Cucu Jowo

Kata pakdhenya, Moldy adalah cucu Mamak yang paling Jowo. Sebenarnya saya kurang suka istilah rasialis begini, tapi karena meninggikan anak saya, ya harus terima dong 🀣

Waktu saya bilang kalau Bapa meninggal, Moldy menghibur saya supaya sabar dan sangat kooperatif dalam perjalanan pulang ke Batu. Yang kemudian dia datangi pertama adalah Mamak, dielus rambutnya lalu dadanya pertanda Mamak harus sabar. Itu bukan cuma sekali, dia selalu melakukannya tiap kali ketemu Mamak. Saya tidak mengajarinya, dia yang berinisiatif sendiri 😘

Baca: Bergaul

Bantu bawa belanjaan

Continue reading Cucu Jowo

2019: Kenapa Harus Puasa?

“Puasamu penuh? Gak batal waktu duhur?” Tanya saya pada seorang teman Shena.

“Iya, sampai magrib,” jelasnya.

“Waaah hebat, kuat ya. Shena itu kadang duhur minum, kalau lagi gak kuat,” tukas saya.

“Kalau gak puasa, nanti dimarahi sama mama.”

“Jadi puasanya biar gak dimarahi mama?”

“Iya. Kalau gak puasa magrib dimarahi mama. Kalau puasa duhur aja dimarahi ustadzah.”

“Kalau gitu gak usah puasa aja, gimana,” usul saya jahil.

“Gak ah, nanti tabelku kosong. Kan harus diisi puasa, salat, tarawih, jamaah.”
😎

Continue reading 2019: Kenapa Harus Puasa?

Tiga Pilihan (2)

Awalnya, saya menganggap bahwa bahasa isyarat dan alat bantu adalah dua pilihan yang berbeda. Jika sudah memakai alat bantu dengar, tak perlu lagi bahasa isyarat, vice versa. Ternyata tidak. Bagi yang menyandang gangguan dengar maupun berbudaya Tuli, bahasa isyarat adalah alat bantu wajib. Sedangkan pilihan itu berupa alat bantu dengar, implant, atau tak pakai. Akses pengetahuan, ya bahasa isyarat 😊

Baca: Tiga Pilihan

Saya juga tak langsung percaya waktu dibilang bahasa ibu orang Tuli adalah bahasa isyarat. Demi pembuktian, saya melakukan beberapa pengamatan sendiri. Jadi orang penasaran itu kadang melelahkan, hehe, tapi lelahnya terhempas lunas begitu menemukan banyak bukti kebenaran. Fixed. Bahasa isyarat adalah bahasa ibu bagi kaum yang mendengar dengan mata dan atau susah berbicara ☺

Berikut sejumlah buktinya:

Continue reading Tiga Pilihan (2)

“Kenapa Politik Memenjarakan Orang?”

Shena menanyakan ini dalam perjalanan pulang sekolah. Saya berjanji menjawabnya di rumah, seraya berharap dia lupa πŸ˜… Sayangnya tidak. Sambil ganti baju, dia ingatkan bahwa saya berutang penjelasan padanya.

“Shena tahu darimana?”

“Kan Yayah sering nonton berita, aku ikut dengar,”

“Siapa sih yang dipenjarakan?”

“Gak tahu.”

Baca: Kepo Dulu, Masih Kepokah Kini?

Derajat pertanyaannya mulai meningkat. Tak lagi asal tanya, tapi sudah mulai lebih kepo, dan lebih butuh penjelasan. Bahkan kami sudah saling menahan diri, pada suatu peristiwa, dengan sebuah pembatas:
“Bubun emoh lanjut, nanti Shena nanya, gak tahu jawabnya.”
Atau
“Sudah Bun, berhenti dulu, nanti aku nanya banyak lho.”
😁

Continue reading “Kenapa Politik Memenjarakan Orang?”

