Mengajak Si Spesial Keluar Kota

One day one post, hari ketiga πŸ’ͺ

Ini kisah flashback ya, saat anak-anak masih balita, belum sekolah. Tentang perjalanan bertiga keluar kota, sudah saya lama saya tuliskan. Sekarang mau cerita perjalanan keluar provinsi, baru berani mengajak per satu anak πŸ˜‰

Baca: Perjalanan Keluar Rumah Bersama Krucils

Kami berdua ke Jogja, di usia Moldy yang baru 4.5 tahun. Masih sering tantrum, terapi wicara jalan di tempat, dan sering menghilang karena penasaran akan sesuatu 😨

Siap berkelana sendiri πŸ˜‚

Naik kereta Sancaka dari stasiun Gubeng, berangkat sekitar jam 7-8 pagi. Awal berangkat masih kooperatif, tidur ayam dengan kepala terkulai di pangkuan saya. 

Setelah sarapan kecil bersama bekal dari rumah, energinya kembali sempurna. Pemandangan di jendela kereta tak cukup asyik baginya. Dia melihat sekitar dan goyangan pintu kereta pembatas gerbong yang menarik perhatiannya. Dihampirinya dengan penuh penasaran. Dibuka tutup, saya hanya bisa mengawasi dari kejauhan. Sebanyak apapun dilarang, akan lebih banyak lagi perlawanan. Beberapa orang memandang saya seolah bertanya kenapa tak melarangnya 😐

Sampai kemudian mereka semua melihat intensitas kepenasaran Moldy terhadap pintu kereta yang terus bergoyang, mereka kemudian maklum. Beberapa orang ikut membantu menyuruhnya kembali duduk seraya mengangguk respek kepada saya. Alhamdulillah, ketemu orang yang mau mengerti tanpa harus banyak kata ☺

Ada saat dia menatap saya dengan wajah menantang, kemudian siap berlari menuju pintu kereta yang terbuka, seolah siap melangkah pindah gerbong. Ya Allah, masa mesti lari sprinter di tengah kereta. Itulah yang kemudian terjadi. Saya panik mengejarnya, sementara dia ketawa ketiwi tak benar-benar niat melanjutkan langkah 😑

Moldy selalu mencari cara baru supaya saya panik. Sempat lho, dia menghilang di dudukan paling ujung. Dalam hati kecil saya yakin dia tak akan jauh, namun masalahnya adalah, dia kemanaaa… 😴
Bocah mungil dan tak kenal takut itu bersembunyi di kolong tempat duduk serombongan keluarga yang menuju Solo.

“Maaf pak, mau mengambil anak saya, di kolong,” pinta saya dengan senyum kecut.

😳😳

Cerita menjadi semakin indah saat dia menolak untuk kembali ke tempat duduk kami semula. Seolah minta perlindungan pada orang sekitar, Moldy duduk memojok di salah satu kursi, lalu pura-pura menikmati pemandangan πŸ˜₯

“Sudah bu, biar di sini, ndak apa, kami turun di Solo kok.”

“Ngapunten nggih pak, ini anaknya tunarungu, bla bla bla,” mulailah saya bercerita panjang lebar. 

Mereka mendengarkan dengan seksama, lalu mempersilakan saya istirahat dan mereka yang akan menjaganya sementara. Saya kembali dengan gontai, mesti gimana ya 😒

Selama lima-enam jam perjalanan menuju Jogja, 80% waktu habis demi mengejar dan mencari keberadaannya dalam satu gerbong saja. Dia lelah tapi tak mau tidur, tahu sendiri kan anak-anak begitu. Akhirnya senjata andalan berupa pelukan beruang dipakai lagi πŸ˜‚

Ndilalah, baru bisa tidur di daerah Klaten, yang berarti sudah hampir sampai Jogja. Dia masih merem ketika kami turun. 

Masih belum kapok, seringnya saya ajak Moldy ke Malang dan Surabaya, via kendaraan umum. Berhubung sekolah, jaraknya jauh, anggap saja itu sebagai latihan travelling tahap lanjutan πŸ˜‚

Nah, jika anda memiliki anak spesial/berkebutuhan khusus, tak perlu kuatir mengajaknya keluar kota dengan kendaraan umum. Asalkan penuhi beberapa checklist berikut:
🚘 Apakah dia masih sering tantrum atau mengalami kendala lain yang belum bisa dikendalikan secara instant? Jika ya, atasi dulu, baru bisa diagendakan keluar rumah. Jika masih tantrum namun bisa dikendalikan, maka cobalah….

🚘 Latihan bepergian jarak pendek, yang agak jauh, agar terbiasa. Jika sudah bisa, maka mulai canangkan target jarak baru.

🚘 Di perjalanan, selalu siaplah memberi keterangan mengenai kondisi anak. Jangan juthek. Hehehe, latihan mental bener kalau mengajak anak spesial ke tempat umum ☺ Kadang udah disiapin jawaban, tetep aja ketemu pertanyaan ajaib. Tapi kalau kita terbuka, alhamdulillah, selalu ada orang yang siap membantu saat kita kerepotan. 

Baca: FAQI-Kepo

🚘 Kenali medan, jenis transportasi, tujuan. Jangan sampai blank informasi saat bersama anak, itu beresiko. Anak spesial pun memerlukan penanganan dan adaptasi tersendiri.

Baca: Pengalihan Umek

🚘 Siapkan sesuatu yang bisa menyibukkannya selama di perjalanan, seperti bacaan atau mainan, saya menggunakan gawai sebagai opsi terakhir. Main game tetep sih, tapi sebentar aja.

🚘 Selalu siapkan uang lebih, untuk berjaga-jaga saat kendaraan mogok, kehabisan bekal, terluka, dan sebagainya. 

🚘 Buat saya pribadi, anak diajak keluar kota saat dia sudah cukup mandiri dengan kebutuhannya. Karena saya tak suka anak-anak pakai pospak terlalu lama, jadi saya nunggu mereka bisa mandiri buang air. Memang agak repot awalnya, tapi dengan begitu rasanya kok lebih bebas ya ☺

Moldy sekarang sudah tak seusil cerita di atas itu ya, sudah lumayan ‘anteng’ πŸ˜‰ Sudah bisa sedikit komunikasi dasar dengan bahasa isyarat, meski masih tarik ulur dengan rasa penasaran yang membuatnya tiba-tiba menghilang. So far, alhamdulillah. Target baru, menunggu progress komunikasi dan kemandiriannya. Inshaallah…

Yuk, ajak anak-anak mengenal lebih banyak kota 😊 Jika anak spesial bisa, tentu anak normal juga demikian kan… πŸ˜‰

πŸ’šπŸ’š

#SatuHariSatuKaryaIIDN

Advertisements

2 thoughts on “Mengajak Si Spesial Keluar Kota

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s