‘Gaung’ Isyarat

Saya pernah bertekad, bahwa Moldy tak akan sekolah di SLB supaya dia bisa bergaul dengan anak dengar, tak akan berbahasa isyarat supaya verbalnya lebih terasah. Pokoknya dia harus bisa berbicara seperti orang biasa. Semaksimal mungkin. Senormal mungkin 😑

Apa daya, terapi wicara mengalami perkembangan lambat, maju satu langkah lalu mundur dua langkah 😢 Belum lagi menangani tantrumnya yang hampir tanpa henti. Disuruh bilang A, keluarnya B. Terus dipaksa, dia memilih melarikan diri atau cuma diam sambil melotot seolah mengatakan, “Aku males, aku emoh, so what?” 😄

Dua tahun lalu akhirnya saya memutuskan untuk ikut berisyarat. Woles. Masih agak galau, antara iya dan tidak 😑 Banyak yang berharap, termasuk kami di masa lampau, bahwa anak Tuli bisa mendengar dan bicara, dengan alat bantu atau implant. Nyatanya, ortu mesti siap menerima ‘paket uniknya’ dari Allah, antara lain tidak bisa mendengar dengan sempurna, sementara kemahiran berbicara tergantung stimulasi dan kemampuan anak. Sempat panik juga sih, melihat temannya pinter sampai cas cis cus, kok Moldy malah berontak 😕

Baca: Bisakah Mereka Mendengar dan Berbicara?

Kalau saya terus memaksanya menggunakan verbal, berarti saya menyia-nyiakan waktunya untuk mempelajari banyak hal demi setara pengetahuan umum teman seusianya. Satu dua kata mengejar dalam hitungan bulan dan berakhir dengan lupa atau tidak mau mengingat atau mengucapkan lagi.

Begitu kami lebih legowo untuk sering berisyarat, dia malah mengucapkan beberapa kata dalam bahasa isyarat yang tak pernah dia pelajari dari mana-mana, tapi saya tahu dari orang Tuli lain ☺

Baca: Reinforcement

Tak hanya itu, Moldy juga memberikan hadiah kejutan berupa beberapa kata yang muncul dengan sendirinya tanpa saya ajarin, atau mengucapkan dengan benar, kata-kata yang saya ucapkan sambil lalu ☺

Banyak yang mengatakan bahwa berisyarat akan menghalangi kemampuan verbalnya. Ternyata tak selalu begitu ya. Dengan anak merasa nyaman dan dihargai akan fitrah bahasa ibunya, malah memunculkan keinginan untuk belajar. Pengalaman saya ini ternyata juga dialami oleh para ibu lain, yang juga memilih berbahasa isyarat. Verbal malah keluar ketika mereka diajak berisyarat 😉

Struktur baku isyarat dalam Bisindo belum sampai kami (sekeluarga) pelajari. Kami masih memakai perpaduan antara bahasa ibu, SIBI, Bisindo dan beberapa doa baku (Arab). Campur-campur, hehehe… Jika ada perubahan isyarat baru, dalam 2-3 kali pengulangan Moldy cepat mengingatnya. Ini ajaib, selama ini apapun selalu gampang dilupakan ☺

Ada istilah keluarga berpenyakit jantung, keluarga yang terkena kanker, keluarga autis. Semuanya dalam tanda kutip ya. Maksudnya demi satu anggota yang memiliki hambatan, maka semua anggota keluarga ikut berperan aktif dalam ‘menyembuhkannya’. Yang autis ikutan diet, sampai dibelain sembunyi kalau mau makan kukis, supaya tak mengiming-iming si penyandang. Ada pula yang sekeluarga ikut diet total demi menemani sang ayah yang tak berkenan operasi atas penyakit yang dideritanya. Juga Bunda Iffet yang total melibatkan seluruh anggota keluarga dalam menangani rehabilitasi kecanduan narkoba yang dialami anak-anak Slank.

Baca: Ibu Yang Handal

Terkait dengan penggunaan bahasa isyarat, saya kira semua orang, baik dengar maupun tuli, membutuhkannya. Alasannya antara lain:

👏 Bisa ngobrol apapun di keramaian, tanpa harus berteriak. Tak hanya di keramaian ya, bisa pula dalam air, dari jarak jauh, kode rahasia, banyak. Tidak mengganggu sekitar, malah banyak orang tertarik dan ingin juga belajar 😉

👏 Belajar bahasa baru akan membuat otak kita refresh dan dipaksa untuk berolahraga.