Anakku Tidak/Belum Hebat

Saat orang memuji Shena yang nilainya baik dan rajin belajar, saya segera berdalih bahwa dialah hiburan saya. Moldy yang malas belajar dan cuek dengan nilainya πŸ˜…

Saat orang memuji Moldy bisa tampil di panggung beberapa kali di sela keterbatasannya sebagai seorang Tuli, saya bersyukur alhamdulillah umeknya tersalurkan πŸ˜‰

Mereka hebat karena jatah dari Allah, saya sih numpang keren aja 😁 Hehehe, sombong itu gampang, rendah hati itu butuh perjuangan πŸ˜€ Pengen juga sih sesekali pamer, tapi lihat-lihat dulu dengan siapa ngobrolnya…

Baca: Kekuranganmu Adalah…

Rasanya jengkel banget kalau dengerin orang sedang mblukuthuk tentang kehebatan dirinya atau anaknya. Sekali-dua kali, oke, wajar. Tapi kalau terus menerus, sampai tak memberi kesempatan lawan bicara, gak adil juga dong. Yang suka bicara supaya emosinya tersalur, perempuan. Yang ingin dihargai pencapaiannya dalam mendidik anak, perempuan juga. Mbok ya saling memberi kesempatan. Toh demi kesehatan jiwa masing-masing πŸ˜‰βœŒ

Selain itu, saya juga pernah merasakan betapa galaunya, saat anak lain maju pesat, sementara anak saya di situ-situ aja, super selow, bahkan mundur 😨 Saking galaunya, saya marahin Moldy. Bukannya bikin dia paham, eh dia malah nangis memohon-mohon agar saya tak berubah jadi setan 😈

Continue reading Anakku Tidak/Belum Hebat

Mendiang Ninih

Saya tinggal bersama Ninih, ibu dari Mamak, beberapa saat sebelum sekolah. Bukan hanya saya, ada juga beberapa saudara sepupu yang tinggal di sana. Rame dan rasanya nano-nanoΒ πŸ˜‚

Rumah kuno Ninih luas sekali. Meski tak ada pintu untuk masuk mobil, tapi terasnya luas, ada kebun pohon pisang dan taman kecil yang rindang. Masuk ke dalam, ada gazebo dan sebuah kamar kecil yang disewakan. Masuk ke dalam lagi ada ruang tamu yang bisa menampung dua set kursi dan satu kamar tamu. Menuju ruang tengah, ada meja makan super besar seperti yang di Perjamuan Terakhir, dengan dua kamar. Ruang tengah dan dapur dihubungkan lorong yang setengah terbuka. Kalau hujan, air bisa masuk dan membuat jalannya basah dan licin.

Dapurnya sepanjang ruang tamu dengan satu kamar tidur. Terpisah dari dapur, sebuah kamar mandi kecil dan ruang terbuka yang luas untuk mencuci dan menjemur. Ada sumur konvensional untuk ambil air dan sekaligus latihan kekuatan tangan 😁

Wow kan, rumah orang jaman dulu ☺ Makan sih seadanya, tapi lahan bisa diwariskan sampai beberapa turunan. Bisa ditempati dengan layak untuk ukuran jaman sekarang, dijual atau bahkan dijadikan ladang penghasilan melalui toko atau indekos.

Baca: Kue Tradisional

Suatu hari saya berteriak mencari beliau, “Niniiiiiiiiiiih…”

Continue reading Mendiang Ninih

Siap Mondok?

Pengen nulis tentang ini lama sekali. Ternyata udah terkumpul beberapa cerita. Bukan untuk mendiskreditkan kehidupan di pondok ya, tapi realitanya begini. Sisi lain pendidikan. Mereka digembleng dengan keras, lulus dengan predikat diakui dunia, namun tantangan yang mereka hadapi pastinya bukan main-main ☺

Ini sebagian yang pernah saya dengar, dari narasumber langsung dan cerita ortu. Jika ada kesalahan dan kebenaran, tetaplah tabayyun dengan khusnudzon. Semua orang memiliki porsinya masing-masing. Tak semua yang dihadapi orang lain, pasti kita hadapi ☺

Continue reading Siap Mondok?