Jalan Kaki Masih Favorit

One day one post, hari ketujuh πŸ’ͺ

“Lihat kakimu bengkak, ini pasti gara-gara kamu kelupaan jalan kaki tanpa henti,” canda seorang teman kos.

πŸ˜‚πŸ˜‚

Ceritanya, saya habis dari rumah seorang teman di daerah Karang Menjangan, sekitar Unair, Surabaya. Dasar anak kos, demi pengiritan dan kebetulan nunggu angkot P gak lewat-lewat, akhirnya saya jalan aja sampai Gubeng Kertajaya. Eh saking keasyikan melamun, sampai saya kelewatan beberapa gang dari jalan pulang πŸ˜„

Sudah tak peduli lagi dengan Surabaya yang begitu panasnya. Cukup jalan menunduk, bawa payung, atau bertahan sebentar di teduhan untuk lanjut jalan. Paling jarang bawa payung. Beberapa kali beli atau dikasi, berujung lupa ditaruh di mana πŸ˜₯

Getol jalan kaki, berawal dari kebiasaan sejak tinggal di Batu. Jalan kaki hampir merupakan sesuatu yang lazim ditemui di Batu yang dingin, jalannya naik turun dan terjal. Tahun 90an, Batu masih dalam masa transisi dari desa menuju setengah kota, sehingga angkot juga belum beragam. Banyak orang memilih jalan kaki, meski agak jauh. Hawa sejuk, polusi minim, serta suasana paguyuban saling sapa dengan berbagai macam orang sepanjang jalan ☺

Di masa sekolah, dengan rambut pendek dan tinggi badan kategori menengah, saya sering diikutkan lomba seperti PKS (Patroli Keamanan Sekolah) dan gerak jalan. Gerak jalan di acara 17 Agustusan, melintasi jalan sejauh 8 km. Itupun terus berulang, sampai mau kuliah. Hampir seneng ketemu banyak teman yang tingginya mulai menjulang, jadinya saya bisa rehat dari acara beginian. Eh, tetep diikutin Paskibra, meski kebagian belakang sendiri sih πŸ˜„ Nasiiib…

Latihan jalan kan memang sudah tiap hari, lha wong jarak ke sekolah sekitar 2-3 km dari rumah. Banyak teman berangkat bersama, ramai, meski tak semuanya saling kenal. Tak ada angkot yang sampai di depan sekolah, tak masalah. Cukup turun di mana, lalu jalan kaki beramai-ramai πŸ˜‰ Hanya ada 1-2 orang yang naik mobil dan bisa dipastikan mereka sangat kaya raya, di masa itu.

Ini jalan kelinci di sekitar alun-alun Batu

Jika mau menunggu, ada alternatif dokar yang saat itu masih boleh untuk angkot jarak dekat. Ongkosnya 100 rupiah. Maunya cepat, tapi seringnya percuma, karena si sais maunya ngetem sampai penumpang penuh. Bertahanlah dengan aroma kentut dan kotoran si kuda πŸ˜„

Saat Ramadhan tiba, lepas shalat subuh yang hampir selalu penuh di banyak masjid, kami yang anak-anak seumuran jalan kaki sampai jauh. Rutenya beda-beda, kadang sampai Songgokerto, Sidomulyo, atau cuma sekitar alun-alun. Kami ketemu juga dengan banyak grup pejalan kaki dari berbagai kampung ☺

Begitu tinggal di Kediri karena Bapa pindah tugas, acara jalan kaki masih tercanang, meski tak rutin. Pernah janjian jalan bersama seorang teman yang juga pecinta jalan kaki, dari sekolah di jalan Veteran ke arah rumah kami di sekitar alun-alun. Β Sepanjang jalan kami disapa teman-teman lain yang naik sepeda, angkot, ataupun motor, sembari menanyakan kenapa kami jalan kaki. Hehehe…

Trotoar merata di sebuah tempat di Kediri

Sekarang tinggal di Sidoarjo, tetangganya Surabaya, sudah hampir jarang jalan kaki. Sebenarnya saya udah mulai mengukur jarak dari rumah ke sekolah Moldy, pengen jalan kaki lagi, hahaha itu langkah nekat, terlalu jauh. Selain itu juga tak tahan dengan debu kendaraan bermotor dan para sopir angkot yang pantang mundur menawarkan jasanya. Huh…

