Bisakah Mereka Mendengar dan Berbicara? (2)

Hampir tiga tahun berlalu sejak saya menulis kemungkinan bisa mendengar dan berbicara. Sesudah menelisik semua pilihan kemungkinan, akhirnya saya menyepakati bahasa isyarat sebagai bahasa ibu dan sayalah yang mesti belajar ☺

Agak kecewa, dengan propaganda bahasa isyarat yang susah, banyak macamnya, atau bahkan dianggap sebagai bahasa tarsan. Memanfaatkan sisa pendengeran jargonnya. Indonesia may hear. Hmmm, tak semua masalah pengetahuan dan pemahaman bisa diselesaikan dengan harus mendengar.

Baca: Normal, Bahagia, Isyarat

Continue reading Bisakah Mereka Mendengar dan Berbicara? (2)

Advertisements

Di Balik Nama (2)

Balik ke nama asli, Esthy Wika, tak lagi memakai nama Daniar. Sungguh, saya bukan orang yang pinter basa-basi dan berpura-pura, hehehe… Kalaupun terpaksa berpura-pura, badan saya yang menolak, stress. Jadinya pakai identitas lain sangat memberatkan hati. Kembalilah ke nama lama, yang sudah dipakai sebagai nama pena orang lain, lalu memperbaiki visi dan misi tulisan dalam blog 😉

Baca: Hurting Heed

Nama Jemi, Moldy, Shena, tetep pada tempat masing-masing. Belum kepikiran memakai nama asli. Biarlah orang dekat saya saja yang tahu siapa saja mereka. Bahkan teman-teman saking terbawanya kisah di sini, kalau nanya,

Continue reading Di Balik Nama (2)

Jika Bubun Kerja (2)

Akhirnya, saya menolak ketika kantor lama mengajak ‘balikan’ sementara. Hehehe, nggaya banget yak 😆 Setelah menimbang dari banyak segi, diperkirakan kebaperan bakalan ekstra, hehehe…

Heran juga, gimana sih para emak itu mengatur hati saat bekerja. Belajar ilmu pengasuhan praktis meski secara solo, dari banyak sumber, sudah bikin saya menyesal meninggalkan Moldy di setahun pertama perkembangannya. Saya tak mau menyesal untuk yang kesekian kali 😑

Baca: 11 Pilar

Setiap tahapan usia punya perkembangannya masing-masing, dan tugas saya adalah mendampingi, memberikan haknya sebagai anak saya. Kata yang pro ibu rumah tangga garis keras, anak sebaiknya diasuh oleh lulusan terbaik (sarjana), bukan cuma pembantu yang lulusan SD. Eh, protesnya ke yang bikin aja ya, jangan ke saya 😂

Continue reading Jika Bubun Kerja (2)

Mendiang Ninih

Saya tinggal bersama Ninih, ibu dari Mamak, beberapa saat sebelum sekolah. Bukan hanya saya, ada juga beberapa saudara sepupu yang tinggal di sana. Rame sih, tapi…, hehehe, ndak boleh yaaa, rasan-rasan berlebihan 😂

Rumah kuno Ninih luas sekali. Meski tak ada pintu untuk masuk mobil, tapi terasnya luas, ada kebun pohon pisang dan taman kecil yang rindang. Masuk ke dalam, ada gazebo dan sebuah kamar kecil yang disewakan. Masuk ke dalam lagi ada ruang tamu yang bisa menampung dua set kursi dan satu kamar tamu. Menuju ruang tengah, ada meja makan super besar seperti yang di Perjamuan Terakhir, dengan dua kamar. Menuju dapur yang seukuran sama dengan ruang tamu, ada lorong penghubung yang setengah terbuka. Kalau hujan, air bisa masuk dan membuat jalannya basah dan licin.

Terpisah dari dapur, sebuah kamar mandi kecil dan ruang terbuka yang luas untuk mencuci dan menjemur. Ada sumur konvensional untuk ambil air dan sekaligus latihan kekuatan tangan 😁

Wow kan, rumah orang jaman dulu ☺ Makan sih seadanya, tapi lahan bisa diwariskan sampai beberapa turunan. Bisa ditempati dengan layak untuk ukuran jaman sekarang, dijual atau bahkan dijadikan ladang penghasilan melalui toko atau indekos.

Baca: Kue Tradisional

Suatu hari saya berteriak mencari beliau, “Niniiiiiiiiiiih…”

Continue reading Mendiang Ninih

Repotnya ‘Idealis’ (2)

Sebagai blogger, saya juga pengen dong menikmati fasilitas gratisan yang bisa dibayar dengan tulisan. Bisa dapat duit, makan, perjalanan, dan apapun yang berkaitan dengan tidak bayar 😛 Enak kan…

Belum lagi kalau kredibilitas oke, nanti akan ada tawaran dari perusahaan sana sini, agen ini itu, bikin vlog, kalau tenar bisa memungkinkan untuk jadi seleb 😂 Dipikir enaknya aja dulu deh, meski saya juga paham, itu berhubungan erat dengan kerja keras yang luar biasa 💪

Yang pengen kan bukan saya aja. Banyak. Efek sampingnya, iklan menjadi desah nafas yang membaris dalam linimasamu 😂

Huft…

Continue reading Repotnya ‘Idealis’ (2)

Siap Mondok?

Pengen nulis tentang ini lama sekali. Ternyata udah terkumpul beberapa cerita. Bukan untuk mendiskreditkan kehidupan di pondok ya, tapi realitanya begini. Sisi lain pendidikan. Mereka digembleng dengan keras, lulus dengan predikat diakui dunia, namun tantangan yang mereka hadapi pastinya bukan main-main.

Ini sebagian yang pernah saya dengar, dari narasumber langsung dan cerita ortu. Jika ada kesalahan dan kebenaran, tetaplah tabayyun dengan khusnudzon. Semua orang memiliki porsinya masing-masing. Tak semua yang dihadapi orang lain, pasti kita hadapi ☺

Continue reading Siap Mondok?

Diet Agama (2)

Menurut anda, agama sebenarnya diturunkan dari orang tua atau benar hidayah?

Hmmm….

Mari disimak beberapa kisah contoh berikut 😉
Nabi Ibrahim bukanlah penyembah berhala seperti orang tuanya.
Anak yang dibunuh Nabi Khidr karena nantinya akan menjadi seorang pembunuh.
Anak Nabi Nuh yang durhaka dan tenggelam bersama air bah.
Sekilas kisah itu menunjukkan bahwa pengasuhan adalah usaha, sedangkan hasilnya wallahualam ☺

Beriman adalah hidayah, yang bisa diusahakan. Iya, dulu jaman belum banyak manusia, beberapa terpilih untuk menyampaikan risalah kepada umatnya masing-masing, mengajak kepada tauhid. Dengan makin berkembangnya akal dan pengetahuan, risalah itu dijadikan tertulis, yang kemudian menjadi pedoman kita dalam usaha menjaga iman hari-hari ini ☺

Mengapa sih kita harus beragama?

Continue reading Diet Agama (2)