Kue Bantat Pengasuhan

Latest issues
“Kita jadi ortu yang mesti berperang dengan kejahatan digital, dengan konten bebas tak berbatas. Aku gak tahu gimana lagi cara mengontrol anak-anak agar tak banyak teracuni,” cerita Winnie, memulai obrolan tentang gawai dan pengasuhan.

“Berat ya jadi ortu jaman now,” tukas saya.

“Akan lebih berat lagi beban anak-anak ini, yang dibesarkan di era digital. Mereka juga jadi orang tua nantinya. Mereka akan menemui tantangan seperti apalagi…”

๐Ÿ˜ฏ๐Ÿ˜ฏ

Tak sanggup lagi berandai. Kalau memang sesuai firasat dan perkiraan, rasanya kok ini sudah sampai di tahap ultima teknologi. Entah nanti kita akan mencapai masa kendaraan pribadi yang terbang membelah langit atau malah meluncur anti klimaks dan kembali berpacu menunggang kuda, wallahualam ๐Ÿ˜‰

Sementara itu, seorang teman membuka obrolan tentang beberapa negara yang mulai menggodok pengesahan marriage equality ๐Ÿ˜จ Penentang egalitas kaum pelangi, tak hanya dari sisi agama lho. Ada sejumlah argumen sahih dari sisi kesehatan dan psikologi. Meski, tetep, ada pembelaan yang tak kalah logis yang menentangnya. Sayangnya lagi, para penganut aliran ‘anti norma’ adalah pemilik saham yang cukup besar di pelbagai aspek, dan juga pangsa pasar yang sangat potensial dengan kondisi keminoritasan mereka. Ah mbuh, hindarkan dulu kemumetan sepihak ๐Ÿ˜‘

Yang dibingungkan itu, gimana nanti jelasin ke anak tentang persamaan dan pertidaksamaan dalam ikatan pernikahan. Jangankan yang homo, yang hetero aja bisa bikin keder menjelaskannya.

Ada video parenting, yang mengisahkan wawancara antara anak yang belum genap berusia sepuluh tahun dengan orang tua masing-masing. Para ortu menjelaskan darimana asal anak, apa adanya –> penetrasi dan ovulasi. Reaksinya, banyak anak yang merasa jijik dan tak mau mendengar kelanjutannya ๐Ÿ˜‚ Ada pula yang polos mengakui bahwa kakaknya sudah menunjukkan banyak hal semacam itu (film biru) ๐Ÿ˜จ

Pola Asuh Copas
Di satu WA grup, sempat ramai membahas seorang ummahat lulusan perguruan tinggi negeri yang membunuh tiga anaknya. Dalihnya, dia takut mengcopas pola asuh ortu yang tak disepakatinya dan supaya anaknya langsung masuk surga karena tak punya dosa ๐Ÿ˜ข

Disadari atau tidak, selalu ada pola asuh ortu yang kita copas ke anak-anak. Suka atau tidak, sepertinya udah default. Istilah kerennyaย inner-child. Pas baik, tak masalah. Kalau nemu yang anomali, gimana? ๐Ÿ˜ Elly Risman mengingatkan, bahwa pengasuhan harus dilakukan terencana dan sadar, supaya jangan sampai mengulang kesalahan yang sama dilakukan oleh orang tua kepada kita. Bisakah?

“Aku ini gak pengen mendidik anakku kayak gitu. Tapi aku refleks meniru gaya ortuku. Padahal aku gak suka cara itu,” cerita seorang teman.

Saya termangu, mengingat-ingat hal yang sama. Saya melawan dengan sadar untuk tidak mengcopas beberapa pola dari Mamak dan Bapa, meski bisa melakukannya begitu saja tanpa rencana, seolah sudah terpola. Begitu terjadi, nyesel. Kok melakoni yang tak kusukai yaa…

Kemudian saya puk puk diri lagi, no perfect parenting. Work harder, aim firmer ๐Ÿ˜‰

Apakah masalah kemudian selesai dengan menyalahkan orang tua yang memiliki pola yang tak kita sepakati, yang barangkali berperan membentuk bagian buruk kita hari ini? ๐Ÿ˜Ÿ

Kadang saya sudah mau menulis soal Mamak dan Bapa yang bikin saya jengkel, tapi belum sampai edit, saya udah hapus. Saya gak tega. Ingat Mamak yang cuma sregep masak besar kalau saya pulang ngampus dari Surabaya, duduk galau dengan nasi yang tak habis kalau saya telat pulang sekolah, bahkan sampai hari ini kalau saya niat mengeluh, Mamak tetap berusaha memikirkan solusinya. Duh malu, saya kan juga sudah jadi emak ๐Ÿ˜ณ

Bapa mbelani pulang malam menjelang dini hari, di jalan berbarengan dengan masa peredaran para bromocorah, demi pertemuan sesaat dengan anak-anak perempuannya yang sedang menuntut ilmu di luar kota. Bapa juga yang siap baku hantam saat ada yang memojokkan anak-anaknya. Banyaaak, panjaaang, kalau mesti ditulis semua, tak cukup ๐Ÿ˜ข

