Para Guru

Ini guru-guru saya. Mulai dari SD hingga kuliah. Tak semua ya, hanya beberapa yang teringat dan juga menarik untuk diceritakan 😉

👑 Bu KRN
Beliau pernah memukul kaki saya, dengan lembut. Penyebabnya, saya selalu berlari kemana-mana, jarang berjalan. Takut ditegur lagi, saya berusaha berjalan dengan menekan hentakan pegas di kedua tumit. Waaa, tersiksa sekali. Saya mulai menyadari, bahwa kalau Moldy super umek, saya pun mesti bercermin 😄

Beberapa tahun berlalu sejak pensiun, ternyata beliau masih ingat dengan saya.
“Nak, apakah kau masih menulis dengan huruf kotak?” 😳 sapanya ketika tak sengaja kami bertemu.

Hehehe, dulu saking panjangnya waktu ujian dan sedikitnya soal, saya menghias tulisan supaya selesainya lama. Lha piye, mau keluar duluan juga gak boleh.. 😃

👑 Bu MRN
Beliau sangat menyayangi Dunan, yang selalu juara kelas, paling tidak tiga besar. Dunan juga pendiam dan penurut, tidak seperti adik perempuannya yang berantakan. Peringkat saya, entahlah, lupa 😂 Dengan perbedaan siblings yang njomplang itulah, sepertinya beliau jaga jarak dengan saya.

Continue reading Para Guru

Advertisements

Lomba Lumba

Kata ibunya Fawaz, salah satu juara hafidz Indonesia, lomba bukan untuk meraih kemenangan, tapi mendapatkan pengalaman. Bukan sekadar bersaing, Fawaz juga bisa belajar dari peserta lainnya, seperti Mashita yang buta tapi bisa hafal beberapa juz di usia 8 tahun. 

Minggu pagi (20/08) adalah lomba mewarnai yang diikuti Shena yang kesekian. Waktu TK dulu, saya cuma mendampingi sekali dua kali, lalu sudah. Ustadzah melarang anak didampingi supaya mandiri dan saya sepakat sekali. Di lomba pertama, Shena dapat peringkat ketiga dan itu jadi penggenjot semangat kami untuk bisa lagi dan lagi. Tapi yaaah, selanjutnya saya yang mesti memompa semangatnya agar tak lelah mencoba terus, karena kekalahan kemudian datang bertubi-tubi 😀

Lomba kali ini, saya minta bantuan les kilat dari ibu temannya Moldy untuk mengajari dan menilai hasil latihan Shena. So far so good. Saya udah niat mbandani dengan beli crayon yang agak bagus (biasanya ngandalin sekolah 😅). Pengen sih, menganggarkan Carandache, crayon terbaik yang kadang dilarang dipakai di beberapa lomba, karena terlalu cantik. Harganya seharga hampir sejuta untuk sekitar 48-60 warna. Bandingkan dengan Faber Castell yang tak sampai dua ratus ribu untuk 60 warna, atau Titi yang seratus ribuan. Dua nama terakhir sudah cukup bagus sih, tinggal mengasah teknik dan latihan terus menerus sampai mahir. 

Shena melambai tak percaya diri, apalagi melirik gambar di sekitarnya seperti ini

Ini yang dapat peringkat pertama

-continue reading

Ini, Bapa

Bapa hampir selalu menjemput dan mengantarku sekolah, mulai dari aku TK sampai aku SMU. Sempat terputus saat aku SD hingga separuh SMP karena ada Dunan dan Hiu yang menemaniku, juga karena kesibukan Bapa yang mempersiapkan mutasi kerja.

Waktu masih TK, aku sering mencubiti Bapa sepulang sekolah, karena Bapa tak mau membelikan aku kue 😆 Hihihi, usil anak tengil. Aku baru saja paham, bahwa Bapa benar-benar tak punya uang. Semua uang gaji diserahkan kepada Mamak, dengan jumlah yang terbatas dan harus diatur benar demi kepul asap dapur dan biaya sekolah kami berempat.

image

Continue reading Ini, Bapa

Pak Sopir, Terima Kasih Atas Kebaikannya

Aku ini penumpang harian setia angkot W, trayek Surabaya-Sidoarjo. Banyak kisah di dalamnya, sejumlah obrolan dan kejadian antara para penumpang juga dengan pak sopir. Kali ini kubuka dengan kebaikan para bapak sopir. Maunya nulis tentang sopir yang nyebelin, ndilalah pas nulis malah yang kueling yang baik semua. Batal deh… 😇

image
Dekat flyover Wonokromo

Pak sopir yang gak ngetem meski penumpang hanya 1-2 orang saja. Ongkos juga gak dipalak lebih.

Continue reading Pak Sopir, Terima Kasih Atas Kebaikannya