Reward, Yes. Punishment, Yes-No.

One day one post, hari pertama πŸ’ͺ

Bagi yang belum pernah berkunjung ke blog ini, saya perkenalan ulang ya. Saya ibu dari dua anak, Moldy (8) dan Shena (7). Moldy adalah seorang penyandang tunarungu, bersekolah di SLB-B. Shena, bersekolah di madrasah. Pekerjaan saya antara lain koki, guru, sopir ojek, penasehat, tukang setrika, hehehe, hampir samaan deh, dengan ibu rumah tangga lain πŸ˜‰

Sampai hari ini, saya dan suami, Jemi, masih sering berbeda pendapat tentang reward dan punishment. Masalah rumah tangga yang klasik kan ya. Sempat bikin panik, tapi kemudian sadar, well, tiap rumah tangga punya pola uniknya masing-masing ☺ Tak selalu bisa sakleg dengan satu teori tertentu. 

Sejumlah pertikaian dan kekacauan dimulai ketika kami mesti berhadapan dengan tantrumnya Moldy. Masih belum usia tujuh, apalagi berkebutuhan khusus πŸ˜•

Baca: Menaklukkan Moldy

Huaaa, mengatasi tantrum aja begitu menguras tenaga dan pikiran 😒 Buat anak spesial, tantrum itu berkaitan dengan kesulitannya menyampaikan sesuatu dan juga, proses penerimaan orang tua akan kondisi dirinya. 

Moldy selalu cerdik memanfaatkan lingkungan atau orang tertentu. Semisal dengan saya, dia tak berani menawar karena saya selalu kenceng dengan aturan untuknya. Tapi begitu ayahnya datang, mulailah dia merajuk dan memohon. Saya usahakan tidak bertikai di depan anak, terpaksalah mengalah, dengan dongkol πŸ˜‚

Kejadian semacam itu masih terus berlanjut, kadang sampai hari ini, tapi beda pola. Ternyata, dengan bertambahnya usia dan semakin baik komunikasi antara kami berempat, maka semakin Moldy lebih tertata perilakunya di luar. Oya, saya sudah jarang memaksanya harus bicara. Kami (saya, Jemi, dan Shena) banyak berisyarat sambil bicara juga, dan itu membuatnya lebih nyaman. Seneng lho, dapat laporan dari orang-orang seperti,

“Anaknya ramah, sopan, menurut.”

“Eh, si itu yang normal malah jauh lebih bandel daripada anakmu.”

“Dia lucu kok, selalu berusaha menyampaikan sesuatu pakai gerakan tangan sambil umik-umik.”

Waaah, hidung dan kepala terasa mekar di luar batas πŸ˜„ Beberapa tetangga yang mengikuti perjalanan saya menertibkan si bocah, pun ikut bahagia. Sampai hari itu, saya cuma punya pola begini: reward pelukan dan pujian kalau dia melakukan sesuatu yang baik, punishment menyesuaikan dengan sikon aja, belum terlalu strict.

Semua anak sebelum genap 8 tahun, normal maupun spesial, lebih banyak memerlukan sentuhan dan kasih sayang. Jangan sampai masa itu terlewatkan ☺

Ini maksudnya, dia lapar πŸ˜‚

Meski demikian, tetap ya, tugas dan tanggungjawab mesti dikenalkan. Selama tak ada ayahnya yang tukang bersih-bersih, saya banyak libatkan anak-anak dalam tugas rumah tangga ringan, seperti menyapu, mengepel, membersihkan mainan, mengangkat jemuran, membuat adonan kue. Setelah sekolah, mereka punya tugas ringan seperti menaruh pakaian kotornya sendiri di bak cucian dan menjemur handuk yang baru dipakai. Kalau tidak dilakukan karena lupa, ya saya biarin aja, nanti siang biar dilakukan sendiri. Hehehe…

Sesekali, anak-anak saya minta beli barang ke warung tetangga. Saya bekali catatan dan uang. Alhamdulillah bisa, mengingat kondisi Moldy yang baru bisa berisyarat bahasa ibu πŸ˜‰ Rewardnya, pelukan dan jempol. Dia merasa dihargai, senyumnya lebaar. 

Saya tak pakai reward bintang-bintang yang bisa ditukarkan hadiah jika mencapai angka tertentu. Saya tak mau dia melakukan sesuatu karena mengejar penghargaan atau materi semata. Lebih kepada menyadarkan pada kemauan pribadi, hati nuraninya. Karena itulah, jika kadang dia tak mau, ya udah, tak usah (lagi) dipaksa, coba lagi lain hari. 

Bahkan sewaktu uang sakunya hilang karena kesalahannya, saya tegaskan,

“Uang kamu hilangkan, tak bisa beli kue.”

Nominalnya sedikit sih, tapi dia juga mesti belajar konsekuensinya. Dia bisa menurut, alhamdulillah.

Sedikit tips dari pengalaman saya, terutama untuk anak spesial di rentang usia yang hampir sama:

πŸŽ€ Pahamilah caranya berkomunikasi. Pilihlah yang dia merasa nyaman. Jika sudah merasa nyaman dan aman dengan penghargaan kita, niscaya dia akan mengikuti aturan yang diterapkan.

πŸŽ€ Perbanyak obrolan dengan kontak mata, perhatian, dan pelukan.

πŸŽ€ Jika sudah memiliki aturan, komunikasikan dengan semua penghuni rumah dan juga orang luar, jika mau. Tantangan di luar rumah bisa jadi kesempatan anak untuk membengkokkan aturan. Tapi kalau ortu tahan malu dan cuek dengan penilaian sekitar, anak juga tahu kok harus gimana. 

πŸŽ€ Untuk mengendalikan emosi ibu yang kadang lelah, atau juga anak yang belum paham mesti bagaimana, seringlah mencari suasana baru. Mengunjungi teman atau saudara, berwisata alam, atau kemanapun yang menyegarkan.

Sementara demikian dari pengalaman saya, semoga bermanfaat. Silakan sampaikan kritik dan saran, jika dirasa perlu πŸ˜‰

Salam

πŸ’šπŸ’š

#SatuHariSatuKaryaIIDN

Gambar dari sini

Advertisements

3 thoughts on “Reward, Yes. Punishment, Yes-No.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s