Emon dan Cimor

Beberapa bulan lalu, saya memutuskan bahwa saya akan bersahabat dengan kucing. Penyebab utamanya, anak-anak terus memohon agar mereka dibolehkan memelihara kucing. Saya dan Jemi berusaha ‘masuk’, karena kami berdua tak terlalu menyukai binatang, meski juga tak suka jika mereka disakiti.

Hadirlah Emon dan Cimor, begitulah nama yang diberikan Shena pada mereka. Dua kucing persia campuran (bulunya tak terlalu lebat) ini, dengan cepat mengambil hati saya 😍 Padahal saya baruuu aja belajar menyukai. Mengelus syahdu bulu panjangnya, yang bisa membantu menurunkan tekanan darah. Mereka pun beradaptasi dengan cepat. Suka menggelung pada kami bertiga, menjilat, menggigit, dan mencakar dengan mesra. Hihihi, gini ya rasanya berurusan sayang dengan binatang 😊

Continue reading Emon dan Cimor

Advertisements

Seputar Angpau

Satu
Suatu siang di Lebaran kedua, sekitar jam 1 an, beberapa anak tak dikenal, bertamu ke rumah ibu mertua. Hihihi, anjangsana kesiangan, entah mereka berasal dari kampung mana. Dengan sigap mereka bersalaman dan memutuskan siapa pemilik rumah antara saya dan ibu mertua, demi tergenggamnya selembar rupiah 😀

Continue reading Seputar Angpau

Pergi (2)

Merasakan dua keguguran dalam waktu dua tahun berturut-turut. Antara sedih dan lega. Sedih karena sudah melihat bentuknya yang hampir sempurna seperti bayi, sayangnya pertumbuhan agak lambat dan tanpa detak jantung 😭 Lega karena di dua bulan pertama usianya ini, kami sekeluarga sakit bergantian, mulai dari flu berat hingga cacar air. Tak bisa dihindari kan, hanya bisa pasrah dengan nasib si calon bayi dalam perut, semua terjadi sudah atas kehendak Allah 😢

Baca: Pergi

Hidup memang penuh misteri. Saya sudah hampir menyalahkan diri kenapa tak begini dan begitu. Namun dokter menyatakan bahwa kemungkinan mengapa dia pergi, adalah karena batas takdir usianya hanya sampai sekian saja.

Continue reading Pergi (2)

Keranjang Bambu

Sabtu pagi di sepanjang jalan A. Yani, Gedangan.

Saya mengendarai motor sambil menyanyi lagu Kupu-kupu malam. Ternyata bisa juga nyanyi lagu ini, kenapa kemaren menolak karaoke waktu di bis yah 😄 Aah, saya baperan dengan suara jelek. Padahal kan karaoke bersama bukan konser, saya bukan penyanyi, jadi suara sember pasti dimaafkan. Paling selanjutnya gak boleh dapat giliran nyanyi lagi, hihihi…

Syukurlah, keranjangnya tipis ☺

Mengendarai motor, menyanyi, sembari menyimak pengendara depan kami persis. Kanan kiri motornya sarat dengan bungkusan kerupuk mentah. Di atasnya ada beberapa keranjang bambu terikat menjadi satu tumpuk.

“Kerupuk enak nih, Shena,” kata saya pada si bocah. Hari itu kami menjemput kakak Moldy pulang sekolah.

Ada kerupuk dele, kerupuk putih, dan berbagai bentuk lainnya. Semuanya dalam kemasan plastik besar, sepertinya mau diantar ke pasar.

Lalu lalang kendaraan yang cukup padat lancar. Tiba-tiba keranjang bambu itu terlepas dari tali,

Continue reading Keranjang Bambu

Celoteh Shena

Dipukul kakak
“Huaaaa, huaaa, dipukul kakak” tangis Shena, lapor kepada saya yang sedang mencuci piring.

Menghela napas panjang, itu sudah yang kesekian kalinya, dan cerdiknya Moldy yang selalu mengambil kesempatan ketika Bubun lengah atau tak ada bersama mereka. Oh, anak lelaki…

“Kakak itu kok selalu ya… sudah, besok kita taruh kakak di asrama ya, biar ga nakal lagi,” tukas saya (pura-pura) geram.

Continue reading Celoteh Shena

Ultah Dari Jemi

Shena 11 Januari. Bubun 12 Januari.

Baca: Selahir Sesar

Yayah pulang lebih malam demi membelikan kue tart untuk kami berdua dan membelikan tas untuk saya. Maunya sih dibelikan Fossil yang harganya di atas 1 jutaan, jualan temen, hihihi… Tapi ndak tega, dasar emak rumahan begini ini 😂 Padahal tas terakhir yang saya beli buat wira-wiri jadi ojeknya anak-anak, merknya Tupperware kw 😈 Meskipun biasa aja, eh sempat hilang dan ketemu juga dengan cepat 😃

Meski saya udah kasi kode ‘mau tas mahal’ beberapa waktu sebelumnya, Jemi jauh lebih tahu apa mau istrinya yang kurang modis dan susah cantik-cantikan ini. Dia belikan tas Eiger yang banyak sakunya. Waaa gue banget 😍😍

Continue reading Ultah Dari Jemi

Asertif

Sore itu, Moldy masuk ke rumah dengan gontai, lalu menunjukkan segaris luka di kakinya pada saya. Dia bilang, dengan isyarat, bahwa dia jatuh sampai terluka, lalu meminta saya mengobatinya. Setelah istirahat sebentar, dia bersepeda lagi.

Malamnya…

Bermainlah sampai puas, nak 😍

“Bubun, kakiku berdarah. Mengalir,” teriak Shena dari luar.
“Kenapa?”
Continue reading Asertif