ngumpet aja sekitaran rumah dan sekolah. Belum tahu juga apakah kopi tiwus itu kenyataan atau khayalan. Demi menikmatinya, masih harus saya tambahkan cream, susu, dan gula. 

Ngantuk dan lemas, jadinya istirahat dan minum air hangat. 

Ingin pekerjaan dengan kreasi apik, jadinya olahraga, banyak baca, banyak gaul, banyak latihan. 

Masih ingin ngopi? Hmm, ya, pada sebuah jadwal yang lebih bersahabat dengan ledakan euphoria tak terkira ☺

Menuliskan ini bukan berarti sudah berhasil menjalani, namun sebagai tonggak pengawal niat dan langkah. Bismillah…

Gambar kopi

Tulisan kopi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s