Terutama dari semua itu, Mamak-Bapa dan juga banyak orang tua di seluruh dunia; telah melewati fluktuasi masa pengasuhan mulai dari bayi, masa sekolah, kuliah, pernikahan, sampai memiliki cucu. Lhaa, menulis urutannya sih mudah, tak sepadan dengan menjalani setiap fase yang bersamaan kondisi uniknya kan. Banyak kebingungan, keputusasaan, kelelahan, kegalauan, kesedihan, kebuntuan, kehampaan, kejenuhan. Orang tua kita melewati semua masa itu selama sekian puluh tahun, sampai gantian kita yang memakai sepatu marathon dan siap berlomba dengan gejolak emosi yang kurang lebih sama, tantangan yang berbeda, makin rumit sepertinya ๐Ÿ˜•

Kesadaran terencana
Dari beberapa paket masalah kekinian yang dihadapi ortu anyaran, hal yang tersulit barangkali menghindari pola buruk, terutama jika orang tua pernah melakukan abusement yang sudah tak bisa ditoleransi lagi, alias masuk ranah kriminal. Bukan sekadar mencubit atau memukul saja, tapi menganiaya. Membanting, melukai hingga lebam bahkan berdarah, menendang, menyetrum, menghina verbal, menuntut di luar batas kemampuan anak, bahkan juga melakukan penetrasi haram ๐Ÿ˜ข

Saya bersimpati bagi yang mengalaminya, karena melewati masa itu pasti tak mudah. Melupakan dan berusaha untuk tidak merepetisinya pun, juga tak segampang melontarkan nasehat terbaik dari kitab suci atau motivator manapun. Proses, yang diterima dengan sadar bahwa itu sudah terjadi dan niat yang kuat untuk bangkit darinya.

Ada tiga cerita acuan yang bisa anda unduh secara publik. Poin utamanya sama, memaafkan.
Pertama, film Diary of a Black Woman, kisah istri ngopeni suami yang dulu selalu menyakitinya. Eh, ini banyak contoh di dunia nyata, tapi poin utamanya bukan pada brengseknya laki-laki, tapi pada caranya menangani rasa sakit ๐Ÿ˜ƒ
Kedua, versi ringannya, novel Hujan-Tere Liye. Gara-gara cemburu dan salah paham, Lail ingin menghilangkan ingatan tentang Soke, pria yang dicintainya. Menghilangkan ingatan itu berarti masih belum menerima ya, catat itu. Menerima dan memaafkan, berarti memori itu masih ada, dan kita menerimanya sebagai bagian dari hidup kita. Forgiven, not forgotten โ˜บ
Ketiga, film Danny The Dog. Si Danny sudah bersiap menarik pelatuk pistol dan menghabisi nyawa Uncle Jo. Dia yang membunuh ibunya dan juga mendidik Danny merasa sebagai anjing. Namun teman perempuannya melarang, “Kalau kamu membunuhnya, kamu tak ada bedanya dengan dia.” ๐Ÿ˜•

Berapa banyak nasehat parenting yang anda lakoni dan mendhal semua? Atau bahkan anda tak mau dinasehati sama sekali? Atau juga betapa semua nasehat parenting terasa menohok dan memojokkan kita pada ruang bersalah yang sesak?

Sejumlah bapak, biasanya, tak bisa mendengar apa yang mereka tak mau dengar ๐Ÿ˜„ย Kalau datang seminar atau talkshow parenting, pembicara atau pembawa acaranya, selalu menyempatkan untuk tepuk tangan tersendiri bagi bapak yang berkenan hadir. Dengan medsos, udah mulai banyak bapak yang memulai ’emansipasi’. Ayah ASI, ayah peduli kebutuhan khusus, ayah rumah tangga. Alhamdulillah…

Wahai para bapak, pengasuhan itu kerjasama lho yaa, bukan tugas ibu saja. Seorang anak bisa tercipta dari sumbangsih benih lelaki dan perempuan kaan ๐Ÿ˜‰ Rencana dan proses bersama, maka menghadapi lika likunya pun mesti bersama.

Kue bantat
Menurut sebuah hikayat perkuean, legenda brownies diawali oleh koki yang lupa memasukkan baking powder ke dalam kue, sehingga kuenya tidak mengembang, jadinya bantat ๐Ÿ˜‚

Pengasuhan itu seperti bikin kue, yang mesti dikukus, digoreng, atau dipanggang. Kalau hasilnya bantat alias tidak enak, apa yang kemudian kita lakukan. Kalau kita menemukan hambatan dan tantangan, apa ya terus kita banting kuenya. Padahal udah dilakoni nasehat terbaik dari tokoh parenting ternama di jagad maya dan nyata. Sudah berusaha maksimal memenuhi kewajiban dan tanggungjawab sebagai orang tua ๐Ÿ˜ข Masih ada yang luput juga, hiks…

Seorang ibu psikolog berusaha menengahi, tak ada parenting paling benar atau paling salah. Yang paling benar adalah bahwa kita harus terus belajar. Bagian terpenting dari sebuah kue bantat adalah, bagaimana cara menikmatinya. Kue bantat jadi nikmat jika kita sanggup melonggarkan makna yang terikat. Seperti brownies yang tak terikat pada pakem perkuean baku, eh malah menghasilkan varian kue baru yang nikmat ๐Ÿ˜‰

Kita usahakan begitu juga kan yaaa…

Yuk, belajar lagi โ˜บ

โœŠโœŠโœŠ

Gambarย gawai anakย 

Gambarย inner child

Gambarย rollercoaster

Advertisements

2 thoughts on “Kue Bantat Pengasuhan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s