Shena, The Shadow

“Kapan sih kakak bisa ngomong? Biar aku gak malu sama teman-temanku,” protes Shena, lagi, ketika kami menjemputnya pulang sekolah.

πŸ˜‘πŸ˜‘

Saya sedang belajar diam, mencoba membiarkan dia menyimpulkan sendiri. Soal sakit hati atau sedih sih, inshaallah tidak. Tidak banyak maksudnya, hahaha…

Beberapa waktu lalu, seorang teman share video tentang saudara si ustadz yang down syndrome. Ibunya sangat telaten, si kakak diajak pergi kemanapun tanpa merasa malu. Ibunya berpendapat bahwa kakaknya itu tak punya dosa. Ibunya bahkan membiarkan adiknya menjauh dari mereka jika merasa malu dengan kondisi si kakak 😒

Shena masih cukup belia untuk bisa mengerti dan sabar, saya tak berusaha memaksanya lagi, seperti dulu. Sudahlah, biarkan waktu yang akan memutuskannya.

“Doain dong,” tukas saya kemudian.

“Sudaaah, tapi kenapa belum juga,” keluhnya.

Lucu dan bijak, hmmm, nuansa yang unik πŸ˜‰.

Kadang, gantian Shena yang dikasihani orang lain, karena posisinya sebagai adik yang harus mengawasi kakaknya. Bukankah kondisi umum lebih menerima sebaliknya, bahwa kakak melindungi adik πŸ˜•

“Bu, aku terharu lihat Shena. Tadi dia udah mau lari ikutan teman-temannya, lalu balik lagi ke masjid,” cerita seorang ibu.

“Kenapa?”

“Moldy lagi gangguin sapi kurban, sama Shena diingatin biar menjauh. Kasihan ya, dia kan adiknya,” lanjutnya.

“Memang tadi kuminta mengawasi, soalnya aku bikinin jajan buat dibawa anak-anak takbir keliling. Syukurlah, dia tahu tugasnya,” kata saya.


Pengennya sih, saya bisa seadil mungkin sama anak-anak, terlepas dari posisi mereka sebagai sulung-bungsu, spesial-normal, laki-perempuan. Yang kasihan, terima kasih atas perhatiannya. Yang menyetujui, terima kasih atas kesempatannya ☺

“Aku jengkel, si Nonik marah-marah sama kakak. Bla…bla…bla…” dia menjelaskan mengenai kejadian saat mereka berenang.

“Lalu?”

“Lha dia nyuekin aku kalau kuingetin. Besok kalau marah lagi sama kakak, dia bakal kumarahi balik, kukasi tahu kalau kakak itu tuli, jadi belum banyak paham,” tegasnya berapi-api.

😍😍

“Great, terima kasih yaaa.”

Apakah kemudian Moldy terposisikan selalu lemah dan butuh bantuan? Hmm…

Moldy menjemput adiknya dari mengaji, saat hujan deras, inisiatifnya sendiri. Moldy juga yang membela adiknya, dengan balik memarahi saya kalau marah berlebihan pada adiknya. Padahal kalau mereka sendiri bertengkar, sudah sampai cakar-cakaran dan meninggalkan goresan πŸ˜ƒ Moldy menyelimuti adiknya yang tertidur. Jika kami di jalan dan melihat banyak boneka atau mainan, dia ingat bahwa itu semua kesukaan Shena.

Jika beli jajan, saya minta Shena mendampingi. Kalau kenal dengan penjualnya, Moldy berangkat sendiri. Pernah saya suruh berangkat sendiri, kembali dengan gontai, dan saya melihat tatapan aneh beberapa orang yang mengatainya sambil bisik-bisik. Sebenarnya saya mendengar, tapi tak membalas, cukup menatapnya dengan tajam tiap kali bertemu. Hahaha, saya tak bisa ngata-ngatain orang, miris dengernya sendiri. Jujur saya sakit hati juga lho, tapi emoh ah nurunin level kecerdasan dengan mengumpat atau marah balik πŸ˜ƒ


“Ada yang perlu diulang di rumah pak, biar Moldy lebih paham latihan berenangnya?” Tanya saya pada si pelatih renang.

“Oh, ndak bu. Saya bisa nanya sama Shena,” jawabnya.

Hehehe, Shena lagi πŸ˜ƒ

Saat terjadi baku hantam antara saya dan Moldy pun, Shena juga yang jadi wasit. Dia berani lho mukulin kakaknya kalau menurutnya, saya terpojok. Saya mengusahakan tidak membalas pukulan apapun dari anak-anak, kecuali jika sudah sangat parah.

“Bubun gapapa? Bubuuun… Bubun jangan mati ya,” tangisnya.

😨😨

Lho ya, saya ini maunya pura-pura mati biar Moldy berhenti marah-marah, jadinya malah gak kuat menahan ketawa. Drama banget ini… πŸ˜„

Sekolah pun Shena dapat giliran kelas lebih tinggi karena kebijakan dari sekolah Moldy, tiga tahun untuk persiapan sekolah dasar. Semua teman di rumah mengejek bahwa dia sudah menjadi kakak. Dia marah, tapi kemudian bangga karena merasa lebih 😁

Berhubungan dengan kebutuhan khusus, bukan lagi siapa kakak, siapa adik. Bersabar menunggu giliran ‘jadi baik’ aja, hehehe… Tak ada kebaikan yang berakhir sia-sia, butuh waktu aja untuk mendapatkan balasan serupa atau bahkan lebih. Butuh waktu juga untuk memahami skenario cantik apa yang sudah dituliskan untuk mereka.

Moldy pun lambat laun akan belajar (semoga) sesuai dengan stimulasi yang diterimanya. Shena tak harus terus menjadi bayangan dan asisten, tapi bantuannya sebagai bagian dari sosialisasi kebutuhan khusus di bagian terkecil dari masyarakat, yaitu ikatan keluarga.

Suatu saat nanti, posisi itu akan menjadi seimbang, bahkan berbalik. Ketika akal dan pengetahuan Moldy sudah mumpuni.
Semoga, amin. ☺

GambarΒ bayangan

Advertisements

6 thoughts on “Shena, The Shadow

  1. Masya Allah Moldy dan Shena πŸ’žπŸ’žπŸ’ž. Baca tentang Moldy jadi ingat anaknya Dewi Yul, Surya Sahetapy, yang punya deretan prestasi. Bahkan sekarang menjadi aktivis kemanusiaan πŸ’žπŸ’žπŸ’ž

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s