Tuli: Sebuah Identitas

Tuli, dengan huruf T kapital seperti halnya menulis nama, adalah sebuah identitas yang dipilih oleh para penyandang gangguan dengar. Mereka memilih berkomunikasi dengan bahasa isyarat, yaitu Bisindo. Sementara yang digunakan secara formal adalah SIBI. Apa perbedaannya?

Berikut informasi yang bisa saya rangkumkan mengenai gambaran komunitas para Tuli, yang sedang memperjuangkan legalitas Bisindo. Materi saya tuliskan sesuai dengan nama pembicaranya ya. 

Iies Arum
Seorang ibu dengan satu putra dan dua putri. Kisah bu Iies sudah saya baca sebelumnya di blog azizaku.com. Putra pertamanya menyandang tuli dan saat ini kelas 5 di sebuah SLB di Yogyakarta. Bu Iies berusaha keras agar Udana bisa mendengar dan berbicara, melalui dukungan terapi wicara dan alat bantu dengar. Namun Udana menginginkan yang berbeda.

Dua pernyataan Udana yang sangat menohok adalah:

πŸ‘‰ Jika tunanetra dibolehkan menggunakan huruf braille, mengapa tunarungu tidak dibolehkan menggunakan bahasa isyarat.
πŸ‘‰ Aku tak mau memakai alat bantu dengar. Biarlah aku tuli, supaya nanti (di akhirat) pendengaranku tidak dihisab 😒

Demi anaknya, bu Iies akhirnya menyempatkan waktu untuk belajar bahasa isyarat. Udana mencapai banyak kemajuan dan kepercayaan diri dengan itu, bahkan dia ikut mengajari ibu dan adik-adiknya. Ketika pergi ke dokter, Udana menuliskan bahwa dia tuli dan sekaligus menawarkan apakah bu dokter berkenan belajar bahasa isyarat juga 😁

Alhamdulillah, dapat kesempatan ngobrol sebentar dengan bu Iies dan bisa bertanya mengenai gambaran apa itu Bisindo.

“Logat, Bu,” jelasnya.

“Makanya saya kalau habis ketemuan dengan anak Tuli dari berbagai daerah, bahasa isyarat saya kacau. Saya tak sadar, Udana yang mengingatkan. Tiap Tuli memiliki logat daerahnya masing-masing,” ceritanya. 

Phieter Angdika
Phieter adalah aktivis tuli. Saat ini dia menempuh pendidikan sastra di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Phieter memaparkan materi mengenai UU no 8 tahun 2016. Materi lengkapnya bisa dibaca di link itu ya. 

Saat sesi tanya jawab mengenai perbedaan antara SIBI dan Bisindo, seorang peserta mengusulkan agar sebaiknya SIBI dihilangkan saja. Phieter menjawab, sebaiknya jangan terpikirkan untuk menghilangkan tapi perjuangkan saja Bisindo. Jangan marah-marah jika mendapatkan diskriminasi, sampaikan baik-baik dengan semisal menunjukkan bukti jaminan kesetaraan berupa undang-undang tersebut atau sosialisasi melalui video. 

Laura Lesmana
Putri dari drg Juniati, yang ayah ibunya juga tuli. Laura menjelaskan mengenai perbedaan SIBI dan Bisindo, serta mengapa struktur bahasa anak tuli beda dengan struktur baku dalam SIBI. Untuk anak tuli, isyaratnya diartikan –> saya anggur makan, sementara semestinya yang baku adalah saya makan anggur. Padahal menurut (pemahaman) mereka artinya sama.

Kata lain, semisal pengangguran. Dalam Bisindo, pengangguran diisyaratkan dengan satu gerakan. Dalam SIBI, pengangguran dipecah menjadi peng-anggur-an, menjadi tiga gerakan, sesuai bahasa baku formal bahasa Indonesia.

