Desakan Poligami

Sssttt…

Saya rutin scanning gawai suami lhooo…

Anda juga kah?

😂

Bukan atas dasar motif curiga berlebihan, tapi mempekerjakan naluri saya sebagai satpam rumah tangga. Hehehe… Anak-anak kan tak dapat jatah gawai pribadi, jadi mereka lihat apapun dengan gawai kami berdua. Cuma lihat kiriman gambar dan video aja, pesan-pesan gak pernah saya baca, males 😃

Bapak-bapak itu ya, kalau di grup, byuh, macam bujang lapuk yang haus belaian kasih sayang. Kalau ternyata anak-istrinya lengkap dan baik-baik aja, bisa jadi dia ‘ada sesuatu’. Guyonan, gambar, atau video yang dikirim; well, silakan dibayangkan seperti apa isi otak pria 😄 Ini bukan asumsi ya, sudah masuk ranah penelitian bahwa otak pria lebih banyak memikirkan soal empat huruf berawalan dan berakhiran huruf s itu 😉

Tujuan saya scanning gawai suami ya ini, menghapus konten seronok, supaya tak dilihat anak-anak. Moldy mengamati detail dengan matanya. Shena sudah mulai membaca dengan baik. Kalau kami kecolongan, gagap juga dong cari penjelasannya 😂

Selain itu semua, isu istri kedua dan betapa bahagianya bisa poligami adalah sejumlah topik yang selalu diusung dalam berbagai pose. Bahkan ada meme yang menyatakan bahwa, hukum dasar pernikahan adalah poligami. Hiyaaa…😮

Continue reading Desakan Poligami

Advertisements

Gawai Di Bawah Kaki Anak

Kisah mengenai anak yang mencoret mobil ayahnya dengan benda tajam, sudah baca kan ya, dalam berbagai versi 😉 Versi positif, mengabarkan betapa hebatnya si ayah yang tak marah, bahkan memuji anak sebagai karya terbaiknya. Versi negatif, menggambarkan kemurkaan si ayah yang memukul anaknya sampai si anak lumpuh 😢

Nah, kalau itu terjadi pada kita, bagaimana sebaiknya kita bersikap? Sudah jelas mobil bukan barang murah, apalagi kalau nyicilnya ngos-ngosan bertahun lamanya. Sementara menahan diri untuk tidak marah juga bukan perkara menjentikkan jari dan taraa…hati bisa seluas hatinya mimiperi, eh… 😁

Karena tidak dan belum ada niatan punya mobil, kita obrolin yang mobile aja, mobile phone 😀 Bagi anda yang punya anak super aktif, baik yang normal maupun yang difabel, pasti tahu dong rasanya kehilangan gawai. Dicemplungin got atau sumur, dipakai buat mandi, dibanting sampai pecah berkeping-keping, diinjak-injak, dibikin percobaan pantulan, ditindihin dan tak boleh diambil sama sekali. Hahaha, anda yang mana? 😂

Continue reading Gawai Di Bawah Kaki Anak

Memadatkan Kenangan

Kalau ketemu teman ngobrol yang asik, saya lupa sama gawai. Lupa dan tak kepikiran selfie, demi mengabarkan di medsos bahwa kami baru ketemuan. Dianya mau mengabarkan sih, ya silakan aja. Tapi kayaknya rata-rata jadi pelupa kalau ketemu saya (ups, lebay) karena biasanya kami ngobrol tanpa henti, bahkan hingga lupa makan dan tidur 😂

Di tempat wisata pun, saya dan suami cuma sibuk mengabadikan anak-anak. Jika spotnya bagus dan sepi, barulah dia mengajak wefie. Buat keluarga masa kini, itu jelas enggak banget ya. Selalu ada foto di setiap langkah dan spot. Jangan-jangan kebanyakan dari kita ini memang memiliki hasrat terpendam menjadi model 😄 Jangan-jangan, kami aja yang terlalu jadul dengan perubahan 😛

Continue reading Memadatkan Kenangan

Dongeng Menggawai

“Ndil indil brong, sangune brondong sak gentong. Ndiiil…”

Kisah para anak tikus yang menunggu ibunya pulang membawa makanan. Sebelum masuk ke sarang, ibunya mengucap password itu, supaya anak-anaknya tak terjebak dengan muslihat para pemangsa. Eh, password ini rupanya diamati dan dihafalin sama si kucing. Kena deh, para cindhil ini disantap si kucing sampai habis. Ibunya mengucap password dan berbalas hampa 😯

Itu yang cerita, Bapa saya ☺ Dengan berkaos singlet putih yang selalu beliau gunting bagian tengahnya supaya tak terlalu menjerat leher, serta celana pendek warna hijau toska. Baju kebesaran saat santai di rumah 😉
Continue reading Dongeng Menggawai

Kue Bantat Pengasuhan

Latest issues
“Kita jadi ortu yang mesti berperang dengan kejahatan digital, dengan konten bebas tak berbatas. Aku gak tahu gimana lagi cara mengontrol anak-anak agar tak banyak teracuni,” cerita Winnie, memulai obrolan tentang gawai dan pengasuhan.

“Berat ya jadi ortu jaman now,” tukas saya.

“Akan lebih berat lagi beban anak-anak ini, yang dibesarkan di era digital. Mereka juga jadi orang tua nantinya. Mereka akan menemui tantangan seperti apalagi…”

😯😯

Tak sanggup lagi berandai. Kalau memang sesuai firasat dan perkiraan, rasanya kok ini sudah sampai di tahap ultima teknologi. Entah nanti kita akan mencapai masa kendaraan pribadi yang terbang membelah langit atau malah meluncur anti klimaks dan kembali berpacu menunggang kuda, wallahualam 😉

Continue reading Kue Bantat Pengasuhan

Paranoia Medsos

Sebuah Honda Oddysey menepi tepat di depan jalan masuk ke Kantor Pajak cabang Lawang. Saya menoleh risih karena dia hampir menyasak area saya menunggu bis. Kacanya gelap sehingga tak kelihatan seperti apa makhluk yang ada di dalam. Tentunya bukan alien ya 😄

Kaca pintu belakang dibuka separuh. Selintas bayangan, seorang wanita dengan sasakan ala ibu pejabat. Dengan begitu elegan dan sangat berkelas, dia berkumur, sampai terdengar suara air yang bergejolak. Kemudian dia menyemburkannya dari dalam mobil ke luar, melompati kaca, tanpa membuka pintu sama sekali.

Continue reading Paranoia Medsos

Narkolema (2)

Sudah tahu kan soal Elsa dihamili Spidey? Permainan bisa diakses bebas di yutub. Kenapa setelat ini? 😯 Bukannya Upin Ipin sudah ada versi begituannya, menurut Elly Risman. Kenapa tidak berhati-hati lebih awal? Kenapa yutub (yang menurut saya adalah sarang penyamun buat anak-anak), bisa diakses bebas tanpa pengawasan? Kenapa dibiarkan sampai ada korban yang terperosok, baru bertindak? Kenapa? Kenapa? Kenapa? 😤

Continue reading Narkolema (2)