2018: Manfaat Puasa Bagi Anak

Puasa bagi anak sebelum mereka baligh adalah puasa hore-hore. Belum wajib, tak ada dosa, wallahualam soal pahala.

Buat Moldy dan Shena manfaat puasa antara lain:
🌞 Menambah napsu makan, kan jam makannya dimundurkan, dipindah, sehingga perut butuh asupan lebih.

🌞 Melatih kesabaran. Heran, mereka jadi lebih tenang dan tidak mudah marah dibandingkan hari biasanya. Mungkin begini ya, kalau anak belum punya dosa atau dosanya masih sedikit, efek sampingnya cepat bekerja 😊

Continue reading 2018: Manfaat Puasa Bagi Anak

Advertisements

Celoteh Shena

Dipukul kakak
“Huaaaa, huaaa, dipukul kakak” tangis Shena, lapor kepada saya yang sedang mencuci piring.

Menghela napas panjang, itu sudah yang kesekian kalinya, dan cerdiknya Moldy yang selalu mengambil kesempatan ketika Bubun lengah atau tak ada bersama mereka. Oh, anak lelaki…

“Kakak itu kok selalu ya… sudah, besok kita taruh kakak di asrama ya, biar ga nakal lagi,” tukas saya (pura-pura) geram.

Continue reading Celoteh Shena

A Splash

Siang itu, sekitar pukul dua, anak-anak minta disetelin Lego, versi si Emmet.

Everything’s awesome, everything is cool when you’re part of a team…

Saya mau bayar tidur aja ah, cape banget. Toh film ini udah lulus sensor saya, mereka juga udah nonton berkali-kali, paling entar kalau bosen, mereka juga bisa mainan sendiri. Pagar udah dikunci, aman, ga mungkin mencolot keluar kan… 😃

Continue reading A Splash

Shena, The Shadow

“Kapan sih kakak bisa ngomong? Biar aku gak malu sama teman-temanku,” protes Shena, lagi, ketika kami menjemputnya pulang sekolah.

😑😑

Saya sedang belajar diam, mencoba membiarkan dia menyimpulkan sendiri. Soal sakit hati atau sedih sih, inshaallah tidak. Tidak banyak maksudnya, hahaha…

Continue reading Shena, The Shadow

The Spicher

One day, Shena came home with tears. She said, her teacher yelled at whatever she asked, also made a slap at her cheek sometimes 😨 At home, Shena asked me everything and I replied well. She thought it would be the same at school. No, of course, her teacher was so ‘old-way’ 😂


Jemi and I had made a silent committment, based on our own educational past, that we wouldn’t interfere too far. I was about to get angry, but I also wanted her to face the real world. So…
Continue reading The Spicher

“Mama Moldy…”

“Ini nih, si anak yang diludahi dan ditendang sama Zen,” adu seorang anak abege, ketika saya dan Shena melewati segerombolan anak di depan toko penganan. Duh nak, kenapa mesti nunggu temanmu ngumpul baru kamu bilang? 😯 Kita kan tiap hari ketemu…

Si anak yang dia maksud adalah Shena. Zen yang dia maksud adalah anak kebutuhan khusus yang tiap sore datang ke rumah saya, menggoyang pagar, seraya memanggil dengan lembut, “Mama Moldy.”

‘Petugas patroli’ sore

“Haaaii…” sapa saya antusias. 

“Minta es krim,” katanya tanpa basa-basi. Sekali dikasi es krim bikinan saya sendiri, tiap ketemu minta es krim terus 😒

-continue reading

Lomba Lumba

Kata ibunya Fawaz, salah satu juara hafidz Indonesia, lomba bukan untuk meraih kemenangan, tapi mendapatkan pengalaman. Bukan sekadar bersaing, Fawaz juga bisa belajar dari peserta lainnya, seperti Mashita yang buta tapi bisa hafal beberapa juz di usia 8 tahun. 

Minggu pagi (20/08) adalah lomba mewarnai yang diikuti Shena yang kesekian. Waktu TK dulu, saya cuma mendampingi sekali dua kali, lalu sudah. Ustadzah melarang anak didampingi supaya mandiri dan saya sepakat sekali. Di lomba pertama, Shena dapat peringkat ketiga dan itu jadi penggenjot semangat kami untuk bisa lagi dan lagi. Tapi yaaah, selanjutnya saya yang mesti memompa semangatnya agar tak lelah mencoba terus, karena kekalahan kemudian datang bertubi-tubi 😀

Lomba kali ini, saya minta bantuan les kilat dari ibu temannya Moldy untuk mengajari dan menilai hasil latihan Shena. So far so good. Saya udah niat mbandani dengan beli crayon yang agak bagus (biasanya ngandalin sekolah 😅). Pengen sih, menganggarkan Carandache, crayon terbaik yang kadang dilarang dipakai di beberapa lomba, karena terlalu cantik. Harganya seharga hampir sejuta untuk sekitar 48-60 warna. Bandingkan dengan Faber Castell yang tak sampai dua ratus ribu untuk 60 warna, atau Titi yang seratus ribuan. Dua nama terakhir sudah cukup bagus sih, tinggal mengasah teknik dan latihan terus menerus sampai mahir. 

Shena melambai tak percaya diri, apalagi melirik gambar di sekitarnya seperti ini

Ini yang dapat peringkat pertama

-continue reading