Paranoia Medsos

Sebuah Honda Oddysey menepi tepat di depan jalan masuk ke Kantor Pajak cabang Lawang. Saya menoleh risih karena dia hampir menyasak area saya menunggu bis. Kacanya gelap sehingga tak kelihatan seperti apa makhluk yang ada di dalam. Tentunya bukan alien ya 😄

Kaca pintu belakang dibuka separuh. Selintas bayangan, seorang wanita dengan sasakan ala ibu pejabat. Dengan begitu elegan dan sangat berkelas, dia berkumur, sampai terdengar suara air yang bergejolak. Kemudian dia menyemburkannya dari dalam mobil ke luar, melompati kaca, tanpa membuka pintu sama sekali.

Saya mengelus gawai dalam tas, siap bergerak seperti koboi yang menarik pelatuk pistol. Atas nama pertanggungjawaban moral, saya urungkan niat 😐 Eh, apa dengan cerita begini, termasuk mempermalukannya? 😶

Alih-alih, saya memandang tajam dengan sengaja ke arah si Oddysey, demi menyampaikan pesan, punya malu gak siiih…😳

Masih belum cukup menguarkan pancaran kemapanan nan elegan, dilemparkannya botol mineral yang tinggal separuh itu sembarangan. Duh, berasa mau benar-benar mengabadikannya 😤 Potongan bungkus permen aja saya buang ke dalam tas, lha ini botol segede setengah liter dibuang sembarangan. Kasihan, mobil seharga ratusan juta tak punya tempat sampah puluhan ribu saja.

😡😡

Cemen sayah, gak berani negur langsung. Setidaknya juga memutuskan tidak memosting foto dan identitasnya di medsos 😛

Baca: Sampah dan Kita

Suatu saat, janjian dengan beberapa teman yang menjemput barengan ojol. Saya menyeberangi rel, lalu selokan, menuju Jatim Expo, tempat pemberhentian ojol. Melihat selokan yang agak lebar, saya mulai pasang kuda-kuda siap melompat, supaya tak perlu berputar lebih jauh. Tetiba teringat para sniper kamera yang terselip di mana-mana. Takut mendadak seleb 😛, saya memilih berjalan memutar, agak jauh. Itupun masih belum bebas nilai.

“Kamu dari jauh kelihatan kayak orang mau bunuh diri, jalan gak jelas di sepanjang rel kereta,” kata seorang teman yang menjemput saya.

Alhamdulillah, tak ada foto tanpa ijin terjadi.

😄😄

Seorang teman mentag saya, menanyakan soal si bapak sepuh yang rumahnya kardus dan nampak tak terawat. Ada yang memotretnya tanpa kroscek, lalu diunggah di fesbuk, menggambarkan betapa merananya si bapak sepuh ini. Beberapa tahun sebelumnya, saya pernah menuliskan kisah si bapak dan istrinya (yang saat ini sudah meninggal) di blog lama. Kisah itu kemudian saya sampaikan sebagai kroscek.

Baca: Si Mbah

Kalau mau dan sempat, banyak lho kejadian di jalan yang bisa diunggah ke medsos. Berhubung di jalan saya juga sibuk memastikan keselamatan anak-anak, maka saya seringkali ketinggalan banyak momen itu. Semisal: orang kecelakaan tanpa tanda pengenal (kecuali kita wartawan), sopir angkot yang melindas motor yang kecelakaan, orang gila yang melarikan diri, bocah SD yang sekolahnya jauh dan menumpang di rumah saudara, sirkus topeng monyet, emak murka sama balitanya, wanita kesasar yang tak tahu arah, banyaaak… 😇😈 Tapiii, pengambilan momentum ini tak selalu kita tahu asal muasal kejadiannya kaaan…

Baca: Cerita Pejalan Kaki

Sementara medsos begitu riuh dengan skrinsyut chat pertikaian, unggahan foto aib orang lain tanpa ijin, serta analisa sepihak tanpa data dan fakta berimbang, dunia nyata begitu senyap. Banyak orang memilih bertafakur di depan layar datarnya, ambil foto sana sini lalu unggah, namun abai pada kejadian yang malah membutuhkan pertolongan atau penanganan nyata.

Baca: Di Balik Kisah Inspiratif

Saya tak siap dengan perubahan? 😨

Mungkin demikian…

Jadi?

Krik…krik…krik…

Gambar dari pixabay

Advertisements

2 thoughts on “Paranoia Medsos

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s