Terbuai Tere Liye (2)

Baik, saya melanjutkan perjalanan membaca dengan meminjam tiga lagi buku TL. Tebal semua, as always, dan cukup 2-3 hari aja udah selesai bacanya. Konfliknya tak terlalu rumit, beberapa di antaranya berfungsi sebagai dekorasi aja, tambahan. Tak berhubungan langsung dengan inti cerita.

Reviewnya baca di sini

Mulai terpetakan beberapa kondisi yang hampir selalu dipakai pada buku-bukunya yang sudah saya baca:

1. Anak yang tumbuh dalam kondisi yatim piatu.

Continue reading Terbuai Tere Liye (2)

Advertisements

5 Alasan Ngeblog

Ada yang masih ingat dengan blogdrive? 😊
Di situ saya bikin blog pertama, yang isinya pengalaman sehari-hari. Hampir sama juga kayak sekarang, beda intensitas dan datanya. Saya selalu tertarik dengan tema anak-anak, perempuan, politik, dan agama. Gak terlalu nyambung sih, hehehe, tapi itulah sejumlah topik konsisten yang hampir selalu saya tulis.

Tentang anak-anak, melebar menjadi difabilitas, pendidikan, dan pengasuhan. Politik banyak berkurang, buat bahan obrolan offline aja, nulisnya hanya menyentil sedikit aja. Sudah banyak ahli politik dadakan di medsos, sungkan euy 😆 Bahasan agama juga mulai saya kurangi, kecuali yang sumbernya jelas dan hampir minim kontroversi. Sesekali baca Magdalene untuk tes ombak, laman yang cukup kritis untuk topik perempuan dan agama. Boleh baca pandangan saya, silakan berargumen 😉 Saya pernah menjadi sangat kanan, hampir cadaran, tapi udah tidak lagi. Barangkali buat sebagian teman, saya udah semacam liberal atau plural. Bodo amat, tafsir aja ada Ibnu Katsir dan Saidi, imam ada empat; masa kita yang kaum akar rumput harus sepakat sama persis 😕

Continue reading 5 Alasan Ngeblog

Terbuai Tere Liye

Buku pertama TL yang saya baca adalah Moga Bunda Disayang Allah, menceritakan mengenai kehidupan anak difabel. Lupa-lupa ingat bagaimana ceritanya, tapi masih ingat jelas bagaimana kesannya. Bagus dan inspiratif, sangat mirip dengan kisah hidup Helen Keller. Sayang agak membosankan buat saya waktu itu, karena sangat panjang dan tidak penuh hal yang tak terduga seperti beberapa novelnya saat ini. Sebagai pembaca jenis omnivor, saya merasa harus menyelesaikannya sampai tuntas. Waktu itu masih ikut Republika, belum Gramedia. Ssstt, pilihan penerbit sangat berpengaruh terhadap ‘rasa’ bacaan lho 😉

Sejak itu, saya butuh alasan kuat untuk membeli bukunya TL. Bukan karena bukunya jelek, tapi tak cocok aja. Baca tetep, tapi maunya pinjem, hehe… Untuk seorang yang produktif tiada tara sekaligus aktif di media sosial, karyanya cukup stabil. TL terus melakukan sejumlah riset demi mewujudkan tiap karya yang berbeda, meski beberapa kejadian dia buat sangat mirip dengan inspirasi aslinya. Helen Keller di buku Moga Bunda Disayang Allah dan The A-Team versi terbaru dalam buku Negeri Para Bedebah.

Continue reading Terbuai Tere Liye

Lompatan Lanjut

Awal tahun 2015, begitu dibelikan gawai agak lumayan nggaya, saya bikin blog baru ini, tuwuhingati. Ini penyakit digital yang mbencekno. Tiap kali saya merasa konsep blog sudah tak sesuai dengan jiwa kebaruan saya, langsung bikin lagi. Hahaha, labil sekali 😂 Dari blogdrive yang almarhum, blogspot, notes fesbuk, hingga wordpress. Jejak kepenulisan masih ada sebagian, kadang masih juga ada yang komen di blog lama. Maunya saya pindah ke tuwuhingati semua, eh ribet juga mengatur perpindahan sembari menyesuaikan konsep baru. Ya sudah, belajar konsisten dan mengamini ketidaksempurnaan ☺

Konsep awal blog adalah bercerita apa adanya, dengan menyamarkan nama-nama yang bersangkutan. Tapi karena saya gak biasa ngomongin orang terlalu jeru, saya ubah lagi konsepnya.

Continue reading Lompatan Lanjut

2017: Bukan STMJ

Ini bukan tentang minuman penambah tenaga itu ya. Ini tentang slogan Sholat Terus Maksiat Jalan. Kok bisa ya, padahal sholat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar. Rasulullah menyatakan bahwa sholat orang yang berbuat jahat adalah untuk membayar kejahatannya. Impas ya, tanpa pahala tersimpan, bahkan bisa tekor 😕


Saya masih penasaran selama sekian tahun, sehingga terus ingin tahu kenapa kok bisa. Banyak kasusnya: lagi madat dengar adzan langsung siap-siap sholat, habis sholat lalu zina, dll. Kenapa tuntunan agama yang seharusnya bisa jadi petunjuk, kok bisa menyesatkan penganutnya. Hmmm, rumit ya. Kerumitan yang bisa dipergunakan sejumlah pihak untuk melegalkan anggapan bahwa sholat dan tidak, sama saja. Mesti dipahami adalah bahwa, menganut Islam itu perpaduan antara hati dan akal, bukan salah satu saja. Continue reading 2017: Bukan STMJ

Re-read Atau Re-add?

Saya sudah melewatkan Gramedia Book Sale dan Big Bad Wolf. Agak sedih sih, tapi udahlah, belum rejeki kali yaa bisa memilih dan memiliki semembahana itu 😥

Ini sebuah rekor yang lumayan manis, beberapa bulan tidak beli buku, demi kepentingan lain. Ini juga keren, setidaknya untuk saya sendiri lah, hehehe… Beginilah menjadi emak, pengorbanan adalah hal yang lumrah. Semua emak akan selalu dihadapkan pada sejumlah pilihan pengorbanan. Coba diingat-ingat, apa aja, dihargai, lalu disyukuri yaa… Berkorban itu indah, selama paham makna dan tujuannya 😊

image

Continue reading Re-read Atau Re-add?