Baca:Β Cerita Pejalan Kaki

Berdasar asas de yure pribadi, saya suka jalan pagi di sekitar rumah, tanpa alas kaki. Hanya sesekali. Jalanan perumahan pun mulai tak ramah. Kucing semakin tidak beradab dengan membuang hajatnya sembarangan, tak lagi disembunyikan di tanah. Eh iya, tanah langka juga sih πŸ˜• Bangkai tikus terkapar atau dikaparkan di jalan, lengkap bersama lalat yang berpesta pora. Jadinya saya pakai alas kaki lagi. Dalam praktek de facto, keasyikan menggawai terlalu masyuk sampai lupa mesti jaga kesehatan 😳 Ups, masalah kita bersama sepertinya πŸ˜‚

Yuk kita terbang aja πŸ˜‚

Buat saya, fungsi jalan kaki lebih ke arah psikologis ya. Itu sudah mencakup kesehatan jiwa dan raga kan ya. Gambarannya begini:

πŸ‘£ Irama hidup terasa lebih manusiawi, karena saya bisa mengamati berbagai hal dengan seksama, diam sesaat, juga berinteraksi dengan orang sekitar. Pilihan pemandangan terbatas, tak perlu menggeser layar terlalu cepat, hahaha πŸ˜‰

πŸ‘£ Kalau diniatkan bener, jalan dengan cepat dan jarak agak jauh, bisa lho bikin keringetan.

πŸ‘£ Refresh badan dan pikiran. Alhamdulillah masih di Indonesia yang subur, hijau di mana-mana. Warnanya menenangkan.

πŸ‘£ Jeda amarah. Seorang psikolog menasehatkan, kalau kamu tak sanggup mengatasi amarahmu, pergilah menjeda, diam atau mengasingkan diri sesaat. Saya alihkan jeda sesaat itu dengan jalan kaki. Kebetulan di dekat rumah ada areal persawahan. Bentar aja, balik ke rumah inshaallah udah tenang lagi ☺

Pecinta jalan kaki seperti saya cuma memimpikan trotoar yang cantik, tak kemudian disesaki dengan pedagang kaki lima, sepeda motor, tambal ban, ataupun parkiran liar. Sadar banget, itu program jangka panjaaang sekali πŸ˜‰ Akar masalah induk belum terbenahi ya, jadi terpaksa maklum kalau infrastruktur sederhana seperti trotoar, belum bisa difungsikan secara mendasar.

Kalau anda, olahraga apa nih yang jadi favorit? 😊

πŸ’šπŸ’š

#SatuHariSatuKaryaIIDN

Advertisements

2 thoughts on “Jalan Kaki Masih Favorit

  1. Aku bisa anek sepeda itu udah kelas 5. Jadi itungannya telat pake banget di masanya. Dan sampe sekarang ga bisa nyetir sepeda motor atopun mobil. Jadi ya moda transportasi andalan ya jalan kaki. Dulu masi kecil kemana2 jalan kaki. Ke sekolah tiap hari, ke rumah nenek, bahkan ke kampung sebelah. Jaman SMA pernah jalan kaki dr Smast ke alun-alun. The thing is, aku janjian sama bapak. Lha janjiannya jam sekian. Drpd nunggu diluar panas2, menunggulah aku di kelas sampe jam yg dijanjikan. Lha kok pas keluar Bapak sudah cabut. Padahal duit mepet. Gimana caranya biar tetep nyampe rumah dgn duit yg ada. Perlu 2x naik transportasi umum. Smast-alun2, alun2-ngadiluwih. Padahal duitnya cuman bisa buat bayar 1x. Jadi milih dr smast ke alun2 jalan kaki aja. Pas nunggu bis di alun2 lha kok ada tetangga yg lewat, bawa mobil. Dibarengilah aku. Rasane yaopo yo. Duit yg dieman2, direwangi jalan kaki pas panas kenthang2 lha kok ternyata endingnya duitnya ga kepake karena ada tebengan. I didn’t know whether to laugh or cry πŸ˜‚πŸ˜‚.
    Jaman kuliah parah kita ya. Kemana2 jalan. Belum lagi kalo pas ikutan demo. Jalan dr kampus ke grahadi, ke hotel majapahit. Kuat. Sekarang kemampuan berjalan jauh sudah berkurang. Kadang peegelangan kaki yg pegel. Atau tiba2 nggliyeng. Umur, oh, umur.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s