Tiga Pilihan

Tunarungu atau tuli, adalah salah satu kebutuhan khusus yang bisa disamarkan. Selama dia diam, tak kelihatan alat bantunya, dan juga tak berdampingan dengan kebutuhan khusus lain, seorang tuli nampak seperti seseorang yang normal. Pilihan penanganannya lebih bervariasi, dengan tingkat keberhasilan hampir mendekati normal. Sayangnya, pilihan penanganan seringkali dihubungkan dengan kemampuan material. Tidak sesederhana itu yaa 😐 Kerja keras tak bisa disepadankan dengan sejumlah uang berapapun…

Banyak sekali kisah implant, yang didanai dari bantuan sosial yayasan, utang, BPJS, dan yang paling diterima nalar masyarakat adalah, pendanaan dari asset orang tua yang melimpah ruah. Catat ya, implant bukan selalu berarti orang tuanya kaya, tapi yang mengusahakan pilihan maksimal (disertai kemampuan yang menunjang) demi kenormalan buah hatinya ☺

Dengan tingkat keberhasilan hampir mendekati sempurna, sebagian orang tua kemudian menggantungkan sepenuhnya pada ‘kesaktian alat’. Semakin mahal harga sebuah pilihan, pun semakin rumit perawatan dan perjalanannya menuju ‘sempurna’. 

Mengutip dari bukunya Gwen, penelitian menyatakan ada sekitar 25% prosentase kegagalan implant. Kegagalan bisa terjadi karena disinkronisasi antara alat dengan kondisi tubuh yang berhubungan, tak ada kelanjutan terapi dan atau penanganan yang tepat. Mereka yang implant pun memiliki beban moral tersendiri, ketika kemajuan anaknya dalam tahap awal malah tertinggal dibandingkan yang memakai alat bantu atau tidak sama sekali. 

Baca: Aku Bisa Dengar Aku Bisa Bicara

Hargailah mereka yang memilih implant, menggunakan alat bantu, atau bahkan memilih berbudaya tuli. Pun yang memilih menutup diri, bukan untuk dihina dikatakan tak berjuang, karena kekuatan mental dan pengetahuan tiap orang tak bisa dipaksakan sama. Salah satu penyebabnya adalah, budaya masyarakat yang belum memberikan ruang setara bagi mereka. Bagi saya atau anda yang memiliki anak spesial, itu menjadi sebuah tugas moral kita. Paling tidak mendorongnya untuk bersekolah, agar wawasan si anak bertambah. SLB negeri kan pembayarannya ringan bahkan gratis. Kalau tetap tak mau, doakan saja semoga dia bisa terbuka suatu hari nanti ☺

Beginilah indahnya hidup di Indonesia, pilihan apapun selalu memiliki bagian ece-able 😁 Padahal yang ngece juga sama belum berhasilnya, masih sama berjuang. 

Kalau dianggap punya uang melimpah —> Ih pelit, kenapa anaknya gak diimplant aja.

Kalau implant —> Kok gak menghargai ciptaan Allah ya, masih kecil dibor begitu. Mbok ya nerima aja, takdirnya.

Kalau pakai alat bantu apa adanya —> Itu yang murahan ya, mana nyampe. 

Kalau pakai alat bantu mahal —> Cieee, kaya. Tapi kok masih ngantri alat gratisan.

Kalau pakai alat bantu tapi gak terapi —> Kok gak terapi? Gak mau anaknya maju? Emang bisa pinter darimana? Sekolah aja cukup?

Kalau gak pakai alat bantu, gak terapi —> Lho, niat gak sih bikin anak sukses, kok menyerah pasrah gitu.

Kalau diam saja di rumah —> Gitu aja, gak mau berjuang?

