Rindu Masakan Mamak

“Mak, aku pengen dimasakin Mamak,” kata saya di telepon dengan tangis tertahan.

“Masakan apa?” Tanya beliau, ada selintas nada bahagia yang melemah.

“Kare ayam, lapis daging, bihun kecambah, …”

Seraya terbayangkan sedapnya. Hmmm, sluuurp… 😊 Mamak hanya menggunakan penyedap alami berupa gula garam serta racikan bumbu rempah lainnya, dan selalu enak. Kalau Mamak memasak, bisa dipastikan hanya satu-dua kali makan selalu habis tak tersisa. Kadang bahkan anak cucunya rebutan bagian, hehehe… Sayangnya, Mamak memasaknya berdurasi lamaaa sekali 😂

Rumah klasik Mamak

“Doakan ya,” balasnya singkat, sebelum saya sempat menyebutkan deretan panjang masakan Mamak yang lain.

Baca: (Not) Into Cooking

Continue reading Rindu Masakan Mamak

Advertisements

Jeniper, Si Andalan

Jeruk nipis peras.

Elitnya sih, lemon 😂 Sayangnya, lemon lebih mahal dan susah didapat, jadi yah jeruk nipis paling pas. Untuk 6-7 biji jeruk nipis ukuran sedang, harga termahal tak sampai sepuluh ribu. Saat harga murah, malah cuma 3-4 ribuan.

Ini manfaatnya, berdasar pengalaman dan percobaan saya ya:

🍋 Mengurangi amisnya ikan.
Saya males goreng ikan pakai bumbu kunyit karena minyaknya makin kotor, ribet (mesti nguleg), dan lengket.
Untuk ikan segar, sehabis dibersihkan, dikucuri jeruk nipis, garam, merica. Diamkan sebentar. Kalau mau rasa lebih, tambahkan bawang putih cincang dan ketumbar bubuk. Sebelum digoreng, lumuri ikan dengan sedikit minyak supaya tidak menempel di penggorengan.
Tambahkan irisan jahe waktu digoreng, supaya minyak tak meletus-letus.
Rasanya, hmmm, saya suka makanan yang masih ada citarasa aslinya dan tak banyak penyedap. Begitu 😉

Pernah coba yang begini?

Continue reading Jeniper, Si Andalan

Keranjang Bambu

Sabtu pagi di sepanjang jalan A. Yani, Gedangan.

Saya mengendarai motor sambil menyanyi lagu Kupu-kupu malam. Ternyata bisa juga nyanyi lagu ini, kenapa kemaren menolak karaoke waktu di bis yah 😄 Aah, saya baperan dengan suara jelek. Padahal kan karaoke bersama bukan konser, saya bukan penyanyi, jadi suara sember pasti dimaafkan. Paling selanjutnya gak boleh dapat giliran nyanyi lagi, hihihi…

Syukurlah, keranjangnya tipis ☺

Mengendarai motor, menyanyi, sembari menyimak pengendara depan kami persis. Kanan kiri motornya sarat dengan bungkusan kerupuk mentah. Di atasnya ada beberapa keranjang bambu terikat menjadi satu tumpuk.

“Kerupuk enak nih, Shena,” kata saya pada si bocah. Hari itu kami menjemput kakak Moldy pulang sekolah.

Ada kerupuk dele, kerupuk putih, dan berbagai bentuk lainnya. Semuanya dalam kemasan plastik besar, sepertinya mau diantar ke pasar.

Lalu lalang kendaraan yang cukup padat lancar. Tiba-tiba keranjang bambu itu terlepas dari tali,

Continue reading Keranjang Bambu

Kue Tradisional dan Kenangan

One day one post, hari ketigabelas 💪

Ninih bilang, hari itu beliau akan membuat jenang. Saya, yang saat itu belum sekolah, mengikutinya ke sana kemari di pawon yang luas dan panjang. Paling ujung, tempat cuci piring, yang buangannya manual, berupa sebuah bak besar. Kalau malam, tempat ini cukup horor. Cahaya lampunya temaram, tak cukup menerangi sampai area cuci piring.

Saat Ninih berpulang ke rumah abadi, tempat inilah yang konon menjadi area pamitan Ninih. Sesuai dengan kesibukan hariannya, panci dan wajan berbunyi sendiri di tengah malam, tepat di 40 hari kepergiannya. Hiii… 😨

Kembali lagi ke area pawon. Kayu bakar, wajan besi yang sangat besar dan tebal, kompor beton dengan lubang tempat pembakaran, gula merah, santan kental dari kelapa yang baru saja diparut. Semua beraroma klasik, tanah dan hangus 😀

Continue reading Kue Tradisional dan Kenangan

Dari Bu Dokter Sp.THT Itu

Kali ini saya mengutip kisah saja ya, berhubung saya tak hadir di seminar yang bersangkutan ☺

Dokter perempuan spesialis THT itu, mengatakan bahwa bahasa isyarat bisa menjadi alternatif terakhir, jika anak tak bisa diusahakan mendengar dengan alat bantu atau verbal, mengalami difabilitas ganda, sementara usia anak semakin bertambah.

Meski masih berkaitan dengan deprivasi bahasa, saya ikut senang 😍, apalagi jika mengingat satu kisah pribadi mengenai penolakan yang materialistik itu. Huh…

Baca: Rejected.

Continue reading Dari Bu Dokter Sp.THT Itu

Ayo Ngomel Yang Tepat!

Cape habis ngojek puluhan kilometer seharian, kerjaan rumah tak pernah usai, anak-anak yang bahagia dengan rumah ala kapal pecah, hidden agenda antar emak dengan berbagai pose, suami yang diharapkan ganteng romantis tajir suka membantu, eh hihihi… ✌ Jadi tolong jelaskan bagaimana cara supaya menahan diri untuk tidak ngomel demi berdamai manis dengan keadaan? Tolooong… 😑

Repotnya, mulut perempuan itu setajam silet. Kalau lagi jengkel atau terluka, wuuush, keluarlah mantra tingkat dewi durjana yang bisa bikin orang mati kaku. Sampai ada yang memfatwakan, bahwa fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. Melawan dengan pena (kata-kata) bisa menghentikan atau malah menginisiasi pertempuran. Begitu dahsyatnya, sebuah film menggambarkan laut pun bisa marah dengan omelan beruntun seorang perempuan 😨

Continue reading Ayo Ngomel Yang Tepat!

Istilah

Spesial, berkebutuhan khusus, difabel, disabel, cacat.

Anda pilih menyebut yang mana?

Michael Stein, seorang pengacara tuli dari Amrik menjelaskan, bahwa sebutan difable adalah terbaik dibandingkan yang lain. Diffable atau differently able. Mampu dengan cara lain. Istilah ini juga yang sering disuarakan Pandji, dalam sejumlah tweet dan videonya.

Baca: Perlindungan Hukum Untuk Para Tuli

Continue reading Istilah