Siap Tanpa Jaringan

Jengah terlalu lama dengan status (saya dan siapapun) tak penting, saya deaktif facebook tiap beberapa bulan sekali. Tiap kali aktif selama 1-2 bulan, saya menghilang lagi. Kebetulan, beberapa teman juga memutuskan hal yang sama, tidak terlalu aktif, dengan cara yang berbeda. Semua sepertinya memang sudah jenuh, bukan saya aja. Apalagi kalau sudah berkaitan dengan politik, wes embuh ๐Ÿ˜Ž

Baca: Molitik Embuh

Baca: Ingin Deaktif Forevah

Saya kemudian agak aktif di instagram dan twitter. Aktif pasif, baca feed tapi jarang nyetatus. Sesekali log out dan kembali lagi. Biasa aja. Memutuskan untuk tidak berinternet selama beberapa hari, baik-baik aja. Yang bikin saya terikat dengan keberadaan jaringan adalah grup chat untuk sekolah anak-anak, keluarga, dan yang paling nyandu adalah saya harus menulis dan nyari bahan di web. Hiburan dan pekerjaan yang bisa dikerjakan kapan aja ๐Ÿ˜Š

Baca: Repotnya Idealis (2)

Seorang pegawai urban curhat betapa susahnya hidup tanpa gawai. Dia bergantung mesti pakai ojol untuk transpot kerja, anak balitanya mesti diam pakai lala lala youtube, wa untuk urusan meeting, dan banyak lagi. Dia sebel, ngapain sih nyuruh orang berhenti dengan gawai. Hahaha, terikat dengan teknologi memang tak bisa dihindari ya ๐Ÿ˜Ž

Continue reading Siap Tanpa Jaringan

Saya Suka Hari Raya

Giliran piket saya jaga Mamak, dimulai dari 1 Juni. Lebaran hari pertama saya di Batu. Harapan mengejar pahala malam-malam terakhir, mau tak mau dilaksanakan di rumah aja. Setidaknya, jadi tahulah rasanya ngos-ngosan dan konsentrasi jadi imam, saat taraweh dan salat lainnya bersama Shena. Masih ada pertanggungjawaban pada jamaah pula. Beraaat ๐Ÿ˜ฌ Tabik untuk para imam yang fokus memimpin salat dengan sebaik-baiknya ๐Ÿ‘

Suasana hari raya pertama di kampung halaman yang selalu saya rindukan, akhirnya dipertemukan juga. Salat ied di lapangan, melihat wajah orang-orang lama yang mulai mendewasa atau menua. Ah, betapa waktu begitu cepat berlalu, jika kita mulai bercengkerama dengan riak kehidupan ๐Ÿ˜Š

Waktu kecil, yang saya suka dari hari raya adalah dapat duit dari banyak orang, bahkan dari mereka yang tak saya kenal sekalipun. Itulah keajaiban jadi anak-anak di hari raya ๐Ÿ˜† Saya bisa jadi orang kaya mendadak. Bisa beli apapun tanpa ada yang membatasi atau melarang ๐Ÿ˜

Baca: Seputar Angpau

Continue reading Saya Suka Hari Raya

Mesinnya Berhenti

Kata Oliver Sacks, seorang neurologis; tentang mesin uap, telpon pintar, dan kekuatiran akan masa depan.

Bibiku, Len, saat usianya 80 tahunan, menyatakan bahwa dia tak merasa kesulitan untuk menyesuaikan sejumlah hal baru di kehidupannya, semisal kapal jet, bepergian keluar angkasa, pemakaian plastik, dan lainnya; tapi dia belum bisa terbiasa akan hilangnya hal-hal lama.
โ€œKemana perginya semua kuda?โ€ ๐Ÿ™„
Lahir di tahun 1892, dia tumbuh bersama London yang penuh dengan kereta dan kuda.

Aku pun…merasakan hal yang sama ๐Ÿ˜

Beberapa tahun lalu, aku berjalan bersama keponakanku, Liz. Kami melewati Mill Lane, sebuah jalan di London tempat aku tumbuh. Aku berhenti di jembatan kereta api, teringat kegembiraan bermain di sana. Aku bernostalgia, ada bermacam kereta listrik dan diesel yang pernah lewat di sini. Beberapa menit kemudian, Liz nampak tak sabaran dan bertanya,
โ€œApa yang paman tunggu?โ€
Kukatakan bahwa aku menunggu kereta uap lewat. Liz menatapku seolah aku ini gila.

