Resep Warisan Mamak: Roti Isi Komplit

Ini adalah salah satu resep andalan Mamak, waktu masih rajin PKK dulu. Sekarang Mamak sudah 70 lebih, saya yang kadang mewakili beliau di kegiatan kampung. Aiih, menyanyi mars PKK aja berasa masuk ke mesin waktu dan kembali ke masa penataran P4 πŸ˜„
Saya sering bantuin bikin ini. Lebih tepatnya kami berempat selalu membantu Mamak dengan tangan ajaibnya. Beberapa karya kudapan yang sempat menambah penghasilan Mamak antara lain rempeyek kacang (kacangnya utuh namun empuk), sambal pecel, pukis berjuta kuning telur πŸ˜‚, puding rumput, misoa, mata bagong, kaki naga, sandwich goreng (resep berikut ini), dan banyak lagi.

Keahlian Mamak ini menurun ke Winnie. Ke saya, ya standar sih, main insting sebagai emak aja. Memasak dan bikin kue bukan melulu soal kemampuan sih, tetap butuh kerja keras dan banyak eksperimen. Untuk soal memasak, saya anggap tak ada yang tak bisa memasak, adanya males mencoba. Ini kan perkara naluri, kebutuhan hidup, masa sih gak bisa πŸ˜‰

Baca:  Winnie The Cook

Oke, pengantarnya agak kebanyakan, jadi langsung menuju resep yah…
Ini tak pakai takaran pasti ya, semua serba kira-kira, hehehe…

Continue reading Resep Warisan Mamak: Roti Isi Komplit

Advertisements

Jalan Kaki Masih Favorit

“Lihat kakimu bengkak, ini pasti gara-gara kamu kelupaan jalan kaki tanpa henti,” canda seorang teman kos.

πŸ˜‚πŸ˜‚

Ceritanya, saya habis dari rumah seorang teman di daerah Karang Menjangan, sekitar Unair, Surabaya. Dasar anak kos, demi pengiritan dan kebetulan nunggu angkot P gak lewat-lewat, akhirnya saya jalan aja sampai Gubeng Kertajaya. Eh saking keasyikan melamun, sampai saya kelewatan beberapa gang dari jalan pulang πŸ˜„

Sudah tak peduli lagi dengan Surabaya yang begitu panasnya. Cukup jalan menunduk, bawa payung, atau bertahan sebentar di teduhan untuk lanjut jalan. Paling jarang bawa payung. Beberapa kali beli atau dikasi, berujung lupa ditaruh di mana πŸ˜₯

Continue reading Jalan Kaki Masih Favorit

Yuk, Bijak Mengonsumsi Obat Tradisional

Beberapa kali saya mendengar kasus yang kurang lebih sama. Pasien dengan penyakit berat seperti kanker, terlambat ke dokter karena mengandalkan pengobatan tradisional, sehingga stadiumnya meningkat dari pemeriksaan awal. Tak hanya itu, bagi kita para emak yang mengalami masa melahirkan, pasti ada dokter yang benar-benar melarang penggunaan rumput fatimah dan binahong πŸ˜‰


Benarkah obat tradisional tidak memiliki khasiat untuk menyembuhkan? Apakah kita harus sepenuhnya bergantung pada obat kimia?
Continue reading Yuk, Bijak Mengonsumsi Obat Tradisional

Penganan Berbahan Serba 7Β 

Resep berikut ini sering saya buat sebagai penganan anak-anak, sampai mereka bosan πŸ˜‚ Kalau teman-temannya datang, alhamdulillah doyan juga. Kadang ada anak yang datang, cuma karena pengen dibikinin kentang atau donat. Ada juga teman sekolahnya Shena yang suka menungguinya membuka bekal, karena mereka gak dikasi bekal sama ibunya. Hiks, jadinya bukan ge-er, tapi kasihan. Ternyata bekal apapun, meski bukan bento yang cantik, tetep menyenangkan lho bagi yang bawa πŸ˜‰

Semua resep ini pakai takaran yang mudah ditemui di rumah ya. Tak ada timbangan, tak masalah kok, udah saya kasi alternatif yang lebih gampang. Angka tujuh ini sebagai pengingat kalau anda malas buka resep. Jadinya bisa kan, dimasak berulang dan di mana saja asal ada bahan ☺

No oven, no alat rumit. Ada mikser sih, tapi bisa diganti blender atau whisk kok πŸ˜‰

Continue reading Penganan Berbahan Serba 7Β 

Cantik Tak Harus Putih

Kulit saya sawo matang, dan pernah beberapa bulan memakai pemutih, lupa merknya. Hasilnya memang seperti iklan, langsung memutih dalam beberapa hari, kemudian kembali semula jika pemakaian tak dilanjutkan 😐

Krim pemutih memiliki efek samping yang cukup beresiko. Yang paling jamak terjadi, antara lain hiperpigmentasi atau jadi lebih gelap, vitiligo atau kehilangan pigmen dan kulit jadi belang, juga lapisan kulit yang menipis akibat bahan pemutih yang mengikisnya. Lebih lengkapnya bisa dibaca di situs alodokter ya ☺

Menurut feminis Luh Ayu Saraswati, pemutih adalah sebuah bentuk penjajahan emosi. Perempuan terbelenggu dalam dogma kecantikan sebagai kulit putih dan mancung. Mereka tak dibebaskan memahami emosinya sendiri, tentang siapa dan bagaimana dirinya secara utuh.

Continue reading Cantik Tak Harus Putih

Mengajak Si Spesial Keluar Kota

Ini kisah flashback ya, saat anak-anak masih balita, belum sekolah. Tentang perjalanan bertiga keluar kota, sudah saya lama saya tuliskan. Sekarang mau cerita perjalanan keluar provinsi, baru berani mengajak per satu anak πŸ˜‰

Baca:Β Perjalanan Keluar Rumah Bersama Krucils

Kami berdua ke Jogja, di usia Moldy yang baru 4.5 tahun. Masih sering tantrum, terapi wicara jalan di tempat, dan sering menghilang karena penasaran akan sesuatu 😨

Siap berkelana sendiri πŸ˜‚

Naik kereta Sancaka dari stasiun Gubeng, berangkat sekitar jam 7-8 pagi. Awal berangkat masih kooperatif, tidur ayam dengan kepala terkulai di pangkuan saya.

Continue reading Mengajak Si Spesial Keluar Kota

Bully (3): (Jangan) Abaikan!

Jadi anak bungsu yang selalu dikekep Mamak sampai mau kuliah, berbekal wajah culun yang sering dibilang mirip orang-orang jelek, dibully adalah hal yang sering saya alami. Jadi kuat? Relatif sih, mewekan iya πŸ˜‚ Begitu anak-anak sendiri mengalami masa dibully, rasanya antara jengkel perasaan sebagai induk tapi juga berusaha cuek.

Baca:Β Bully: Bukan Pilihan

Mereka akan bisa melaluinya, inshaallah. Semoga πŸ’ͺ

Mengutip dariΒ situs halopsikolog, bully diartikan sebagai perilaku agresif dari pihak dominan kepada pihak yang lemah, dengan tujuan menyakiti dan dilakukan secara berulang. Bentuknya bisa verbal, fisik, atau gabungan keduanya.

Continue reading Bully (3): (Jangan) Abaikan!