Mesinnya Berhenti

Kata Oliver Sacks, seorang neurologis; tentang mesin uap, telpon pintar, dan kekuatiran akan masa depan.

Bibiku, Len, saat usianya 80 tahunan, mengatakan bahwa dia tak merasa kesulitan untuk menyesuaikan sejumlah hal baru di kehidupannya, semisal kapal jet, bepergian keluar angkasa, plastik, dan lainnya; tapi dia belum bisa terbiasa akan hilangnya hal-hal lama.
β€œKemana perginya semua kuda?” πŸ™„
Lahir di tahun 1892, dia tumbuh bersama London yang penuh dengan kereta dan kuda.

Aku pun…merasakan hal yang sama 😐

Beberapa tahun lalu, aku berjalan bersama keponakanku, Liz. Kami melewati Mill Lane, sebuah jalan di London tempat aku tumbuh. Aku berhenti di jembatan kereta api, teringat saat senang sekali bermain di sana. Aku bernostalgia, mengingat bermacam kereta listrik dan diesel yang pernah lewat di sini. Beberapa menit kemudian, Liz nampak tak sabaran dan bertanya,
β€œApa yang paman tunggu?”
Kukatakan bahwa aku menunggu kereta uap lewat. Liz menatapku seolah aku ini gila.

Continue reading Mesinnya Berhenti

Advertisements

Terbuai Tere Liye (2)

Baik, saya melanjutkan perjalanan membaca dengan meminjam tiga lagi buku TL. Tebal semua, as always, dan cukup 2-3 hari aja udah selesai bacanya. Konfliknya tak terlalu rumit, beberapa di antaranya berfungsi sebagai dekorasi aja, tambahan. Tak berhubungan langsung dengan inti cerita.

Reviewnya baca di sini

Mulai terpetakan beberapa kondisi yang hampir selalu dipakai pada buku-bukunya yang sudah saya baca:

1. Anak yang tumbuh dalam kondisi yatim piatu.

Continue reading Terbuai Tere Liye (2)

7 Cara Menjadi Ibu Yang Dirindukan

Akhirnya, sekian lama jadi anggota grup ngaji online, baru kali ini bisa hadir ke acara offlinenya. Dapat bonus sampel pembersih wajah dan kipas. Alhamdulillah πŸ€—

Pembicaranya Siti Fauziah, konselor pendidikan Al Falah.

Penyampaiannya cukup ringkas, hampir seperti kuliah. Ada studi kasus langsung dan ujian lisan tentang materi yang baru dibahas πŸ‘ Seperti biasa, saya tambahkan materi dari sumber lain supaya lebih bernutrisi yaa 😘

Ice breaking diisi dengan menuliskan kenangan apa saja yang paling kita ingat tentang ibu. Standar ya, masakan yang khas. Untuk Mamak, saya baru tersadar bahwa Mamak selalu menyimak kisah saya selama sekolah, memberikan nasehat terbaik atau menyemangati. Kebiasaan yang patut dilestarikan, dan ternyata berhubungan erat dengan materi yang disampaikan 😍

Contoh universal diawali dengan, Albert Einstein dan Thomas Alfa Edison. Saat sekolah, keduanya digolongkan sebagai bodoh dan lambat belajar. Berkat jasa dan pendampingan ibunya, mereka berhasil menjadi penemu hebat, yang hasilnya bisa dinikmati penduduk dunia hingga hari ini πŸ€—

Contoh islami, ada Aminah ibunda Rasulullah, yang tetap dihormati meski hanya merawat beliau hanya hingga usia 6 tahun. Ibunda lain yang melahirkan dan mendampingi para ulama besar dunia, juga banyak. Sayang contohnya kurang aplikatif. Banyak tokoh Muslim yang berjasa bagi peradaban dunia, tapi kita tak banyak mengenal mereka πŸ™

Baca: Ibunda Para Ulama

Continue reading 7 Cara Menjadi Ibu Yang Dirindukan

“Kenapa Politik Memenjarakan Orang?”

Shena menanyakan ini dalam perjalanan pulang sekolah. Saya berjanji menjawabnya di rumah, seraya berharap dia lupa πŸ˜… Sayangnya tidak. Sambil ganti baju, dia ingatkan bahwa saya berutang penjelasan padanya.

“Shena tahu darimana?”

“Kan Yayah sering nonton berita, aku ikut dengar,”

“Siapa sih yang dipenjarakan?”

“Gak tahu.”

Baca: Kepo Dulu, Masih Kepokah Kini?

Derajat pertanyaannya mulai meningkat. Tak lagi asal tanya, tapi sudah mulai lebih kepo, dan lebih butuh penjelasan. Bahkan kami sudah saling menahan diri, pada suatu peristiwa, dengan sebuah pembatas:
“Bubun emoh lanjut, nanti Shena nanya, gak tahu jawabnya.”
Atau
“Sudah Bun, berhenti dulu, nanti aku nanya banyak lho.”
😁

Continue reading “Kenapa Politik Memenjarakan Orang?”

Si Polisi Moral

Shena, dengan kualitasnya yang unik, sebagai adik yang memiliki kakak difabel tuli. Mau tak mau, sikap bijak dan dewasanya tumbuh lebih awal. Kadang oke sebagai pengingat dan penyeimbang, kadang nyebelin juga sih πŸ˜‚

Harus Berjuang
“Naik ojol aja ya,” rayu suami saya, sewaktu saya mau ke Surabaya motoran. Itu baru aja perbaruan SIM lama. Saya merasa eman gak segera dipake, tapi Jemi masih belum tega melepas saya sendirian bermotor dari Sidoarjo. Ecieee…
Sudah berlalu ya, sekarang beda, minta anter malah disuruh berangkat sendiri 😁 Tiap hari sudah boleh antar jemput anak-anak, motoran, melaju bersama para truk besar itu. Fiuuhh… Demi pengiritan dan efisiensi waktu lah.

Baca: Otw Bisindo

Motor tidak sedang dihidupkan yaa πŸ˜‰

“Emoh ah, (naik ojol) mahal.”
Emak-emak dengan jiwa pengiritan yang mengakar 😁
“Jauh lho,” dia tetap berusaha meyakinkan.

Continue reading Si Polisi Moral

Female War (2)

“Musuh utama manusia terbesar manusia secara umum, adalah dirinya sendiri. Sedangkan bagi sejumlah perempuan, dia memiliki musuh tambahan, yaitu perempuan lain.”

😯😯

Hela napas agak nyesek, antara mengiyakan dan menidakkan. Mari kita mulai dengan sejumlah fakta yang ada.

πŸ‘’ Gerbong pink atau gerbong khusus perempuan, kabarnya lebih horor daripada gerbong umum. Sesama wanita bisa saling berebut dengan ganasnya, tanpa peduli dengan kondisi hamil, sakit, ataupun PMS.

Continue reading Female War (2)

Centang Biru, Centang Abu

Seorang teman memakai centang abu di whatsapp, dengan alasan tak mau diburu soal pekerjaan, entah gimana detailnya. Beberapa teman lain melakukan hal yang sama, saya menakar pekerjaannya, kemudian memakluminya. Selama pesan sampai dan dibalas sesuai kebutuhan, ya sudah, itu privasi mereka. Saya pakai centang abu, karena tak ingin tergantung, menunggu balasan. Maklumlah, emak rumahan, apa-apa ditungguin πŸ˜› Ada yang aneh waktu pertama kali gak lagi lihat biru-biru di pesan, senyap gitu ya. Ya udin, konsekuensinya kan begitu. Nanti kalau pengen warna-warna, ya dinyalain lagi.

Continue reading Centang Biru, Centang Abu