(Jangan) Abaikan Bully Kecil!

One day one post, hari kedua 💪

Jadi anak bungsu yang selalu dikekep Mamak sampai mau kuliah, berbekal wajah culun yang sering dibilang mirip orang-orang jelek, dibully adalah hal yang sering saya alami. Jadi kuat? Relatif sih, mewekan iya 😂 Begitu anak-anak sendiri mengalami masa dibully, rasanya antara jengkel perasaan sebagai induk tapi juga berusaha cuek.

Baca: Bully: Bukan Pilihan

Mereka akan bisa melaluinya, inshaallah. Semoga 💪

Mengutip dari situs halopsikolog, bully diartikan sebagai perilaku agresif dari pihak dominan kepada pihak yang lemah, dengan tujuan menyakiti dan dilakukan secara berulang. Bentuknya bisa verbal, fisik, atau gabungan keduanya. 

Continue reading (Jangan) Abaikan Bully Kecil!

Advertisements

OTW: Bisindo (1)

Dengan isyarat yang terbata-bata, saya sampaikan kepada Moldy, bahwa kami akan belajar bahasa isyarat untuknya, agar kita bisa ngobrol lebih banyak. 

Moldy menyatakan bahwa dia senang sekali 😍


Belajar sepatah demi sepatah melalui medsos, tak cukup membuat saya langsung mahir. Meski demikian, isyarat ibu masih bisa berlaku ya. Saya maksimalkan itu, dan Moldy menanggapinya dengan sangat positif. Amarah dan kekecewaannya pun jadi lebih terkendali. Jika tak paham sesuatu, dia mengangsurkan spidol dan meminta saya menulis serta menggambar di papan tulis.
Continue reading OTW: Bisindo (1)

The Spicher

One day, Shena came home with tears. She said, her teacher yelled at whatever she asked, also made a slap at her cheek sometimes 😨 At home, Shena asked me everything and I replied well. She thought it would be the same at school. No, of course, her teacher was so ‘old-way’ 😂


Jemi and I had made a silent committment, based on our own educational past, that we wouldn’t interfere too far. I was about to get angry, but I also wanted her to face the real world. So…
Continue reading The Spicher

Tiga Pilihan

Tunarungu atau tuli, adalah salah satu kebutuhan khusus yang bisa disamarkan. Selama dia diam, tak kelihatan alat bantunya, dan juga tak berdampingan dengan kebutuhan khusus lain, seorang tuli nampak seperti seseorang yang normal. Pilihan penanganannya lebih bervariasi, dengan tingkat keberhasilan hampir mendekati normal. Sayangnya, pilihan penanganan seringkali dihubungkan dengan kemampuan material. Tidak sesederhana itu yaa 😐 Kerja keras tak bisa disepadankan dengan sejumlah uang berapapun…

Banyak sekali kisah implant, yang didanai dari bantuan sosial yayasan, utang, BPJS, dan yang paling diterima nalar masyarakat adalah, pendanaan dari asset orang tua yang melimpah ruah. Catat ya, implant bukan selalu berarti orang tuanya kaya, tapi yang mengusahakan pilihan maksimal (disertai kemampuan yang menunjang) demi kenormalan buah hatinya ☺

Dengan tingkat keberhasilan hampir mendekati sempurna, sebagian orang tua kemudian menggantungkan sepenuhnya pada ‘kesaktian alat’. Semakin mahal harga sebuah pilihan, pun semakin rumit perawatan dan perjalanannya menuju ‘sempurna’. 

