Bisakah Mereka Mendengar dan Berbicara? (2)

Hampir tiga tahun berlalu sejak saya menulis kemungkinan bisa mendengar dan berbicara. Sesudah menelisik semua pilihan kemungkinan, akhirnya saya menyepakati bahasa isyarat sebagai bahasa ibu dan sayalah yang mesti belajar ☺

Agak kecewa, dengan propaganda bahasa isyarat yang susah, banyak macamnya, atau bahkan dianggap sebagai bahasa tarsan. Memanfaatkan sisa pendengeran jargonnya. Indonesia may hear. Hmmm, tak semua masalah pengetahuan dan pemahaman bisa diselesaikan dengan harus mendengar.

Baca: Normal, Bahagia, Isyarat

Continue reading Bisakah Mereka Mendengar dan Berbicara? (2)

Advertisements

‘Gaung’ Isyarat

Saya pernah bertekad, bahwa Moldy tak akan sekolah di SLB supaya dia bisa bergaul dengan anak dengar, tak akan berbahasa isyarat supaya verbalnya lebih terasah. Pokoknya dia harus bisa berbicara seperti orang biasa. Semaksimal mungkin. Senormal mungkin 😑

Apa daya, terapi wicara mengalami perkembangan lambat, maju satu langkah lalu mundur dua langkah 😢 Belum lagi menangani tantrumnya yang hampir tanpa henti. Disuruh bilang A, keluarnya B. Terus dipaksa, dia memilih melarikan diri atau cuma diam sambil melotot seolah mengatakan, “Aku males, aku emoh, so what?” 😄

Continue reading ‘Gaung’ Isyarat

Our Anger Management-ADHD Suspect (2)

Dari seminar ke seminar. Dari terapi ke terapi. Dari obat ke stop. Dari diet lalu malas. Dari bingung sampai bingung bangeeet, kadang teori tak setara dengan praktek. Masih terus berjalan dan mencoba. Kali ini, kami diperkenankan mendapat tambahan ilmu yang lebih kooperatif. Racikan antara kasih sayang dan sentuhan.

Ini tentang sejumlah penanganan bagi yang (tercurigai) ADHD. Untuk jenis dan detailnya, anda mesti tetap menghubungi ahli terkait ya. Tulisan ini hanya berbagi sedikit pengalaman ☺

Baca: ADHD, Ya Sudahlah

Minggu 29 Juli, saya berkesempatan menghadiri seminar dengan pembicara Octorina Basushanti, penemu teknik Octo Touch, HTHT (how to handle them). Libatkan hati, yuhuuu, seperti tujuan awal pembuatan blog ini, jangan lepaskan hati dalam setiap langkah. Anak difabel dikenal akan sensitivitasnya. Mereka akan dengan mudah membedakan mana orang yang tulus melayaninya dan mana yang tidak.

Baca: Di Balik Nama

Materinya bu Octo secara lengkap saya tulis terpisah ya. Ini yang penanganan (tercurigai) ADHD saja. Saya genapkan penanganan versi bu Octo, dengan tambahan beberapa sumber lain dan sejumlah pengalaman yang sudah saya jalani.

Continue reading Our Anger Management-ADHD Suspect (2)

Normal, Isyarat, Bahagia

“Ibu harus mengajari anaknya berbicara. Jangan berikan apa yang dia minta jika dia belum bicara,” pesan ibu ketua dengan berapi-api.

Saya meringis cuek, “Iya, bu.”
Sebelum giliran saya mendaftar sekolah, ada anak implant, perempuan, menurut, dan kata-katanya lumayan jelas. Apes saya deh, Moldy dibandingkan dengannya, menyeluruh, termasuk emaknya 😑

“Lihat ibu itu,” lanjutnya sambil menunjuk pada ibu anak implant.

Continue reading Normal, Isyarat, Bahagia

Dari Bu Dokter Sp.THT Itu

Kali ini saya mengutip kisah saja ya, berhubung saya tak hadir di seminar yang bersangkutan ☺

Dokter perempuan spesialis THT itu, mengatakan bahwa bahasa isyarat bisa menjadi alternatif terakhir, jika anak tak bisa diusahakan mendengar dengan alat bantu atau verbal, mengalami difabilitas ganda, sementara usia anak semakin bertambah.

Meski masih berkaitan dengan deprivasi bahasa, saya ikut senang 😍, apalagi jika mengingat satu kisah pribadi mengenai penolakan yang materialistik itu. Huh…

Baca: Rejected.

Continue reading Dari Bu Dokter Sp.THT Itu

Istilah

Spesial, berkebutuhan khusus, difabel, disabel, cacat.

Anda pilih menyebut yang mana?

Michael Stein, seorang pengacara tuli dari Amrik menjelaskan, bahwa sebutan difable adalah terbaik dibandingkan yang lain. Diffable atau differently able. Mampu dengan cara lain. Istilah ini juga yang sering disuarakan Pandji, dalam sejumlah tweet dan videonya.

Baca: Perlindungan Hukum Untuk Para Tuli

Continue reading Istilah

Deaf Rihla: Cinta Dalam Sunyi MenujuNya

Ini yang pertama di Indonesia, siraman rohani yang disampaikan dalam bahasa isyarat, didampingi oleh beberapa penerjemah. Pembicaranya seorang pengusaha Muslim dari UK.

Pembicaranya, mampu berbicara oral dalam bahasa Inggris, dengan intonasi dan pengucapannya sama seperti orang biasa; namun dia lebih nyaman berbahasa isyarat. Komunikasinya diterjemahkan oleh mas Ipong dalam bahasa Indonesia bagi peserta dengar, kemudian diterjemahkan lagi dalam Bisindo oleh Bunda Galuh bagi peserta tuli. 

Sepintas sih nampak rumit dan peserta dengar mesti bersabar menunggu proses terjemahan. Ada beberapa isyarat yang bahkan mesti dikomunikasikan dengan bahasa Inggris, dibantu dengan Alquran terjemahan, juga bantuan obrolan dengan peserta lain; namun itu tak mengurangi esensi materi. Bahkan, dari sejumlah pertemuan formal dengan para tuli, saya hampir kewalahan mencatat dan menerjemahkannya ke dalam tulisan, karena jadinya banyaak sekali 😀

Continue reading Deaf Rihla: Cinta Dalam Sunyi MenujuNya