Kaum Tuli memiliki struktur pemahaman bahasa yang berbeda dengan bahasa baku. Jadi jika mereka menulis dengan struktur amburadul, itulah yang sebenarnya mereka pahami. Semisal lagi, yang saya alami dalam suatu chat, seorang Tuli menuliskan, ‘Kalau ibu sudah kesempatan, kabari ya’. Maksudnya, kalau ibu sudah sempat, kabari ya.
Laura lahir dalam budaya Tuli. Meski saudaranya agak bisa mendengar, mereka sekeluarga menggunakan bahasa isyarat untuk berkomunikasi. Itu tak menghalanginya untuk menempuh pendidikan tinggi. Laura menempuh pendidikan dasar di sekolah reguler dan saat ini sedang menyelesaikan kuliah linguistik di Hongkong, serta menyusun kamus Bisindo dari berbagai daerah di Indonesia. 

Fikri Muhandis
Fikri, seorang aktivis tuli, menyampaikan mengenai perbedaan Tuli dan tunarungu. Menurut slide yang diberikan:

🌞 Tuli yang ditulis dengan T besar merupakan kelompok budaya minoritas yang menggunakan bahasa isyarat, merasa bangga dan positif dengan kondisinya.

🌞 Perbedaan perspektif Tuli antara medis dan sosial budaya:
Medis
πŸ“£ Orang tuli memiliki masalah pendengaran yang perlu diubah melalui alat bantu dengar dan implant.
πŸ“£ Mereka diharuskan belajar untuk menjadi seperti orang dengar (bicara, baca, mendengar)
πŸ“£ Bahasa isyarat bisa merusak kemampuan bicara.
πŸ“£ Mereka berintelektual rendah karena kemampuannya terbatas.

Sosial budaya
✌ Orang dengar dan Tuli perlu memahami bahasa masing-masing.
✌ Orang Tuli baik-baik saja (meski semisal ada yang tak sanggup bicara secara oral), mereka bisa berkomunikasi dengan bahasa isyarat.
✌ Bahasa isyarat tidak masuk kemampuan bicara. Ada banyak Tuli yang mahir menggunakan isyarat maupun oral, bersamaan.
✌ Tak ada perbedaan intelektual antara Tuli dan dengar, selama informasi bisa diakses dengan cara yang menyesuaikan dengan kemampuan komunikasi mereka. 

Penutup
Saya mulai bisa mengerti mengapa anak dengan gangguan dengar mengalami kesulitan belajar bahasa dalam struktur formal. Jika tak bermasalah dengan kebutuhan lainnya, mata anak Tuli memiliki fungsi ganda untuk ‘mendengar’ dan melihat. ‘Mendengar’ lebih kepada mempersepsi ya, kemudian disampaikan kepada otak untuk dianalisa. 

Dengan berbahasa isyarat, akses kaum Tuli menjadi lebih luas dan bisa mendongkrak percaya diri mereka. Mereka bebas menjadi apa yang mereka mau, tanpa harus dipaksakan menyesuaikan seperti orang normal.

Membaca gerak bibir yang bisa dipakai sebagai alternatif tengah antara Tuli dan tunarungu, selain cukup susah, juga memiliki kelemahan pada beberapa kata/huruf yang terucap hampir sama. Semisal pengucapan huruf ‘i’ dan ‘e’, terlihat sama jika tak terdengar. Studi pun menunjukkan bahwa hanya sekitar 30-45% informasi yang bisa diserap dengan metode ini.

Ada yang berpendapat bahwa kemampuan anak tergantung pada mindset orang tua dalam mengajari anaknya. Kisah bu Iies dan Udana menjadi contoh bahwa karakter anak pun bisa turut ambil bagian dalam menentukan pilihan, apakah dia nantinya memilih mendengar dan bicara, melihat dan berisyarat, atau gabungan di antaranya.

Bagaimana dengan pilihan anda? πŸ˜‰

Gambar SIBI

Gambar Bisindo

Gambar lips reading

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s