Setidaknya, itu sebuah bentuk perhatian ya, dengan cara yang mbencekno 😉

Beberapa waktu lalu, seorang teman dari luar pulau menghubungi saya untuk curhat tentang alat bantunya yang mahal dan ternyata si anak belum juga merespon, malah dia mesti bolak-balik Kalimantan-Surabaya untuk rekam otak, servis alat, terapi sesaat; yang kesemuanya bukan lagi 1-2 juta, tapi lebiiih…

Saya ikut kecewa sebenarnya, kasihan. Orang tua seringkali disodori pilihan untuk beli alat, yang mahal, dengan ancaman nanti hasilnya anak tak akan bisa maksimal jika harga alat ecek-ecek. Orang tua kan berhak tahu apa dan bagaimana kerja alat, apa yang mesti dilakukan jika anak tak merespon, mengapa terapi tak bisa sekali dua kali, dan yang terpenting, diajak merumuskan rencana terpadu —> anak mau diarahkan kemana. Dengan harga alat semahal itu, semestinya ada pelayanan purna jual yang bersahabat, apalagi bagi orang awam yang ‘buta’ sama sekali soal tuli dan penanganannya. 

Alat bantu dengar maupun implant bukan sesuatu yang sakti ya. Untuk bisa mendekati normal, tetap dibutuhkan kerja keras yang konsisten tanpa henti. Sedihnya lagi, kebutuhan khusus adalah sebuah ceruk kapitalis yang sangat menjanjikan. Mengandalkan tenaga marketing yang handal, berbekalkan ilmu pengetahuan dan penelitian yang handal, serta bukti (anak tuli hampir normal) yang sempurna. Orang tua kemudian dihadapkan pada pilihan terbatas (sekaligus ancaman): harus memakai alat mahal atau anak tidak bisa maju sama sekali 😯

Bagaimana dengan suara hati si anak? Apakah sempat kita dengarkan dan pahami apa maunya dan pilihan mana yang bikin dia merasa paling nyaman? 

‘Mereka tak tahu, semua kan terserah apa kata dan tindakan orang tuanya.’

Kalau sudah bicara soal pilihan anak, nanti bisa melebar ke pola asuh, sistem pendidikan nasional, mental inlander, karakter budaya dan kepribadian masyarakat secara umum, dan sebagainya.

Saya tak mengambil dan tak terpikirkan untuk implant, selain karena tak ada duit juga karena saya takut ‘merusak’ ciptaan Allah yang sudah sempurna. Namun jika saya memiliki uang, belum tentu juga saya akan memikirkan alasan yang sama. Kepanikan seringkali berbanding lurus dengan jumlah sumber daya yang anda miliki 😉 Semakin kaya, semakin mudah panik. Semakin miskin, semakin cuek. Anomali di antaranya adalah, yang memiliki ilmu, lumayan tahu bagaimana mengendalikan ada atau tiadanya materi. 

Saat saya semangat berapi-api demi kemajuan Moldy (dengan alat bantu dan terapi wicara), dia selalu berontak dengan cara apapun. Kini saat saya pasrah, memilih mengalir, dia malah menampakkan banyak kemajuan dan inisiatif untuk berusaha bicara lebih banyak. 

Terus terang, saya merasa lebih nyaman saat bertemu dengan mereka yang memilih tuli, yang berusaha bicara terbata-bata atau memakai penerjemah. Saya merasa lebih setara, tanpa harus didera rasa kuatir akan kompetisi, tentang sampai di mana kemajuan dengar dan wicara anak kita. 

Janganlah pilihan penanganan itu menjadi alat ukur, tentang orang tua mana yang paling ‘optimal dan total’ mengusahakan kemajuan anaknya. Ukuran optimalisasi usaha bukanlah satu-satunya patokan mutlak akan keberhasilan anak. Sinergi, kolaborasi, saling menghargai; sebagai usaha menuju kesetaraan masyarakat yang berkebutuhan khusus. 

Mengutip makna dari Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi tetap satu jua. Beda penanganan, sama perjuangan demi kesetaraan.

☺☺

Gambar implant

Gambar alat bantu dengar

Gambar bahasa isyarat

Advertisements

3 thoughts on “Tiga Pilihan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s