Continue reading Tiga Pilihan

Prov-Antiv

Dengan information-overwhelmed, saya jadinya malah males mikir 😯

Moldy dan Shena, sebagai warga negara yang berusaha berpikiran baik dan benar, sudah disuntik vaksin MR (measles, rubella). Detail penyakit silakan googling sendiri ya…

Jika tak salah kira, Moldy menyandang ketulian karena virus rubella, yang kabarnya memang lebih suka sama ibu hamil. Pembawanya malah rapopo. Makanya, para pembawa inilah yang disuruh jadi ‘tentara’ yang berangkat perang, sehingga (diharapkan) efek samping rubella bisa dikurangi sebanyak mungkin. Sepakat tak sepakat (untuk vaksin) itu pilihan anda 😉 Edukasi silakan, intimidasi jangan ya…

Jika anda kebanyakan kelayapan di timeline yang hobi ‘memainkan perasaan dan keputusan orang lain’, di situlah ujian anda sebagai pengakses medsos 😂 Hayati lelaah, tapi kenapa nemuuu aja di timeline. Ini sebagian hasil kelayapan yang hampir bikin galau jiwa:

-continue reading

Kurikulum: Membuang Sampah

Fungsi latihan membuang sampah pada tempatnya:
🚮 Mengetahui bahwa bak besar yang ditaruh di pinggir atau di pojokan, dengan tutupnya, adalah tempat pembuangan sampah yang sah 😉 Bukan dibuang sembarangan di jalan raya tempat orang lalu lalang. Jalanan bukan semesta sampah!

🚮 Melatih tanggungjawab, bahwa apa yang tersisa dari yang kita gunakan, tak boleh ditaruh sembarangan, berikan tempat yang tepat agar tak mengganggu pemandangan, mengundang lalat, dan sebagainya.


-continue reading

Perlindungan Hukum Untuk Para Tuli

Seminar diadakan di Universitas Sanata Dharma, Kampus I, Sleman, pada hari Minggu, 6 Agustus 2017. 
Kesetaraan antara penggunaan dan pemahaman istilah tuli maupun tunarungu, masih menjadi perdebatan. Meski, diskriminasi tetap menjadi ‘bumbu’ utama yang tak bisa hilang sepenuhnya dalam perjuangan menuju setara bagi kaum tuli. Saya menggunakan istilah tuli di sini, menghormati kenyamanan identitas mereka ☺

Supaya ringkas, saya pakai mode tanya jawab. Ada beberapa sumber yang saya tambahkan sebagai data tambahan, serta beberapa tanya jawab selama acara yang saya jadikan materi langsung di bawah ini. Selamat menyimak ☺

Siapa sajakah pembicaranya?
Prof. Michael Steven Stein dari Washington AS, seorang tuli yang bahkan baru belajar bahasa isyarat di usia 24 tahun. Dia menempuh pendidikan bidang hukum di Universitas Harvard dan Princenton, dengan predikat summa cumlaude.
Drg. Juniati Effendy, seorang tuli yang menempuh pendidikan di Dena Upakara Wonosobo, lalu menempuh pendidikan kedokteran di Universitas Prof. dr.Moestopo, Jakarta. Sekarang prakteknya di Jakarta Barat.

Apakah tujuan seminar itu diadakan?
1. Sosialisasi UU no 8 tahun 2016 mengenai kesetaraan hak tuli dan juga para difabel lain di berbagai bidang, mengingat CRPD (Convention on the Rights of a Person with Disability) sudah disahkan oleh PBB sejak 30 Maret 2007. Ada 240 pasal yang diajukan untuk perbaikan nasib para tuli, namun banyak yang dihapus sehingga tersisa 150 pasal.
2. Memberikan advokasi (bantuan hukum) kepada para tuli untuk mendapatkan hak dan fasilitas sesuai dengan kebutuhan kekhususannya.
3. Memfasilitasi keluhan para tuli akan diskriminasi di masyarakat, supaya bisa ditindaklanjuti ke pemerintah bahkan ke tingkat internasional, karena undang-undang kesetaraan ini sudah disetujui sejak tahun 2014 oleh 150 negara termasuk Indonesia.

Siapa sajakah yang termasuk dalam kategori kaum disabilitas (dengan keterbatasan)?
Mereka yang memiliki keterbatasan:
1. Fisik, seperti tunadaksa
2. Intelektual, seperti tunagrahita
3. Mental, seperti schizoprenia, bipolar
4. Sensorik, seperti tuli, buta.

Continue reading Perlindungan Hukum Untuk Para Tuli