Seni Kehilangan

Bocah penyemir sepatu itu menatap takjub pada sepasang sepatu hitam yang mengkilat. Kaki telanjangnya yang tebal dengan jelaga, nampak sangat kontras berbanding dengan si pemilik sepatu. Adegan berlangsung begitu lambat dan dramatis, saat si pemilik sepatu naik kereta diiringi tatapan tanpa kedip si bocah penyemir. Daaan…sepatu bagus itu tertinggal sebelah, saat kereta mulai melaju meninggalkan stasiun. Si penyemir sepatu berlari mengejar untuk menyampaikan sepatu sebelah namun tetap tak bisa menandingi kecepatan kereta. Si pemilik sepatu menyerah, dia lemparkan sepatu sebelah, gantian dia yang telanjang kaki. Mereka tersenyum, saling memancarkan guratan bahagia dan terima kasih ☺

Sederhana kan, daripada hanya memiliki salah satu dan tak berfungsi, buang saja sekalian agar bermanfaat bagi yang menemukan. 

Punya dua anak kecil, tragedi kehilangan sandal atau sepatu itu jadi santapan harian para emak. Ketiduran di motor sehingga lepas salah satu, main di kali dan hanyut satu, ketinggalan di jalan pas wisata alam, dibuang karena marah, dan sebagainya. Pendek kata, kemarahan berulang dan takdir keraiban barang menuju alam bebas, sungguh tak sebanding 😃

Tas masih baru beli, topi anak-anak yang terbang, juga duit yang lupa tertata rapi di dalam lalu membebaskan diri keluar, dan banyak lagi. Semua pergi tanpa jejak, meski saya telusuri segera. Pencarian yang hampir selalu berakhir sia-sia. Jalanan kita yang unik, semesta sampah begitu luasnya tanpa ada pengakuan dosa, tapi urusan pembersihan kepemilikan, betapa banyak penyita jalanan yang berkelana mendapatkan (yang bukan) haknya.

Tupperware yang konon memiliki garansi seumur hidup, asalkan lolos tes kelayakan, bisa diganti. Ah, saya malas berharap, ribet amat. Kalau udah bocel kucel, taruh aja di mana gitu, ntar juga hilang dengan sendirinya 😁 Seringnya sih dihilangkan atau dilupakan anak dan atau ayahnya. Eh, tikus pun doyan makan tupperware lhoo…

Kejemnya, saat barang hilang orang dengan mudahnya bilang, kurang sedekah lu. Hidup kok dihitung kayak buwuhan, bakalan dibalas (oleh yang bersangkutan) seperti yang dikeluarkan. Berarti kalau kita ngasi pengemis dan anak yatim, kita ikutan nunggu gitu ya, kapan dia balas sedekah kita 😦

Dalam beberapa minggu ini, saya kehilangan puluhan draft yang saya tulis selama berbulan-bulan sampai menemukan data dan solusi yang sesuai. Mereka akhirnya pergi dimangsa digital janitor. Sedih, mewek, itu nulisnya berbulan-bulan, trus hilang begitu saja. Tak berselang lama, plafon ruang tamu akhirnya ambruk, setelah beberapa waktu bisa menahan retak. Tak ada korban jiwa, alhamdulillah. Tapi beberapa barang jadi ikutan rusak dan memang harus direlakan pergi 😕

Kehilangan apapun, jadinya salah satu pengingat bahwa yang kita punya udah kebanyakan, waktunya ganti. Kalau dibilang karena kurang sedekah, lalu berapa banyak sedekah yang diperlukan supaya kita tak pernah kehilangan sama sekali??

Kehilangan juga berarti kita ini bukanlah pemiliknya yang abadi, ada yang lain yang lebih berhak, bahkan mungkin dengan cara terculas sekalipun. 

Dan kabarnya, cuma orang kaya yang kehilangan, dan mereka tidak panik. 

Begitu? 😉

Gambar sepatu sebelah

Gambar sedih

Advertisements

2 thoughts on “Seni Kehilangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s