“Mama Moldy…” (2)

“Aku dipukul. Aaaa…” teriak Zen, mengiba, tapi tak berusaha menghindari si pemukul.

“Kamu yang keterlaluan, kamu ludahin adikku. Dasar…” balas anak si pemukul seraya terus melancarkan bogem dan juga menendangi sepedanya Zen.

Gambar pertikaian ala Moldy

Saya tak bisa mendengar dengan begitu jelas, lagi nyambi beres-beres rumah. Pertengkaran berjarak sekitar dua rumah dari saya. Para bocah ini tak mau manut pada teriakan ibu-ibu yang berusaha melerai mereka. Baku hantam terus berlanjut dengan tidak imbang, hingga kemudian mereka menghilang di gang masing-masing. Duh, skornya berapa ya. Eh… 

Baca: “Mama Moldy…”

Sehabis mengganti baju mbabu dengan yang agak rapi sedikit, saya segera ke rumah Zen. Dia sedang makan bakso. Bergidik saya bayangkan kuah penyedapnya yang menyengat dan dampak besarnya pada perilaku anak spesial 😐

“Kamu gapapa?” Tanya saya agak kuatir. Pukulan itu pasti menyakitkan, saya sampai bisa mendengar suara gebukan yang menyasar tubuh cekingnya. 

“Tadi aku dipukul sama mas itu.”

“Sakit?”

“Dia mukuli aku terus.”

“Yang sakit yang mana?”

“Aku dipukul sama mas itu.”

Selalu begini, jarang sekali nyambung antara pertanyaan dengan jawaban. Hiks, ikutan sedih membayangkan betapa kakunya saraf emosi itu terbentuk, sampai dia tak tahu apa itu sakit, bagaimana menjawab pertanyaan, bagaimana cara berteman. Zen sudah besar, sudah kelas 5 SD 😢 

“Uti, ada Mama Moldy…” teriaknya kencang, memanggil neneknya. 

Zen yang berbeda, tak terlalu nyaman saya ajak ngobrol. Beda dengan saat dia mengetuk pintu pagar, lalu bercerita sedikit tentang kegiatannya sore itu. Mungkin dia merasa tak nyaman dengan kehadiran saya di rumahnya. 

Seorang wanita tua kurus keluar dan rumah dan memandang dengan sedikit curiga pada saya. 

“Tadi Zen dipukuli anak. Maaf saya tak sanggup melerai, saya cuma mau memastikan apakah dia baik-baik saja,” kata saya menjelaskan maksud kedatangan.

“Oh biasa bu, sudah sering…” tukas neneknya menanggapi dengan santai.

Saya tercekat. Sudah biasa? 😨

“Saya mamanya Moldy,” saya lupa memperkenalkan diri.

“Ooo, ini tho mamanya Moldy. Iya, Zen sering cerita kalau kemarin habis dikasi es krim sama mamanya Moldy. Maaf ya, cucu saya merepotkan,” 

Kata utinya, Zen suka bikin kue

“Anak saya juga kebutuhan khusus bu, tak bisa mendengar.”

“Ooo, anak ibu yang tadi itu kah? Dia ikutan Zen kesini, ngomongnya gak jelas, dia nerangin pakai banyak gerakan kalau Zen abis dipukul.”

Oh…

Dada ini tiba-tiba terasa menggembung, kelopak mata menghangat. Moldykuuu, yang lebih mungil dan belum bicara, berangkat mengantar Zen pulang dan berusaha menjelaskan duduk perkaranya dengan bahasanya sendiri 😍

“Kami ini sudah sering didatangi orang bu. Minta ganti rugi akibat kerusakan yang dibikin Zen dan teman-temannya,” lanjutnya kemudian.

“Lho Zen yang paling banyak?”

Setahu saya, mereka yang ‘nakal’ ini pergi bertiga, dua di antaranya adalah kakak adik. Mestinya harus adil dong, ganti ruginya.

“Sudahlah bu, kami tidak tahu. Diganti aja, supaya tidak ramai,” terangnya dengan legowo.

😕😢

“Zen ini sudah terapi bu, ada guru pendamping khusus juga di sekolah, les berenang. Masih belum ada perubahan, masih suka marah kalau kemauannya tak dituruti, kalau tak suka sama orang bisa meludah sembarangan.”

😢😢

Saya menyimak, bersyukur akan kondisi Moldy, lalu merasa iba. Kedua orang tua Zen bekerja, materi melimpah ruah, nampak cukup untuk memenuhi kebutuhan tersier sekalipun. Tapi…

Si nenek melanjutkan cerita tentang si kakak Zen, orang tuanya, dan calon bayi (anak ketiga) yang sebentar lagi akan lahir. Sepertinya dia butuh menaruh keluh kesah. Semua usaha sudah mereka lakukan demi menjadikan anaknya lebih baik, namun perjalanan masih panjang 😢

Baca: Reinforcement

Dari luar, kita hanya bisa menilai, seolah orang tuanya abai, tak memberikan hak tumbuh kembang anaknya secara maksimal. Sayangnya, kita juga tak sepenuhnya tahu, bagaimana orang tuanya berusaha keras mencari berbagai macam cara demi kebaikan si anak 😕

Saya, mengumpulkan sedikit kesabaran dan ketabahan saja, menerima presensi ketukan pagar tiap sore dan malam 😇 Frekuensinya bisa nambah, jika dia tak masuk sekolah. 

“Mama Moldy, aku mau beli bakpao.”
“Nitip beliin boleh?”
“Aku pergi dulu ya.”
Note: Tidak menerima titipan 😄

“Mama Moldy, aku mau bikin bronis.”
“Ngincip boleh gak?”
“Aku mau bikin bronis coklat, enak.”
“Nanti bawain ke sini dong.”
“Sudah dulu ya..”
Note: Tidak memberikan pengicipan 😄

“Mama Moldy, aku mau beli tahu tek.”
Astaga, sudah jam 9 malam dan dia masih beredar mengayuh sepedanya.
“Pulang sana, sudah malam.”
“Aku beli dulu ya…”
Note: Hampir semua jenis konsumsi makanan dilaporkan 😁

“Mama Moldy…”
Astaganaga, hampir jam 10 malam, Moldy dan Shena sudah terlelap.
“Pulaaang, sudah malam.”
“Aku pulang yaa…”
Note: Presensi kehadiran aja 😉

Kalau Mama Moldy ini lelah dan males jawab, kamu juga belajar paham ya nak 😉

Gambar koki

Advertisements

2 thoughts on ““Mama Moldy…” (2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s