Sebuah Zona Nyaman

One day one post, hari kesepuluh πŸ’ͺ

Ini tahun ketiga saya berinteraksi dengan lingkaran penyandang tunarungu. Sesama orang tua, guru, juga anak-anak dari berbagai usia dan latar belakang. Rasanya nano-nano. Bagian sedih yang mulai terkelupas, semangat yang membuncah, empati yang terpahat apik, dan juga bahagia yang tak ternilai ☺

Ada yang bilang SLB itu tidak manusiawi, karena seperti mengasingkan mereka yang istimewa dari pergaulan secara umum. Justru, saya merasa sekolah di SLB di tahap awal usia anak itu membuat mereka lebih manusiawi. Proses melihat di depan cermin, siapakah mereka. Mereka memiliki keistimewaan dari orang normal. Mereka juga melihat siapa saja teman mereka yang ternyata hampir senasib ☺

‘Hei, aku tak sendirian di dunia ini. Dia susah berbicara dan mendengar sepertiku. Dia sudah mulai besar dan tetap sepertiku, namun dia bermain bola, berlari, memasak, berdandan, tertawa, bermain musik. Sama, seperti orang yang berbicara dan mendengar di luar sana.’

Baca: Antara SLB, Terapi, dan Pemerintah 

Buat para ibu yang menghabiskan waktunya beberes rumah demi menunggui anaknya sekolah,

‘Hei, aku tak sendirian. Aku tak perlu terus menangis dan meratap, tentang betapa tak adilnya nasib membagikan porsi kue lezatnya. Aku melihat anak lain lebih menderita daripada anakku, tapi dia tetap tersenyum ceria, seolah dunia nampak selalu indah.’

Banyak orang seperti kami, bahkan mungkin lebih parah, dan mereka tetap berusaha melangkah demi menjadi terdidik, berharga, dan manusia utuh dengan hak dan kewajibannya, yang tak perlu dipasung karena perbedaannya. 

Anak-anak mendapat kesempatan untuk belajar sesuai dengan keistimewaan mereka. Membaca, menulis, berhitung, berkomunikasi, berbahasa, hingga tiba saat untuk memutuskan, tetap melanjutkan kenyamanan atau menjajal nyali di luar. 

Teringat obrolan dengan seorang nenek yang berharap kematian bagi janin yang sudah tahu akan terlahir cacat. Saya tergugu, ingin marah, namun saya tak bisa menyalahkan keputusan dan sikapnya. Tuhan, Allah, bagi sebagian orang terasa absurd. Mereka mengatakan mereka percaya, tapi mereka cemooh dan sesali takdir yang dianugerahkan untuk mereka. 

Menerima memang bukan proses sehari dua hari, bisa jadi malah tahunan. Semoga tak sampai terlambat, karena usia akan menggeliat dengan fitrahnya, tanpa menunggu sejauh mana kita menerima kenyataan. 

Di antara gelak tawa para ibu yang saling berbagi kisah perjuangan dan penerimaan mereka, terlintas dalam benak. Di satu sisi, itu sebuah terapi ketenangan yang sangat natural. Di sisi lain, semoga kami tak terlena dan tetap fokus pada target masing-masing.

Semangat bu, teruslah melangkah maju ☺

πŸ’šπŸ’š

#SatuHariSatuKaryaIIDN

Gambar dari brilio

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s