Deaf Rihla: Cinta Dalam Sunyi MenujuNya

Ini yang pertama di Indonesia, siraman rohani yang disampaikan dalam bahasa isyarat, didampingi oleh beberapa penerjemah. Pembicaranya seorang pengusaha Muslim dari UK.

Pembicaranya, mampu berbicara oral dalam bahasa Inggris, dengan intonasi dan pengucapannya sama seperti orang biasa; namun dia lebih nyaman berbahasa isyarat. Komunikasinya diterjemahkan oleh mas Ipong dalam bahasa Indonesia bagi peserta dengar, kemudian diterjemahkan lagi dalam Bisindo oleh Bunda Galuh bagi peserta tuli. 

Sepintas sih nampak rumit dan peserta dengar mesti bersabar menunggu proses terjemahan. Ada beberapa isyarat yang bahkan mesti dikomunikasikan dengan bahasa Inggris, dibantu dengan Alquran terjemahan, juga bantuan obrolan dengan peserta lain; namun itu tak mengurangi esensi materi. Bahkan, dari sejumlah pertemuan formal dengan para tuli, saya hampir kewalahan mencatat dan menerjemahkannya ke dalam tulisan, karena jadinya banyaak sekali 😀

Continue reading Deaf Rihla: Cinta Dalam Sunyi MenujuNya

Advertisements

“Mama Moldy…” (2)

“Aku dipukul. Aaaa…” teriak Zen, mengiba, tapi tak berusaha menghindari si pemukul.

“Kamu yang keterlaluan, kamu ludahin adikku. Dasar…” balas anak si pemukul seraya terus melancarkan bogem dan juga menendangi sepedanya Zen.

Gambar pertikaian ala Moldy

Saya tak bisa mendengar dengan begitu jelas, lagi nyambi beres-beres rumah. Pertengkaran berjarak sekitar dua rumah dari saya. Para bocah ini tak mau manut pada teriakan ibu-ibu yang berusaha melerai mereka. Baku hantam terus berlanjut dengan tidak imbang, hingga kemudian mereka menghilang di gang masing-masing. Duh, skornya berapa ya. Eh… 

Continue reading “Mama Moldy…” (2)

Sebuah Zona Nyaman

One day one post, hari kesepuluh 💪

Ini tahun ketiga saya berinteraksi dengan lingkaran penyandang tunarungu. Sesama orang tua, guru, juga anak-anak dari berbagai usia dan latar belakang. Rasanya nano-nano. Bagian sedih yang mulai terkelupas, semangat yang membuncah, empati yang terpahat apik, dan juga bahagia yang tak ternilai ☺

Ada yang bilang SLB itu tidak manusiawi, karena seperti mengasingkan mereka yang istimewa dari pergaulan secara umum. Justru, saya merasa sekolah di SLB di tahap awal usia anak itu membuat mereka lebih manusiawi. Proses melihat di depan cermin, siapakah mereka. Mereka memiliki keistimewaan dari orang normal. Mereka juga melihat siapa saja teman mereka yang ternyata hampir senasib ☺

Continue reading Sebuah Zona Nyaman

Mengajak Si Spesial Keluar Kota

One day one post, hari ketiga 💪

Ini kisah flashback ya, saat anak-anak masih balita, belum sekolah. Tentang perjalanan bertiga keluar kota, sudah saya lama saya tuliskan. Sekarang mau cerita perjalanan keluar provinsi, baru berani mengajak per satu anak 😉

Baca: Perjalanan Keluar Rumah Bersama Krucils

Kami berdua ke Jogja, di usia Moldy yang baru 4.5 tahun. Masih sering tantrum, terapi wicara jalan di tempat, dan sering menghilang karena penasaran akan sesuatu 😨

Siap berkelana sendiri 😂

Naik kereta Sancaka dari stasiun Gubeng, berangkat sekitar jam 7-8 pagi. Awal berangkat masih kooperatif, tidur ayam dengan kepala terkulai di pangkuan saya. 

Continue reading Mengajak Si Spesial Keluar Kota

Kebutuhan Khusus Dalam Alquran

Pertanyaan saya dulu, kenapa sih tak ada bahasan tersendiri soal kebutuhan khusus dalam Alquran? 😮

Kegalauan itulah yang kemudian mendasari tulisan Bukan Ujian, Bukan Malapetaka.

Saya pernah cerita kan ya, kami dituduh punya dosa di masa lalu sehingga Moldy yang kena azabnya menjadi tunarungu. Karena tidak percaya hal begituan, saya berkilah. Ada tuh, ustadz yang kaya raya, setiap tahun selalu memberangkatkan pegawainya umroh. Anaknya yang berkebutuhan khusus sudah berobat hingga keluar negeri demi mencapai perbaikan dan ternyata Allah masih mengujinya. Eh argumen baliknya belum selesai di situ aja lho. Kalau bukan dosa orang tuanya, maka dosanya kakek neneknya, buyutnya, canggahnya… Duh Gusti Allah… Stop aja deh, kibar bendera putih. Gawai boleh tercanggih, tapi kalau pemikiran masih primitif, percuma dong ya 😉 

Continue reading Kebutuhan Khusus Dalam Alquran

Sekilas Catatan Tentang Kebutuhan Khusus

Menuliskan pengalaman saya dalam mengasuh anak spesial, bukan berarti cara saya yang paling benar ya. Selain senang menulis, saya berbagi rasa, barangkali kita bisa berjalan bersama, demi menyadari kenyataan bahwa kesetaraan itu masih jauh di ujung pelangi. 

Kalau baca betapa perhatiannya pemerintah di negara-negara maju kepada penduduknya yang spesial, semakin merasa ngenes. Cuman ya, menyalahkan keadaan dan mengeluh tak serta merta membuat semuanya lebih baik ya. Lha wong Indonesia ini super luas, ribuan pulau, ratusan jenis bahasa daerah, budaya, kepercayaan. Sementara pembangunan belum bisa merata, angka pertambahan jumlah penduduknya merayap ke atas tanpa rehat. Mengatur pemerintahan dan memberantas korupsi di level atas aja susah, apalagi mengatur ratusan juta rakyat yang sangat plural. Jangan melulu ngiri dan sibuk membandingkan dengan sistem pendidikan Finlandia atau Jepang ya. Ingin boleh, kecewa jangan. Itu bukan perbandingan apple to apple. Kondisi negara kita lebih heterogen dan kompleks, rumit.

Continue reading Sekilas Catatan Tentang Kebutuhan Khusus

OTW: Bisindo (1)

Dengan isyarat yang terbata-bata, saya sampaikan kepada Moldy, bahwa kami akan belajar bahasa isyarat untuknya, agar kita bisa ngobrol lebih banyak. 

Moldy menyatakan bahwa dia senang sekali 😍


Belajar sepatah demi sepatah melalui medsos, tak cukup membuat saya langsung mahir. Meski demikian, isyarat ibu masih bisa berlaku ya. Saya maksimalkan itu, dan Moldy menanggapinya dengan sangat positif. Amarah dan kekecewaannya pun jadi lebih terkendali. Jika tak paham sesuatu, dia mengangsurkan spidol dan meminta saya menulis serta menggambar di papan tulis.
Continue reading OTW: Bisindo (1)