Panikmu Bukan Untukku

Jika anda panik dengan kelakuan anak orang lain, bukan berarti ibu si anak mesti ikutan panik kayak anda juga ya πŸ˜‘

Perihal beda pengasuhan inilah yang susaaah sekali dimaklumi banyak orang. Menurut banyak ibu, kalau tidak sesuai dengan cara dan apa yang diketahuinya, maka banyak ibu ini merasa berhak memperingatkan. Oh…oh…

Gambar di atas saya ambil dari curhatan soal parenting juga, baca sendiri deh πŸ˜‰

Sebagian besar dari mereka, saat Moldy umek akan mendadak diam sambil terpaku dan bersiap umik-umik dengan sebelahnya, ada juga yang gerah dan langsung menanyakan apakah ada yang bisa diberikan untuk membuatnya diam, atau bisa juga super gerah menanyakan ‘kenapa sih kamu biarkan, gak diawasin?’, bahkan pula ‘jadi kamu tak melakukan apapun untuk menjinakkannya’ πŸ˜•πŸ˜₯

Baca: FAQI-Kepo

Bahkan saat Moldy sudah waktunya diam sekalipun, tetep aja dia nampak seperti makhluk ajaib yang baru ditemukan, dilihatin terus menerus dari atas ke bawah. Begitu Moldy bergerak sedikiiit aja, langsunglah mereka histeris. Piye sih, susah amat yah bersikap di tengah kerumunan emak nenek yang (padahal) sudah punya anak cucunya sendiri. Pengalaman dan pengetahuan adalah dua hal yang ternyata berbeda. Noted πŸ˜‰

Menunggu bersama anak-anak di ruang publik itu memang seperti manggung tanpa bayaran 😈 Udah berusaha jelasin baik-baik biar paham, eh tetep aja tet tot. Ibu-ibu malah semakin memperhatikan terus dengan cemas, ealah… Males dengar teriakan makin kencang dan barisan nasehat yang bikin mual, maka saya ajak Moldy jalan-jalan sekitar peron, sampai jauuuh. 

Dasar si bocah, tahu orang sekitar panik dia malah bikin perkara πŸ˜₯ Level umek semangkin tinggi. Dengan jalan bersama air mengalir sampai jauh, dikiranya saya membolehkannya serupa, dan dia berniat jalan-jalan sendiri. Tentu saja, no way…

“Kumohon nak, jangan. Semakin kamu jauh atau menghilang, Bubun nanti akan dimarahi makin banyak orang. Please, tetaplah bersamaku,” kata saya lebay, dengan gerakan memohon, lalu menunjuk pada sekumpulan emak yang meributkan kami.

Hihihi, ini masalah klasik lho, di dunia peremakan, bahkan untuk parenting ala bule sekalipun. Kadang kita memperlakukan anak di tempat umum, bukan demi kebaikannya, tapi demi pencitraan di depan umum, biar aman dari nyinyirisme πŸ˜› 

Alhamdulillah, Moldy bersedia manut dan kereta tiba beberapa saat kemudian ☺

Lain hari, ada seorang nenek yang sejak duduk sampai kami mau turun angkot, teruuus melihat pada kami. Saya udah kadung berprasangka, jangan-jangan saya mau dapat pahala lagi. Aduh bang, Hayati lelah dapat wejangan terus 😒

Begitu kami turun dari angkot, tiba-tiba si nenek berteriak kencang yang mengagetkan semua orang di angkot. Saya udah terbawa mau nyolot, gegara kaget dan mulai ikut panik 😬

“Hati-hati, awas jatuh. Nanti lari banyak kendaraan bla bla bla…”

Tarik napaaas, hembuskan, lalu turunkan anak pelan-pelan, jangan sampai napsu mendorong anak, eh…

Moldy kan tak bisa mendengar, dia santai turun seperti biasa. Kali ini terpaksa saya jaim megangin dia πŸ˜‘ Kami turun di daerah Waru yang memang minim trotoar, jadi terlatih otomatis minggir supaya selamat.

Di angkot yang berbeda, kami bareng dengan seorang anak lelaki yang lebih kecil dan normal, tentunya lebih anteng daripada Moldy. Jauuuh… πŸ˜‚ Mereka berhenti sebelum kami dan begitu pulalah yang terjadi, emaknya bayar ongkos sambil berteriak panik tak keruan. Kasihan dengan si anak, takutnya malah jatuh dan bakal disalahin, saya langsung genggam lengan si bocah supaya dia tidak turun duluan. 

Baca: Perjalanan Keluar Rumah Bersama Krucils

“Diam ya dek, jangan turun dulu, nanti ibumu tambah gila,” bisik saya usil, meski sudah pasti dia tak bakalan dengar jelas πŸ˜„

Sepakat kan ya, ini bukan saja perkara apakah kita sudah menerima kesetaraan para difabel, tapi ini soal level kepanikan yang mengkuatirkan πŸ˜₯

Baca: Memang Lemah Atau Dianggap Lemah

Dengan bertambahnya usia, Moldy lebih tenang. Meski tetep, untuk orang yang sekiranya mengkuatirkannya, segeralah dia berulah πŸ˜‚ Perasaan anak difabel memang lebih peka, dia sadar dia diterima dengan baik atau tidak. Nah, itu bisa saya jadikan indikator sikap orang yang bersangkutan πŸ˜‰

Seperti iklan Axe, dia suka memeluk orang yang membuatnya merasa nyaman πŸ˜‰ Well, it seemed I had too much with that ‘bear-hug thing’ πŸ˜₯

Baca: Menaklukkan Moldy

Selama ini, saya tinggal atur tombol sikap aja. Toh itu juga tak terjadi setiap hari. Anggap sebagai sekelumit uban di antara gerai lebat rambut hitam πŸ˜‚

Baca: Who’s Strange?

Kalau jengkel banget, numpuk, nih udah saya tulis. Anda gimana? 😊

Advertisements

4 thoughts on “Panikmu Bukan Untukku

  1. Bacanya aku jadi lelah mak, lelah dengan pandangan orang-orang itu. Huhuhu. Anakku juga gak bisa diam, padahal dia bisa dengar apa yang saya bilang. Tapi biasanya enggak nyimak hahahaha. Tetap semangat ya Moldy dan Bubun…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s