PR Anak Bukan PR Emak

Waaa, malesnyaaa kalau ada pesan dari bu guru, mohon bantu/dampingi anak saat mengerjakan PR. PRnya berantakan dianggap tanpa pengawasan 😯

Buat satu anak difabel, waktunya mesti pas supaya dia berkenan dikoreksi, supaya dia tidak emosional. Buat satu anak saya lagi yang sregep dan agak perfeksionis, saya mesti mengatur cara agar dia tidak stress kalau tak bisa mengerjakan. Saya tak memasang target harus benar semua, asal paham saat ditanya dalam kondisi bebas, tanpa terikat pakem pelajaran, sudah cukup.

Sayangnya, saya kurang sepaham dengan sebagian guru dan kurikulum. Bagi seorang guru, 1-2 salah berarti saya tak mendampingi. Buat seorang anak, 1-2 salah sudah bikin dia stress, karena dia dimarahi kalau bertanya terlalu banyak ke gurunya. Nah, kita tak bisa pukul rata kan, target ortu atau guru bukan selalu sama dengan keinginan anak πŸ˜‰

Ini memasuki tahun keempat anak-anak bersekolah, dan cukup banyak porsi pekerjaan rumah yang melibatkan orang tua. Lalu apa gunanya PR jika orang tua masih harus turun tangan? 😐 Siapa yang sebenarnya sekolah, anak atau orang tua? Ini bukan maksud saya mau lepas tangan dengan sekolah anak lho. Apakah tujuan pendidikan itu untuk mencetak robot akademis, yang kesemua sendi kehidupannya harus manut pada sistem yang berlaku, dengan mengesampingkan karakter unik dari tiap individu? Hmmm…

Jepang dan Finlandia tidak memberikan PR dan ujian sampai usia tertentu. Meski per faktor negara bukan pembanding yang seimbang, namun bisa disimpulkan bahwa anak ‘belum bisa’ mengerjakan PR sendiri, karena memang belum waktunya dia menerima tanggungjawab itu. Masih waktunya bermain. Jika kesiapan itu tiba, barulah PR bisa diberlakukan. Hmm lagi…

Saya pernah punya teman sebangku yang mbencekno bebalnya. Saking pemalasnya, saya sudah tak sanggup benci lagi, tapi kasihan πŸ˜‘ Berangkat sekolah, dengan gagah berani dia membawa PR yang kosong melompong belum dikerjakan. Begitu dihajar habis-habisan oleh ibu guru, dia hanya kedip-kedip tak menangis sama sekali. Laki-laki gitu loh. Orang tuanya memang kemudian datang ke sekolah, bukan untuk memperkarakan guru seperti yang lagi ngetrend sekarang. Bu guru yang kemudian meminta bantuan dan kerjasama di rumah, kenapa dia sampai malas dan tak mau mengerjakan PR. Orang tualah yang saat itu tertunduk malu, karena anaknya tak sanggup mengikuti ritme sistem persekolahan.

Baca: Violence To Violate

Shena sempat panik dengan ujian pertamanya. Saya ikutan panik, meski saya tetap bilang, kalau saya emoh meloloh (menyuapi) jawaban. Sekolah udah berat-berat sampai siang, lha kok mesti ditambah di rumah. Saya dulu sepulang sekolah, habis makan, langsung melesat pergi main sampai menjelang maghrib. Ibu sudah menunggu di depan pintu, penuh amarah, sambil membawa penebah,
“Tak usah pulang sekalian.”
Lalu saya lari kebingungan, kalau gak pulang saya tidur di mana, hehehe… πŸ˜„

Kelas satu jaman dulu, cuma belajar ini budi, ini ibu budi, sambil melihat bapak budi lagi membajak dengan kerbau di sawah. Kalau waktunya ulangan, teman sebelah saya menaruh batas sampai tingggi sekali, biar saya tak bisa menconteknya πŸ˜‚Β Khas, anak 90an…

Demi persamaan masa bahagia, saya agak membebaskan Shena. Sepulang sekolah, dia menggambar. Sore mengaji, malam bermain. Begitu ulangan tiba, dia menangis, dia protes karena saya tak pernah mengajarinya. Ya Allah nak, jangankan mengajari kamu, membaca materinya saja Bubun sudah malas 😳 Pasrah saya, angkat tangan, apalagi bahasa Arab yang saya belajar super praktis, saat pak ustadz menerjemahkan satu dua ayat. Itupun sudah lupa urutannya, hiks…

Jaman saya dan yang seangkatan, PR itu cuma butuh pendampingan. Tak ada urusan orang tua salah ketika PR anaknya salah. Kalau tak bisa, ngubek-ubek sendiri. Kalau mentok, mewek-mewek sendiri. Sementara ibu cuma memastikan sudah makan apa belum. Simpel aja kan. Perut kenyang adalah kunci pikiran jernih dan sehat ☺

Sementara untuk Moldy, difabel yang moody, hanya mau mengerjakan PR saat materinya baru. Kalau dia merasa bosan, duh, merayunya bisa berhari-hari, sampai terpaksa gurunya turun tangan. Sampai ditawarin, apa dia masih perlu dapat PR. Sekarang sudah ada kemajuan dia mengerjakan PR tak usah pakai baku hantam seperti dulu, dan jawabannya hampir benar semua. Soal kebosanan, saya maklum, tak bisa memaksakan frame berpikir saya sebagai ibu dan pendamping, ke kurikulum sekolah. Kompromi aja dulu, kan belum mantap juga si anak mau ke arah mana ☺

Baca: Cukupkan

PR tetep perlu ya, melatih tanggungjawab dan mengetahui sampai mana pemahaman anak. Dengan catatan, orang tua hanya mendampingi serta mengajari atau memberikan guru tambahan jika memang anak sangat membutuhkan. Menyimpulkan dari Bukik Setiawan, menjamurnya lembaga bimbingan belajar dan guru les tambahan luar sekolah, sebenarnya malah menunjukkan masih belum ‘tatagnya’ sistem persekolahan kita dalam mewujudkan manusia yang terdidik dan berkualitas. Kurikulum makin beraaat, pilihan menjadi ‘anak terfitrah anak’ jadi makin terbatas 😒 Mereka ditumbuhkan menjadi ‘mesin soal dan jawaban’.

Urusan hidup anak bukan melulu soal akademis. Mereka akan melanjutkan hidup, antara lain dengan mengusahakan kebutuhannya secara mandiri serta berinteraksi dengan orang lain dan lingkungan sekitarnya.

Mereka kan juga mesti belajar makan tanpa disuapi, menyiapkan sendiri buku pelajarannya, memakai dan melepas baju dengan benar, membersihkan kamar, membuang hajat dan membersihkan, dan sebagainya yang tak bisa terus ditopang oleh ibunya.
Mereka juga perlu belajar adab terhadap tetangga, orang yang lebih tua, saudara, juga orang yang tak dikenal sama sekali. Itu tak semuanya tercakup dalam materi akademis. Dengan tak adanya petunjuk bakunya bagaimana, maka teladan dan wejangan orang tua lah yang kemudian menjadi pegangan ☺

Jaman memang sudah jauh berbeda dan tak pantas jika kesemua perlakuan yang kita dapat di masa lampau, disepakatkan sama persis dengan anak-anak masa kini. Meski demikian, jangan sampai pula anak kehilangan masa bahagia sebagai kaum yang polos dan apa adanya πŸ˜‰

Bagaimana, sudah ada kesepakatan siapa yang mengerjakan PR, anak atau emak?

πŸ˜€

Gambar dari pixabay

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s