Jika Bubun Kerja (2)

Akhirnya, saya menolak ketika kantor lama mengajak ‘balikan’ sementara. Hehehe, nggaya banget yak ๐Ÿ˜† Setelah menimbang dari banyak segi, diperkirakan kebaperan bakalan ekstra, hehehe…

Heran juga, gimana sih para emak itu mengatur hati saat bekerja. Belajar ilmu pengasuhan praktis meski secara solo, dari banyak sumber, sudah bikin saya menyesal meninggalkan Moldy di setahun pertama perkembangannya. Saya tak mau menyesal untuk yang kesekian kali ๐Ÿ˜‘

Baca: 11 Pilar

Setiap tahapan usia punya perkembangannya masing-masing, dan tugas saya adalah mendampingi, memberikan haknya sebagai anak saya. Kata yang pro ibu rumah tangga garis keras, anak sebaiknya diasuh oleh lulusan terbaik (sarjana), bukan cuma pembantu yang lulusan SD. Eh, protesnya ke yang bikin aja ya, jangan ke saya ๐Ÿ˜‚

Continue reading Jika Bubun Kerja (2)

Advertisements

Mendiang Ninih

Saya tinggal bersama Ninih, ibu dari Mamak, beberapa saat sebelum sekolah. Bukan hanya saya, ada juga beberapa saudara sepupu yang tinggal di sana. Rame sih, tapi…, hehehe, ndak boleh yaaa, rasan-rasan berlebihan ๐Ÿ˜‚

Rumah kuno Ninih luas sekali. Meski tak ada pintu untuk masuk mobil, tapi terasnya luas, ada kebun pohon pisang dan taman kecil yang rindang. Masuk ke dalam, ada gazebo dan sebuah kamar kecil yang disewakan. Masuk ke dalam lagi ada ruang tamu yang bisa menampung dua set kursi dan satu kamar tamu. Menuju ruang tengah, ada meja makan super besar seperti yang di Perjamuan Terakhir, dengan dua kamar. Menuju dapur yang seukuran sama dengan ruang tamu, ada lorong penghubung yang setengah terbuka. Kalau hujan, air bisa masuk dan membuat jalannya basah dan licin.

Terpisah dari dapur, sebuah kamar mandi kecil dan ruang terbuka yang luas untuk mencuci dan menjemur. Ada sumur konvensional untuk ambil air dan sekaligus latihan kekuatan tangan ๐Ÿ˜

Wow kan, rumah orang jaman dulu โ˜บ Makan sih seadanya, tapi lahan bisa diwariskan sampai beberapa turunan. Bisa ditempati dengan layak untuk ukuran jaman sekarang, dijual atau bahkan dijadikan ladang penghasilan melalui toko atau indekos.

Baca: Kue Tradisional

Suatu hari saya berteriak mencari beliau, “Niniiiiiiiiiiih…”

Continue reading Mendiang Ninih

Monolog Angka Kembar

Kepala tiga, nduk?
Bah, simbok ucapkan itu dan biarkan mereka tebak usia aku.

โ€ฆage is just a number, donโ€™t you stop having fun (Happy Birthday-NKOTB)โ€ฆ
Tapi buat wanita, satu tahun itu sangat berarti.

Opo yo kamu bakal muda selamanya? Waktu itu ora kenal kompromi, nduk. Ini tentang bagaimana kamu bersahabat dengannya, karena dia sudah paten.
Tapi kadang masih kurang.

Continue reading Monolog Angka Kembar

Desakan Poligami

Sssttt…

Saya rutin scanning gawai suami lhooo…

Anda juga kah?

๐Ÿ˜‚

Bukan atas dasar motif curiga berlebihan, tapi mempekerjakan naluri saya sebagai satpam rumah tangga. Hehehe… Anak-anak kan tak dapat jatah gawai pribadi, jadi mereka lihat apapun dengan gawai kami berdua. Cuma lihat kiriman gambar dan video aja, pesan-pesan gak pernah saya baca, males ๐Ÿ˜ƒ

Bapak-bapak itu ya, kalau di grup, byuh, macam bujang lapuk yang haus belaian kasih sayang. Kalau ternyata anak-istrinya lengkap dan baik-baik aja, bisa jadi dia ‘ada sesuatu’. Guyonan, gambar, atau video yang dikirim; well, silakan dibayangkan seperti apa isi otak pria ๐Ÿ˜„ Ini bukan asumsi ya, sudah masuk ranah penelitian bahwa otak pria lebih banyak memikirkan soal empat huruf berawalan dan berakhiran huruf s itu ๐Ÿ˜‰

Tujuan saya scanning gawai suami ya ini, menghapus konten seronok, supaya tak dilihat anak-anak. Moldy mengamati detail dengan matanya. Shena sudah mulai membaca dengan baik. Kalau kami kecolongan, gagap juga dong cari penjelasannya ๐Ÿ˜‚

Selain itu semua, isu istri kedua dan betapa bahagianya bisa poligami adalah sejumlah topik yang selalu diusung dalam berbagai pose. Bahkan ada meme yang menyatakan bahwa, hukum dasar pernikahan adalah poligami. Hiyaaa…๐Ÿ˜ฎ

Continue reading Desakan Poligami

Emon dan Cimor

Beberapa bulan lalu, saya memutuskan bahwa saya akan bersahabat dengan kucing. Penyebab utamanya, anak-anak terus memohon agar mereka dibolehkan memelihara kucing. Saya dan Jemi berusaha ‘masuk’, karena kami berdua tak terlalu menyukai binatang, meski juga tak suka jika mereka disakiti.

Hadirlah Emon dan Cimor, begitulah nama yang diberikan Shena pada mereka. Dua kucing persia campuran (bulunya tak terlalu lebat) ini, dengan cepat mengambil hati saya ๐Ÿ˜ Padahal saya baruuu aja belajar menyukai. Mengelus syahdu bulu panjangnya, yang bisa membantu menurunkan tekanan darah. Mereka pun beradaptasi dengan cepat. Suka menggelung pada kami bertiga, menjilat, menggigit, dan mencakar dengan mesra. Hihihi, gini ya rasanya berurusan sayang dengan binatang ๐Ÿ˜Š

Continue reading Emon dan Cimor

Seputar Angpau

Satu
Suatu siang di Lebaran kedua, sekitar jam 1 an, beberapa anak tak dikenal, bertamu ke rumah ibu mertua. Hihihi, anjangsana kesiangan, entah mereka berasal dari kampung mana. Dengan sigap mereka bersalaman dan memutuskan siapa pemilik rumah antara saya dan ibu mertua, demi tergenggamnya selembar rupiah ๐Ÿ˜€

Continue reading Seputar Angpau

Pergi (2)

Merasakan dua keguguran dalam waktu dua tahun berturut-turut. Antara sedih dan lega. Sedih karena sudah melihat bentuknya yang hampir sempurna seperti bayi, sayangnya pertumbuhan agak lambat dan tanpa detak jantung ๐Ÿ˜ญ Lega karena di dua bulan pertama usianya ini, kami sekeluarga sakit bergantian, mulai dari flu berat hingga cacar air. Tak bisa dihindari kan, hanya bisa pasrah dengan nasib si calon bayi dalam perut, semua terjadi sudah atas kehendak Allah ๐Ÿ˜ข

Baca: Pergi

Hidup memang penuh misteri. Saya sudah hampir menyalahkan diri kenapa tak begini dan begitu. Namun dokter menyatakan bahwa kemungkinan mengapa dia pergi, adalah karena batas takdir usianya hanya sampai sekian saja.

Continue reading Pergi (2)