👏 Ada beberapa hal yang ternyata lebih nyaman dibahasakan dengan isyarat, lebih nendang maksudnya, daripada digambarkan dengan verbal. Perkara multi tafsir, saya masih harus belajar, karena belum banyak kesempatan ngobrol dengan Tuli dewasa. Mesti dipahami juga, bahwa hambatan perbedaan bahasa itu fitrah.
Saya mengajar bahasa Inggris selama beberapa tahun dan seringkali tertantang (oleh komunitas) untuk menjelaskan sesuatu tanpa bahasa Indonesia sama sekali. Ternyata, menjelaskan suatu kata dengan berisyarat atau menutur dalam bahasa aslinya lebih memahamkan, daripada sekadar menerjemahkan ☺

👏 Anak lebih mudah mengucapkan kosakata verbal tanpa dipaksa, dengan hasil di luar dugaan. Teladan dan kebiasaan, dua hal penting yang kemudian bernuansa dengan kemampuan dan kenyamanan anak.

👏 Belajar silat mata, hahaha, ini istilah saya sendiri 😀 Yang sudah mahir, biasanya berisyarat dengan begitu cepat, bahkan ada jurbah yang menerjemahkan lagu rapnya Eminem dalam bahasa isyarat. Moldy sering menunjukkan bagaimana dia memaknai sesuatu lalu menyesuaikan dalam bentuk isyarat. Makin takjub dengan bagaimana Allah mendesain otak visual mereka ☺

👏 Ada istilahnya nama isyarat. Beruntunglah anda yang diberi nama oleh para penyandang Tuli ini, karena tak semua mendapatkannya. Untuk Shena adiknya, dia membuat tanda hati di dadanya. Untuk Kakung, dia membuat tanda kumis yang terpisah.
Nama tiap orang bisa diisyaratkan dengan 1-2 gerakan saja, sesuai dengan ciri khas yang bersangkutan.
Sedihnya, saya yang jadi emak ini tak (belum) dapat anugerah nama darinya. Meski sebagai gantinya, dia menuliskan nama saya di mana-mana, di motor, papan tulis kelas, kertas 😂 Uhuk, anggaplah itu tanda cinta 😍

👏 Cobalah anda membandingkan keleluasaan mereka (Tuli) antara saat berisyarat dengan saat berkomunikasi oral. Ekspresinya, lebih lepas dan nyaman mana? 😉

👏 Berkenaan dengan gender dan masalah percaya diri, tak semua anak yang terlahir Tuli, nyaman untuk berbicara. Bahasa adalah kebiasaan. Ada anak yang dibesarkan oleh hewan, maka dia akan berbicara dengan bahasa hewan, meski para induk itu tak mengajarinya. Kecuali dia memiliki hambatan perilaku, mestinya anak manusia yang dibesarkan oleh manusia juga akan berbicara sesuai dengan lingkungannya. Sekali lagi, dengan catatan, menyesuaikan kondisi dan kemampuan fisiknya.

Baca: Kesunyian Yang Menawan

Laura, peneliti muda Indonesia, yang dibesarkan di keluarga berbudaya tuli menguasai lima bahasa asing secara verbal dan tertulis. Bunda Galuh, yang mendirikan The Little Hijabi, menguasai tiga bahasa asing, berbicara sangat lembut bahkan dengan intonasi yang sangat menyamarkan sebagai seorang tuli. Sadaqat Ali dan Michael Stein, berbahasa Inggris oral dengan sangat bagus. Mereka memilih berisyarat sebagai sebuah bentuk identitas kenyamanan. Angkie Yudistia, yang berbicara dengan cukup baik dan lancar, kini mulai berpartisipasi dalam sosialisasi bahasa isyarat.

☺☺

Ada pula para Tuli yang tidak sebagus mereka di atas dalam bersuara, namun itu tak mengurangi semangat dan kemampuan mereka dalam berkarya. Sebenarnya, pertanyaan apakah mereka berbicara ini agak menyinggung, namun mengingat sosialisasi bahasa isyarat belum meluas, marilah kita berproses bersama yaa 😉

Baca: Deaf Rihla

Bagaimana, masih ada alasan kuat untuk anti dengan bahasa isyarat? 😀 Yuk, kita belajar aja…

Gambar berbicara

Gambar statistik

Gambar isyarat

Advertisements

3 thoughts on “‘Gaung’ Isyarat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s