Resep Warisan Mamak: Roti Isi Komplit

Ini adalah salah satu resep andalan Mamak, waktu masih rajin PKK dulu. Sekarang Mamak sudah 70 lebih, saya yang kadang mewakili beliau di kegiatan kampung. Aiih, menyanyi mars PKK aja berasa masuk ke mesin waktu dan kembali ke masa penataran P4 😄
Saya sering bantuin bikin ini. Lebih tepatnya kami berempat selalu membantu Mamak dengan tangan ajaibnya. Beberapa karya kudapan yang sempat menambah penghasilan Mamak antara lain rempeyek kacang (kacangnya utuh namun empuk), sambal pecel, pukis berjuta kuning telur 😂, puding rumput, misoa, mata bagong, kaki naga, sandwich goreng (resep berikut ini), dan banyak lagi.

Keahlian Mamak ini menurun ke Winnie. Ke saya, ya standar sih, main insting sebagai emak aja. Memasak dan bikin kue bukan melulu soal kemampuan sih, tetap butuh kerja keras dan banyak eksperimen. Untuk soal memasak, saya anggap tak ada yang tak bisa memasak, adanya males mencoba. Ini kan perkara naluri, kebutuhan hidup, masa sih gak bisa 😉

Baca:  Winnie The Cook

Oke, pengantarnya agak kebanyakan, jadi langsung menuju resep yah…
Ini tak pakai takaran pasti ya, semua serba kira-kira, hehehe…

Continue reading Resep Warisan Mamak: Roti Isi Komplit

Advertisements

Dongeng Menggawai

“Ndil indil brong, sangune brondong sak gentong. Ndiiil…”

Kisah para anak tikus yang menunggu ibunya pulang membawa makanan. Sebelum masuk ke sarang, ibunya mengucap password itu, supaya anak-anaknya tak terjebak dengan muslihat para pemangsa. Eh, password ini rupanya diamati dan dihafalin sama si kucing. Kena deh, para cindhil ini disantap si kucing sampai habis. Ibunya mengucap password dan berbalas hampa 😯

Itu yang cerita, Bapa saya ☺ Dengan berkaos singlet putih yang selalu beliau gunting bagian tengahnya supaya tak terlalu menjerat leher, serta celana pendek warna hijau toska. Baju kebesaran saat santai di rumah 😉
Continue reading Dongeng Menggawai

Kue Bantat Pengasuhan

Latest issues
“Kita jadi ortu yang mesti berperang dengan kejahatan digital, dengan konten bebas tak berbatas. Aku gak tahu gimana lagi cara mengontrol anak-anak agar tak banyak teracuni,” cerita Winnie, memulai obrolan tentang gawai dan pengasuhan.

“Berat ya jadi ortu jaman now,” tukas saya.

“Akan lebih berat lagi beban anak-anak ini, yang dibesarkan di era digital. Mereka juga jadi orang tua nantinya. Mereka akan menemui tantangan seperti apalagi…”

😯😯

Tak sanggup lagi berandai. Kalau memang sesuai firasat dan perkiraan, rasanya kok ini sudah sampai di tahap ultima teknologi. Entah nanti kita akan mencapai masa kendaraan pribadi yang terbang membelah langit atau malah meluncur anti klimaks dan kembali berpacu menunggang kuda, wallahualam 😉

Continue reading Kue Bantat Pengasuhan

Bully: Bukan Pilihan

Dokter Helene Guldberg, melalui artikelnya yang berjudul Sorry, But It Can Be Good For Children To Be Bullied (2010), menulis bahwa bagi anak-anak, membela diri saat dibully bisa menjadi sebuah langkah penting dalam perkembangan masa kecilnya.*

😑:?😯

Continue reading Bully: Bukan Pilihan

Lambat

“Bisakah kamu berjalan lebih cepat?” Pintaku pada Shena saat kami jalan bersama.

“Aku tidak bisa,” tukasnya pasrah.

Hampir kemanapun aku pergi, Shena selalu mengikutiku, menggandengku, dan mau tak mau aku harus menyamai langkah kecilnya. Jika aku terburu-buru, dia akan mengikutiku dengan berlari lalu marah-marah.

“Bubun jangan cepat-cepat!”
:?:?

image

Continue reading Lambat