Sekilas Catatan Tentang Kebutuhan Khusus

Menuliskan pengalaman saya dalam mengasuh anak spesial, bukan berarti cara saya yang paling benar ya. Selain senang menulis, saya berbagi rasa, barangkali kita bisa berjalan bersama, demi menyadari kenyataan bahwa kesetaraan itu masih jauh di ujung pelangi. 

Kalau baca betapa perhatiannya pemerintah di negara-negara maju kepada penduduknya yang spesial, semakin merasa ngenes. Cuman ya, menyalahkan keadaan dan mengeluh tak serta merta membuat semuanya lebih baik ya. Lha wong Indonesia ini super luas, ribuan pulau, ratusan jenis bahasa daerah, budaya, kepercayaan. Sementara pembangunan belum bisa merata, angka pertambahan jumlah penduduknya merayap ke atas tanpa rehat. Mengatur pemerintahan dan memberantas korupsi di level atas aja susah, apalagi mengatur ratusan juta rakyat yang sangat plural. Jangan melulu ngiri dan sibuk membandingkan dengan sistem pendidikan Finlandia atau Jepang ya. Ingin boleh, kecewa jangan. Itu bukan perbandingan apple to apple. Kondisi negara kita lebih heterogen dan kompleks, rumit.

Pengalaman setiap orang tua itu selalu unik. Adem banget rasanya waktu ada psikolog yang bilang, bahwa dalam pengasuhan tak ada siapa yang paling benar dan siapa yang paling salah. Jika salah, semoga masih ada kesadaran dan kesempatan untuk memperbaiki. Jika benar, janganlah merasa benar sendiri, karena ujian bisa datang sewaktu-waktu tanpa permisi. Pengasuhan adalah usaha

Nyari ilmu ke sana-sini, sampai kadang terdampar di tempat yang ‘lho kok ternyata anakku paling kecil, ibunya kok paling panik dan ngoyo gini’. Kadang juga bingung mesti nangis atau marah, saat ada seorang ibu di angkot menuduh saya tidak ngopeni anak saya dengan bener sampai gak bisa bicara begitu. Sementara si ibu mencecar saya dengan sejumlah bukti dan tuduhan versinya, penumpang lain memandang saya bukan dengan iba, tapi butuh klarifikasi.

Level kespesialan anak saya masih bisa terlihat ‘normal’ ya, secara fisik. Jelas cuma seujung jari ‘deritanya’ jika dibandingkan anak spesial lain yang secara fisik dan perilaku langsung kelihatan. Masyarakat kita yang pluralnya maksimal, tapi cara menyikapi perbedaan masih minimal. Dilihatin dari ujung rambut sampai ujung kaki, bisik-bisik tak jelas, mengerubungi seolah melihat alien, melontarkan kata-kata tak pantas, atau menjauh dengan berbagai stigma negatif yang tak mau dibenarkan. Saya tak heran, jika banyak ibu memilih mengurung anaknya, menjauhkannya dari lingkungan, daripada sakit hati berkepanjangan. Jikapun memilih untuk keluar demi sekolah atau keperluan lain, nampaklah wajah-wajah tegang yang kuatir terjadi apa-apa padanya dan anaknya. I feel you, Bu 😢

Baca: Herd Knowlegeability

Tahukah anda, kebutuhan khusus bukan penyakit, jangan kuatir, tak akan menulari anak lain yang normal. Menulari semangatnya berjuang boleh kan ya? Kebutuhan seperti ADHD dan autis, kabarnya bisa disembuhkan, menyesuaikan dengan tingkat kesulitan dan rangkaian terapi bagi si penyandang. 
Kebutuhan khusus bisa menurun, tapi rumus pastinya tak ada yang tahu. Orang tua normal bisa menghasilkan anak tuli. Dua orang tua tuli bisa menghasilkan anak tuli ataupun completely normal, wallahualam.

Baca: Kok Bisa Jadi Tuna Rungu 

Saya memahami kebutuhan khusus dengan konsep alokasi. Sebenarnya jatah fisik setiap manusia kurang lebih sama, mereka dihasilkan dari pertemuan sel milik pria dan milik wanita. Artinya, jika matanya tak mampu, maka kebutuhan kemampuan mata akan diambil alih oleh telinga. Jika telinga tak mampu, maka mata yang ambil alih. Jika mata dan telinga tak mampu maka akan dialihkan ke kulit, semisal Helen Keller. Bahkan jika semua bagian fisik tak mampu, masih ada sang jendral, yaitu otak yang bekerja keras menggantikan semua fungsi anggota gerak, semisal Stephen Hawking. 

Jauh di lubuk hati, mereka yang dilahirkan dengan alokasi yang nampaknya tak seimbang secara kasat mata, pun ingin kesetaraan, seperti halnya yang normal. Menghirup udara segar dan bebas bermain di mana saja, tanpa harus dibebani prasangka dan ketakutan akan keunikan yang mereka sandang. Menikmati beraneka fasilitas dan kesempatan seperti halnya mereka yang terkondisi normal. 

Menjadi spesial bukan selalu dari bawaan lahir, bisa juga dari kecelakaan. Antara lain tunadaksa, tunanetra, dan tunarungu. Musik klasik yang diklaim bisa mencerdaskan bayi dalam kandungan, antara lain digubah oleh seorang tunarungu dewasa, Beethoven. Telinganya tak berfungsi sempurna karena banyak mengonsumsi obat-obatan. Bahkan menurut para ahli, musik yang dia hasilkan mencapai puncak kualitasnya justru saat dia tuli. 

Sebenarnya, semua orang memiliki potensi untuk menjadi berkebutuhan khusus, dengan prosentase yang berbeda. Bahkan seseorang yang nampak normal namun memiliki masa lalu yang kelam, sehingga kestabilan emosi dan jiwanya terganggu, pun bisa terkategorikan sebagai kebutuhan khusus. Semisal bipolar dan schizoprenia.

UU no 8 tahun 2016, menjadi payung hukum kesetaraan bagi para penyandang kebutuhan khusus. Mereka boleh berkarya di berbagai bidang yang mereka ingini, tanpa harus terhambat masalah komunikasi dan fasilitas. Well, semoga sesuai dengan realita ya, amin. Selamat berkarya…

☺☺

Advertisements

2 thoughts on “Sekilas Catatan Tentang Kebutuhan Khusus

  1. Saya punya satu anak spesial, Mbak … speech delay karena pernah cerebral palsy. Perjalanan berliku hingga dia terlihat “normal” sekarang. Usianya 8 tahun tapi secara mental masih kayak anak usia 4-5 tahun. Dalam hal lain, ada kemajuan dia dibanding anak2 sebayanya tapi ya itu, kespesialan dia kadang dipandang aneh oleh sebagian orang.

    Semoga ke depannya semakin banyak yang paham, apalagi sudah banyak yang mengulas seperti ini di blog ya Mbak.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s