Celoteh Shena

Dipukul kakak
“Huaaaa, huaaa, dipukul kakak” tangis Shena, lapor kepada saya yang sedang mencuci piring.

Menghela napas panjang, itu sudah yang kesekian kalinya, dan cerdiknya Moldy yang selalu mengambil kesempatan ketika Bubun lengah atau tak ada bersama mereka. Oh, anak lelaki…

“Kakak itu kok selalu ya… sudah, besok kita taruh kakak di asrama ya, biar ga nakal lagi,” tukas saya (pura-pura) geram.

Shena menghentikan tangisnya. “Jangan,” larangnya.
“Kenapa?”
“Kakak ga boleh pergi, Yayah enggak, Bubun enggak, Shena enggak,” katanya memastikan semua anggota keluarga kami tetap berada dalam satu kesatuan.
“Biar Shena ga dipukuli terus,” kata saya menantang daya tahannya. Bubun yang aneh, jangan ditiru 😄
Dia tetap bersikukuh, menggelengkan kepala, belum sanggup memberikan jawaban yang jelas.
“Semua di rumah ini,” katanya kembali menegaskan tanpa alasan.
😊😊

“Bubun bahagia?”
Suatu ketika Moldy bikin ulah, minum teh, lalu menyemburkannya ke sebagian besar teras, bikin licin. Begitu kering, lantainya jadi lengket. Saya ngomel panjang kali lebar kali tinggi, seraya memberesi printhilan di meja makan.

Ini udah TK

Shena sedang syahdu menikmati susunya di meja makan, saat dia tiba-tiba bertanya,
“Bubun bahagia?”
Saya merasa aneh, menjawab pertanyaannya masih dalam nada marah,
“Ya bahagia, tapi kalo kakak bikin marah gini bla bla bla…”
“Bubun bahagia?” dia sepertinya tak peduli dengan penjelasan panjang saya. Ya iya lah, kan emang belum bisa memahami jawaban panjang 😂
“Ya bahagia,” terpaksa saya jawab demikian karena saya tak mau melanjutkan amarah negatif dan berusaha konsisten dengan ajaran saya sebelumnya bahwa saya bahagia memiliki mereka berdua.
Shena tersenyum lalu mengatakan,
”Shena juga bahagia.”
😎😍

“Bubun, maafkan mereka!”
Dua lelaki dan dua ego yang harus dibagi, entah bagaimana dan terkadang saya hanya bisa marah tak jelas. Hahaha, kerjaan yang wanita banget, ngomel melulu. Meski kalo kepanjangan saya juga risih. Gimana ga risi, yang diomelin cuek aja, lempeng aja 😒
“Bla bla bla…” omel saya seraya memberesi baju yang baru disetrika, sementara mereka sibuk bermain di ruang tengah. Sedikit membanting pintu hingga Shena datang.

Ini SD unyu

“Bubun marah ke Yayah?”
“Ya.”
“Bunda marah ke kakak?”
“Ya.”

Lalu saya melanjutkan lagi, omelan panjang kali lebar kali tinggi.

“Bubun, maafkan ke Yayah ya,” katanya polos.

“Buat apa? Bla bla bla…” tukas saya, emosional.

“Bunda maafkan ke Yayah ya,” katanya lagi memohon.

Tak sanggup lagi meneruskan marah, rasanya bukan saya lagi yang harus memberinya pelajaran tapi dia yang sedang memberi pelajaran pada saya 😳😳

Sakit hati
“Bubun kuperiksa ya,” katanya seraya bergaya memasangkan stetoskop berupa tali yang bentuknya mirip, ke badan saya.

“Bubun sakit apa ya?” tanya saya penasaran.

Di rumah uti

“Sakit hati,” tukasnya serius.

Saya terbahak, hampir saja setrika lepas dari pegangan, terlalu heboh 😄😄

“Nih obatnya, diminum ya,” katanya seraya menyerahkan botol mainannya yang berwarna merah muda.

“Cepat sembuh ya,” pesannya.

***

Aku juga bisa
Belakangan dia sering memaksa saya untuk mendongeng, berkali-kali dalam sehari, lalu mengatakan dengan sedikit mengeluh,
“Aku lho belum bisa cerita seperti mbak Risa.”
“Ya nanti pasti bisa, kan memang mbak Risa lebih besar,” hibur saya.
Risa yang lebih tua setahun, memang memiliki kemampuan belajar lebih, sudah bisa baca dan sedikit menulis. Saya sih lempeng aja, cuek aja, waktu si ibu membanggakannya. Anak saya, rrr… Bikin gambar aja masih kacau, bicara masih sering belepotan, emosi masih naik turun semaunya sendiri, mau dituntut apa coba. Shena sendiri yang seringkali merasa harus lebih dewasa dengan mengatakan dia tak bisa ini dan itu 😯

Lagi nunggu angkot

“Aku belum bisa kayak Bubun,” keluhnya ketika melihat saya bersiul. Padahal ya sekedar bersiul, bukan berbentuk nada lagu.

“Bubun dulu waktu seusia Shena juga belum bisa bersiul, uda tua baru bisa. Shena mau tua duluan?”
Dia menggeleng sambil tersenyum.
“Nanti aku pasti bisa ya, Bubun,” katanya menyemangati dirinya sendiri.
“Tentu saja”
“Shena kalau besar pengen jadi apa?”
Dia belum tahu konsep pekerjaan. Hanya tahu ayah ke kantor tapi sepertinya tak ingin seperti ayahnya yang selalu ditanyakan kapan pulang dan sering pulang malam.
“Jadi dokter?”
Dia menggeleng.
“Kerja di kantor kayak ayah?”
Dia menggeleng lagi.
“Jadi penulis?”
Matanya berbinar lalu menggangguk,
”Ya kayak Bubun.”
Emaknya ge-er, padahal buku antologi melulu dan ceriwis aja ngisi blog.
Di waktu lain saya akan mengulang pertanyaan itu, dia memiliki jawaban yang mencengangkan,
“Mau jadi Shena”

😊😊

Hahaha, ternyata dia jauh lebih pe-de daripada orang tua yang sibuk memikirkan jadi siapa ya kalau kita reinkarnasi nanti, harus lebih baik, harus begini, harus begitu…

24 April 2014

Advertisements

2 thoughts on “Celoteh Shena

  1. Begitu ya mbak kalau kakak adek sudah bisa maen bareng, kudu banyak punya stok sabar 🙂
    Jadi nggak sabar liat anak2ku maen bareng gitu, pasti bakal banyak drama emak2 niih.. Hhihii

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s