Celoteh Shena

Dipukul kakak
“Huaaaa, huaaa, dipukul kakak” tangis Shena, lapor kepada saya yang sedang mencuci piring.

Menghela napas panjang, itu sudah yang kesekian kalinya, dan cerdiknya Moldy yang selalu mengambil kesempatan ketika Bubun lengah atau tak ada bersama mereka. Oh, anak lelaki…

“Kakak itu kok selalu ya… sudah, besok kita taruh kakak di asrama ya, biar ga nakal lagi,” tukas saya (pura-pura) geram.

Continue reading Celoteh Shena

Advertisements

Ultah Dari Jemi

Shena 11 Januari. Bubun 12 Januari.

Baca: Selahir Sesar

Yayah pulang lebih malam demi membelikan kue tart untuk kami berdua dan membelikan tas untuk saya. Maunya sih dibelikan Fossil yang harganya di atas 1 jutaan, jualan temen, hihihi… Tapi ndak tega, dasar emak rumahan begini ini 😂 Padahal tas terakhir yang saya beli buat wira-wiri jadi ojeknya anak-anak, merknya Tupperware kw 😈 Meskipun biasa aja, eh sempat hilang dan ketemu juga dengan cepat 😃

Meski saya udah kasi kode ‘mau tas mahal’ beberapa waktu sebelumnya, Jemi jauh lebih tahu apa mau istrinya yang kurang modis dan susah cantik-cantikan ini. Dia belikan tas Eiger yang banyak sakunya. Waaa gue banget 😍😍

Continue reading Ultah Dari Jemi

Asertif

Sore itu, Moldy masuk ke rumah dengan gontai, lalu menunjukkan segaris luka di kakinya pada saya. Dia bilang, dengan isyarat, bahwa dia jatuh sampai terluka, lalu meminta saya mengobatinya. Setelah istirahat sebentar, dia bersepeda lagi.

Malamnya…

Bermainlah sampai puas, nak 😍

“Bubun, kakiku berdarah. Mengalir,” teriak Shena dari luar.
“Kenapa?”
Continue reading Asertif

Shena, The Shadow

“Kapan sih kakak bisa ngomong? Biar aku gak malu sama teman-temanku,” protes Shena, lagi, ketika kami menjemputnya pulang sekolah.

😑😑

Saya sedang belajar diam, mencoba membiarkan dia menyimpulkan sendiri. Soal sakit hati atau sedih sih, inshaallah tidak. Tidak banyak maksudnya, hahaha…

Continue reading Shena, The Shadow

“Mama Moldy…”

“Ini nih, si anak yang diludahi dan ditendang sama Zen,” adu seorang anak abege, ketika saya dan Shena melewati segerombolan anak di depan toko penganan. Duh nak, kenapa mesti nunggu temanmu ngumpul baru kamu bilang? 😯 Kita kan tiap hari ketemu…

Si anak yang dia maksud adalah Shena. Zen yang dia maksud adalah anak kebutuhan khusus yang tiap sore datang ke rumah saya, menggoyang pagar, seraya memanggil dengan lembut, “Mama Moldy.”

‘Petugas patroli’ sore

“Haaaii…” sapa saya antusias. 

“Minta es krim,” katanya tanpa basa-basi. Sekali dikasi es krim bikinan saya sendiri, tiap ketemu minta es krim terus 😒

-continue reading

Sepanjang Dua Hari Yang Lalu

30 September kemarin, genap 8 tahun saya menjadi ibu. Hari lahirnya Moldy, dicekam horor sebagai emak baru yang super bloon. Syukurlah tak ada lagi kewajiban menonton film horor sejarah kelam. Maunya sih bikin postingan yang cetar yang akan menjadi kenangan, eh ternyata wassalam 😕

Saya beli kue dan Jemi beli kado. Pagi yang terlalui dengan biasa aja, tak se-excited ekspresi Moldy saat dia memohon agar bisa ultah sambil tiup lilin. Ealah nak, tiwas kami ini menyempatkan rencana sana sini supaya heboh 😄 

Kue udah agak nyoklat luar dalam, dia cuma niup aja, gak mau makan. Buat chocolover kayak Moldy, ini emang biasa aja. Masih nyoklat yang dulu dibeliin Jemi buat saya, pas belum ada anak-anak. Hehehe, pilihan kue akhirnya mengikuti jumlah anggota keluarga yang mesti ditanggung yaa 😉

Ini merk P, dekat rumah. Maunya sih merk H, yang sudah halal dan pasti enak, tapi lebih kecil 😂

-continue reading

Seni Kehilangan

Bocah penyemir sepatu itu menatap takjub pada sepasang sepatu hitam yang mengkilat. Kaki telanjangnya yang tebal dengan jelaga, nampak sangat kontras berbanding dengan si pemilik sepatu. Adegan berlangsung begitu lambat dan dramatis, saat si pemilik sepatu naik kereta diiringi tatapan tanpa kedip si bocah penyemir. Daaan…sepatu bagus itu tertinggal sebelah, saat kereta mulai melaju meninggalkan stasiun. Si penyemir sepatu berlari mengejar untuk menyampaikan sepatu sebelah namun tetap tak bisa menandingi kecepatan kereta. Si pemilik sepatu menyerah, dia lemparkan sepatu sebelah, gantian dia yang telanjang kaki. Mereka tersenyum, saling memancarkan guratan bahagia dan terima kasih ☺

-continue reading