Continue reading Mesinnya Berhenti

Centang Biru, Centang Abu

Seorang teman memakai centang abu di whatsapp, dengan alasan tak mau diburu soal pekerjaan, entah gimana detailnya. Beberapa teman lain melakukan hal yang sama, saya menakar pekerjaannya, kemudian memakluminya. Selama pesan sampai dan dibalas sesuai kebutuhan, ya sudah, itu privasi mereka. Saya pakai centang abu, karena tak ingin tergantung, menunggu balasan. Maklumlah, emak rumahan, apa-apa ditungguin ๐Ÿ˜› Ada yang aneh waktu pertama kali gak lagi lihat biru-biru di pesan, senyap gitu ya. Ya udin, konsekuensinya kan begitu. Nanti kalau pengen warna-warna, ya dinyalain lagi.

Continue reading Centang Biru, Centang Abu

Desakan Poligami

Sssttt…

Saya rutin scanning gawai suami lhooo…

Anda juga kah?

๐Ÿ˜‚

Bukan atas dasar motif curiga berlebihan, tapi mempekerjakan naluri saya sebagai satpam rumah tangga. Hehehe… Anak-anak kan tak dapat jatah gawai pribadi, jadi mereka lihat apapun dengan gawai kami berdua. Cuma lihat kiriman gambar dan video aja, pesan-pesan gak pernah saya baca, males ๐Ÿ˜ƒ

Bapak-bapak itu ya, kalau di grup, byuh, macam bujang lapuk yang haus belaian kasih sayang. Kalau ternyata anak-istrinya lengkap dan baik-baik aja, bisa jadi dia ‘ada sesuatu’. Guyonan, gambar, atau video yang dikirim; well, silakan dibayangkan seperti apa isi otak pria ๐Ÿ˜„ Ini bukan asumsi ya, sudah masuk ranah penelitian bahwa otak pria lebih banyak memikirkan soal empat huruf berawalan dan berakhiran huruf s itu ๐Ÿ˜‰

Tujuan saya scanning gawai suami ya ini, menghapus konten seronok, supaya tak dilihat anak-anak. Moldy mengamati detail dengan matanya. Shena sudah mulai membaca dengan baik. Kalau kami kecolongan, gagap juga dong cari penjelasannya ๐Ÿ˜‚

Selain itu semua, isu istri kedua dan betapa bahagianya bisa poligami adalah sejumlah topik yang selalu diusung dalam berbagai pose. Bahkan ada meme yang menyatakan bahwa, hukum dasar pernikahan adalah poligami. Hiyaaa…๐Ÿ˜ฎ

Continue reading Desakan Poligami

Gawai Di Bawah Kaki Anak

Kisah mengenai anak yang mencoret mobil ayahnya dengan benda tajam, sudah baca kan ya, dalam berbagai versi ๐Ÿ˜‰ Versi positif, mengabarkan betapa hebatnya si ayah yang tak marah, bahkan memuji anak sebagai karya terbaiknya. Versi negatif, menggambarkan kemurkaan si ayah yang memukul anaknya sampai si anak lumpuh ๐Ÿ˜ข

Nah, kalau itu terjadi pada kita, bagaimana sebaiknya kita bersikap? Sudah jelas mobil bukan barang murah, apalagi kalau nyicilnya ngos-ngosan bertahun lamanya. Sementara menahan diri untuk tidak marah juga bukan perkara menjentikkan jari dan taraa…hati bisa seluas hatinya mimiperi, eh… ๐Ÿ˜

Karena tidak dan belum ada niatan punya mobil, kita obrolin yang mobile aja, mobile phone ๐Ÿ˜€ Bagi anda yang punya anak super aktif, baik yang normal maupun yang difabel, pasti tahu dong rasanya kehilangan gawai. Dicemplungin got atau sumur, dipakai buat mandi, dibanting sampai pecah berkeping-keping, diinjak-injak, dibikin percobaan pantulan, ditindihin dan tak boleh diambil sama sekali. Hahaha, anda yang mana? ๐Ÿ˜‚

Continue reading Gawai Di Bawah Kaki Anak

Memadatkan Kenangan

Kalau ketemu teman ngobrol yang asik, saya lupa sama gawai. Lupa dan tak kepikiran selfie, demi mengabarkan di medsos bahwa kami baru ketemuan. Dianya mau mengabarkan sih, ya silakan aja. Tapi kayaknya rata-rata jadi pelupa kalau ketemu saya (ups, lebay) karena biasanya kami ngobrol tanpa henti, bahkan hingga lupa makan dan tidur ๐Ÿ˜‚

Di tempat wisata pun, saya dan suami cuma sibuk mengabadikan anak-anak. Jika spotnya bagus dan sepi, barulah dia mengajak wefie. Buat keluarga masa kini, itu jelas enggak banget ya. Selalu ada foto di setiap langkah dan spot. Jangan-jangan kebanyakan dari kita ini memang memiliki hasrat terpendam menjadi model ๐Ÿ˜„ Jangan-jangan, kami aja yang terlalu jadul dengan perubahan ๐Ÿ˜›

Continue reading Memadatkan Kenangan