Mendiang Ninih

Saya tinggal bersama Ninih, ibu dari Mamak, beberapa saat sebelum sekolah. Bukan hanya saya, ada juga beberapa saudara sepupu yang tinggal di sana. Rame dan rasanya nano-nanoΒ πŸ˜‚

Rumah kuno Ninih luas sekali. Meski tak ada pintu untuk masuk mobil, tapi terasnya luas, ada kebun pohon pisang dan taman kecil yang rindang. Masuk ke dalam, ada gazebo dan sebuah kamar kecil yang disewakan. Masuk ke dalam lagi ada ruang tamu yang bisa menampung dua set kursi dan satu kamar tamu. Menuju ruang tengah, ada meja makan super besar seperti yang di Perjamuan Terakhir, dengan dua kamar. Ruang tengah dan dapur dihubungkan lorong yang setengah terbuka. Kalau hujan, air bisa masuk dan membuat jalannya basah dan licin.

Dapurnya sepanjang ruang tamu dengan satu kamar tidur. Terpisah dari dapur, sebuah kamar mandi kecil dan ruang terbuka yang luas untuk mencuci dan menjemur. Ada sumur konvensional untuk ambil air dan sekaligus latihan kekuatan tangan 😁

Wow kan, rumah orang jaman dulu ☺ Makan sih seadanya, tapi lahan bisa diwariskan sampai beberapa turunan. Bisa ditempati dengan layak untuk ukuran jaman sekarang, dijual atau bahkan dijadikan ladang penghasilan melalui toko atau indekos.

Baca: Kue Tradisional

Suatu hari saya berteriak mencari beliau, “Niniiiiiiiiiiih…”

Continue reading Mendiang Ninih

Advertisements

Siap Mondok?

Pengen nulis tentang ini lama sekali. Ternyata udah terkumpul beberapa cerita. Bukan untuk mendiskreditkan kehidupan di pondok ya, tapi realitanya begini. Sisi lain pendidikan. Mereka digembleng dengan keras, lulus dengan predikat diakui dunia, namun tantangan yang mereka hadapi pastinya bukan main-main ☺

Ini sebagian yang pernah saya dengar, dari narasumber langsung dan cerita ortu. Jika ada kesalahan dan kebenaran, tetaplah tabayyun dengan khusnudzon. Semua orang memiliki porsinya masing-masing. Tak semua yang dihadapi orang lain, pasti kita hadapi ☺

Continue reading Siap Mondok?

S.O.c.S. (2)

Saya bukan manusia gawai kalau di luar. Pengennya ngobral-ngobrol sama orang baru, yang punya cerita dan pengalaman beda-beda. Apa daya, hampir semua sibuk dengan gawai masing-masing. Ambil pose pun kalau ingat merasa perlu rekam jejak. Ndilalah, kamera saya tak berfungsi. Saya tetap hidup kok, dan baik-baik saja. Cuman jadinya merepotkan Jemi, saya minta dia ambil foto dan video sana sini πŸ˜€

Berhubung juga bukan manusia #latepost, maka foto-foto ke Wisata Mangrove Surabaya baru saya unggah ke instagram beberapa hari sesudahnya. Menulis ini pun beberapa bulan setelahnya, hihihi… Tentu saja selalu telat nanya apakah saya sedang di Surabaya 😁 Udah pulang lah. Selain pertanyaan teknis lainnya, ada pertanyaan menggelitik dari seorang teman yang sedang di Ostrali, mengikuti suami kuliah.

“Dikasi pelampung gak? Atau kita mesti siap sendiri?”

Aseli coklat, tanpa edit, saking panasnya

Continue reading S.O.c.S. (2)

‘Gaung’ Isyarat

Saya pernah bertekad, bahwa Moldy tak akan sekolah di SLB supaya dia bisa bergaul dengan anak dengar, tak akan berbahasa isyarat supaya verbalnya lebih terasah. Pokoknya dia harus bisa berbicara seperti orang biasa. Semaksimal mungkin. Senormal mungkin πŸ˜‘

Apa daya, terapi wicara mengalami perkembangan lambat, maju satu langkah lalu mundur dua langkah 😒 Belum lagi menangani tantrumnya yang hampir tanpa henti. Disuruh bilang A, keluarnya B. Terus dipaksa, dia memilih melarikan diri atau cuma diam sambil melotot seolah mengatakan, “Aku males, aku emoh, so what?” πŸ˜„

Continue reading ‘Gaung’ Isyarat

Pengasuhan Ala Jerman

Pertama kali pergi ke Berlin, aku merasa seperti gila sendirian. Para orang tua berkumpul bersama dan minum kopi. Sementara anak-anaknya, bergelantungan di sebuah naga kayu yang tingginya 20 kaki, beralaskan tanah, saja. Mana matras empuknya? Mana pengawas keselamatan? Hufft…

Tinggi juga ya 😯

Achtung, nein…” teriakku panik, dalam bahasa Jerman yang tak fasih πŸ˜‘

Eh, para orang tua dan anak-anak cuek, tetap melanjutkan kegiatan masing-masing.

Continue reading Pengasuhan Ala Jerman

PR Anak Bukan PR Emak

Waaa, malesnyaaa kalau ada pesan dari bu guru, mohon bantu/dampingi anak saat mengerjakan PR. PRnya berantakan dianggap tanpa pengawasan 😯

Buat satu anak difabel, waktunya mesti pas supaya dia berkenan dikoreksi, supaya dia tidak emosional. Buat satu anak saya lagi yang sregep dan agak perfeksionis, saya mesti mengatur cara agar dia tidak stress kalau tak bisa mengerjakan. Saya tak memasang target harus benar semua, asal paham saat ditanya dalam kondisi bebas, tanpa terikat pakem pelajaran, sudah cukup.

Sayangnya, saya kurang sepaham dengan sebagian guru dan kurikulum. Bagi seorang guru, 1-2 salah berarti saya tak mendampingi. Buat seorang anak, 1-2 salah sudah bikin dia stress, karena dia dimarahi kalau bertanya terlalu banyak ke gurunya. Nah, kita tak bisa pukul rata kan, target ortu atau guru bukan selalu sama dengan keinginan anak πŸ˜‰

Continue reading PR Anak Bukan PR Emak

Nilai 0

Rahangnya mengeras, siap melontarkan amarah, yang selalu berhasil ditahannya. Tak pernah menyebut nama anak demi menunjukkan kesalahannya. Hanya diam, membuat kami kelimpungan sendiri. Saya salut pada pak guru ini. Tegas, fokus, baik.

“Ada yang tahu artinya tanda sukat?”

Seisi kelas hening. Tak ada yang berani menjawab.

“Kenapa bisa semua dapat 0?”

Masih hening.

Kami didiamkan cukup lama tanpa banyak pelajaran, sampai tiba waktu istirahat. Di luar, saya dan teman-teman saling bercerita reaksi orang tua masing-masing.

Continue reading Nilai 0