“Kenapa Politik Memenjarakan Orang?”

Shena menanyakan ini dalam perjalanan pulang sekolah. Saya berjanji menjawabnya di rumah, seraya berharap dia lupa 😅 Sayangnya tidak. Sambil ganti baju, dia ingatkan bahwa saya berutang penjelasan padanya.

“Shena tahu darimana?”

“Kan Yayah sering nonton berita, aku ikut dengar,”

“Siapa sih yang dipenjarakan?”

“Gak tahu.”

Baca: Kepo Dulu, Masih Kepokah Kini?

Derajat pertanyaannya mulai meningkat. Tak lagi asal tanya, tapi sudah mulai lebih kepo, dan lebih butuh penjelasan. Bahkan kami sudah saling menahan diri, pada suatu peristiwa, dengan sebuah pembatas:
“Bubun emoh lanjut, nanti Shena nanya, gak tahu jawabnya.”
Atau
“Sudah Bun, berhenti dulu, nanti aku nanya banyak lho.”
😁

Continue reading “Kenapa Politik Memenjarakan Orang?”

Advertisements

Hubungan Dalam Terjemahan

Kabarnya, ada alat penerjemah perasaan, supaya para lelaki dan para perempuan tak saling salah paham mengenai maksud masing-masing.

Maksud perempuan (rata-rata) seringkali berkebalikan dengan apa yang dikatakannya. Semisal, kalau suaminya pamit pergi nonton konser, istrinya menjawab, “Pergi aja…” seraya memalingkan muka dan bersikap juthek, itu artinya “Oh jadi gitu, nonton sendiri, aku gak diajak…” 😀

Sementara, lelaki mengatakan sesuatu yang sederhana untuk mewakili pikirannya yang jauh lebih rumit. Semisal, saat istrinya nanya, “Apakah aku kelihatan cantik?”
Suaminya pun menjawab dengan wajah datar, “Iya cantik.”
Itu sebenarnya demi menyederhanakan maksud: ya ampun istriku kok ayu tenan yo, tak rugi aku dulu memilihmu di antara sekian gadis yang rencananya akan kutembak sebagai alternatif jika ditolak oleh yang sebelumnya 😄

Continue reading Hubungan Dalam Terjemahan

Bully (4): Pada Ortu Anak Disable

Jangankan terpikir untuk membully orang tua lain, untuk bangkit dari bully aja, saya pun butuh waktu yang tak sebentar. Sempat ngefek juga, semacam minder dan self-blaming 😕 Sekarang pun rasanya masih naik turun, kadang sedih kadang santai, tapi lumayan bisa dikendalikan ☺
Pengertian bully itu sebenarnya lebih kepada perbuatan intimidatif yang dilakukan berulang oleh orang/kelompok yang sama. Kalau dilakukan berulang oleh orang yang berbeda, belum teristilah bully. Namun untuk memudahkan obrolan kita kali ini, sebagian digunakan istilah bully, sebagian lagi ejekan atau yang setara.

Baca: Rejected

Sebuah resiko yang tak bisa dihindari, bahwa semua yang menyandang status sebagai ortu anak difabel, dipandang aneh 😑 Dibilang punya dosa terlalu besar di masa lalu hingga anak yang menanggungnya, punya pesugihan dan anak sebagai tumbalnya, akibat suami istri tidak rukun, tidak menjaga diri saat hamil, tidak pinter mengasuh anak, ibu/ayahnya penyakitan, kena kutukan, anak dirasuki makhluk halus, dan sebagainya 😨 Anda yang mana aja? Ada ejekan lain? Boleh ditulis di kolom komentar dan yuk bersama kita kirim kutukan balik 😂✌

Baca: Kebutuhan Khusus Dalam Alquran

Continue reading Bully (4): Pada Ortu Anak Disable

Jurus Basa Basi

Tabungan berencana per tahunan, ditutup sepihak oleh bank, karena telat top up 🙈 Kebetulan yang alhamdulillah 😉 Pas butuh, hehehe…

“Mau buka yang baru aja, bu?” tanya si mbak teller.

Si mas teller, si tukang interogasi yang sering bikin saya kebingungan menghindar; baru saja datang dari ruangan lain dan siap bergabung. Moldy sibuk menyusuri ruangan bank, sambil comot dan usil sana sini, seperti biasanya 😂 Menghabiskan waktu untuk pembuatan tabungan baru selama sekitar 30 menitan, sambil mengawasi si bocah, sambil menjawab pertanyaan basa basi yang bikin mules, tidaaak…

😑😑

Saya menggeleng.

“Ndak usah mbak, kapan-kapan aja.”

Si mbak teller tersenyum manis. Sebelum si mas teller ikut bergabung bersama kami untuk melontarkan jurus basa basinya, saya segera pamit. Menyelamatkan diri 😇

Continue reading Jurus Basa Basi

Repotnya ‘Idealis’ (2)

Sebagai blogger, saya juga pengen dong menikmati fasilitas gratisan yang bisa dibayar dengan tulisan. Bisa dapat duit, makan, perjalanan, dan apapun yang berkaitan dengan tidak bayar 😛 Enak kan…

Belum lagi kalau kredibilitas oke, nanti akan ada tawaran dari perusahaan sana sini, agen ini itu, bikin vlog, kalau tenar bisa memungkinkan untuk jadi seleb 😂 Dipikir enaknya aja dulu deh, meski saya juga paham, itu berhubungan erat dengan kerja keras yang luar biasa 💪

Yang pengen kan bukan saya aja. Banyak. Efek sampingnya, iklan menjadi desah nafas yang membaris dalam linimasamu 😂

Huft…

Continue reading Repotnya ‘Idealis’ (2)

S.O.c.S. (2)

Saya bukan manusia gawai kalau di luar. Pengennya ngobral-ngobrol sama orang baru, yang punya cerita dan pengalaman beda-beda. Apa daya, hampir semua sibuk dengan gawai masing-masing. Ambil pose pun kalau ingat merasa perlu rekam jejak. Ndilalah, kamera saya tak berfungsi. Saya tetap hidup kok, dan baik-baik saja. Cuman jadinya merepotkan Jemi, saya minta dia ambil foto dan video sana sini 😀

Berhubung juga bukan manusia #latepost, maka foto-foto ke Wisata Mangrove Surabaya baru saya unggah ke instagram beberapa hari sesudahnya. Menulis ini pun beberapa bulan setelahnya, hihihi… Tentu saja selalu telat nanya apakah saya sedang di Surabaya 😁 Udah pulang lah. Selain pertanyaan teknis lainnya, ada pertanyaan menggelitik dari seorang teman yang sedang di Ostrali, mengikuti suami kuliah.

“Dikasi pelampung gak? Atau kita mesti siap sendiri?”

Aseli coklat, tanpa edit, saking panasnya

Continue reading S.O.c.S. (2)

‘Gaung’ Isyarat

Saya pernah bertekad, bahwa Moldy tak akan sekolah di SLB supaya dia bisa bergaul dengan anak dengar, tak akan berbahasa isyarat supaya verbalnya lebih terasah. Pokoknya dia harus bisa berbicara seperti orang biasa. Semaksimal mungkin. Senormal mungkin 😑

Apa daya, terapi wicara mengalami perkembangan lambat, maju satu langkah lalu mundur dua langkah 😢 Belum lagi menangani tantrumnya yang hampir tanpa henti. Disuruh bilang A, keluarnya B. Terus dipaksa, dia memilih melarikan diri atau cuma diam sambil melotot seolah mengatakan, “Aku males, aku emoh, so what?” 😄

Continue reading ‘Gaung’ Isyarat