Anakku Tidak/Belum Hebat

Saat orang memuji Shena yang nilainya baik dan rajin belajar, saya segera berdalih bahwa dialah hiburan saya. Moldy yang malas belajar dan cuek dengan nilainya 😅

Saat orang memuji Moldy bisa tampil di panggung beberapa kali di sela keterbatasannya sebagai seorang Tuli, saya bersyukur alhamdulillah umeknya tersalurkan 😉

Mereka hebat karena jatah dari Allah, saya sih numpang keren aja 😁 Hehehe, sombong itu gampang, rendah hati itu butuh perjuangan 😀 Pengen juga sih sesekali pamer, tapi lihat-lihat dulu dengan siapa ngobrolnya…

Baca: Kekuranganmu Adalah…

Rasanya jengkel banget kalau dengerin orang sedang mblukuthuk tentang kehebatan dirinya atau anaknya. Sekali-dua kali, oke, wajar. Tapi kalau terus menerus, sampai tak memberi kesempatan lawan bicara, gak adil juga dong. Yang suka bicara supaya emosinya tersalur, perempuan. Yang ingin dihargai pencapaiannya dalam mendidik anak, perempuan juga. Mbok ya saling memberi kesempatan. Toh demi kesehatan jiwa masing-masing 😉✌

Selain itu, saya juga pernah merasakan betapa galaunya, saat anak lain maju pesat, sementara anak saya di situ-situ aja, super selow, bahkan mundur 😨 Saking galaunya, saya marahin Moldy. Bukannya bikin dia paham, eh dia malah nangis memohon-mohon agar saya tak berubah jadi setan 😈

Continue reading Anakku Tidak/Belum Hebat

Advertisements

Antara SLB, Terapi, dan Pemerintah (2)

Tulisan seri pertama dijadikan salah satu data mengenai kebutuhan khusus, alhamdulillah. Entah mesti seneng atau gimana, karena yang dia (penulis skripsi) simpulkan kurang tepat. Moldy dianggap perempuan, dibully di sekolah umum. Padahal Moldy adalah seorang lelaki yang pernah diperlakukan tidak adil dalam pergaulan sehari-hari. Di sebuah TK umum, dialah yang dulu jadi salah satu pembully anak-anak perempuan kecil 😂✌

Baca: Antara SLB, Terapi, dan Pemerintah

Hehehe, dia belum ngerti waktu itu dan kami belum banyak tahu cara memahaminya. Ada banyak kejadian lucu. Saya yang masih panikan, dia sering bikin gara-gara, jadi saya ikutin melulu kemana pun dia melangkah. Para gadis kecil selalu lari ketakutan atau ibunya yang buruan menyelamatkan sebelum kena kejahilan Moldy 😂🙇

Suatu hari, saya berikan jajannya Moldy (karena banyak) ke seorang gadis kecil. Salahnya, saya gak minta ijin jadi Moldy merebutnya, merasa itu miliknya. Saya minta maaf sama ibunya, untung si ibu baik. Besoknya, Moldy bawa jajan lebih banyak dan dia kasikan pada si bocah yang kemarin dia sakiti. Ibunya cerita 😁 Nah kan, dia cuma jengkel, bukan jahat.

Masa menyekolahkan dia ke umum adalah masa denial, berharap dia mampu berbaur dengan mereka yang a.k.a. normal. Begitu sadar dia tak nyaman, saya mulai agak ikhlas dan mencari SLB. Siapa sangka, dia begitu bahagia ketemu sesama tuli dan langsung bersemangat sekolah ☺

Menuju empat tahun bersekolah di SLB, mulai terpetakan bagaimana suasana, masalah diskriminasi, sistem pengajaran, dan sebagainya. Ada beberapa hal yang kurang sejalan dengan hati nurani, ya lah, rasanya tak ada sekolah yang sesempurna ekspektasi semua orang. Bagaimanapun, inshaallah masih bisa dilanjutkan dengan sejumlah penyesuaian dan lapang dada ☺

Tulisan kedua ini, menyajikan kesimpulan yang sama sekali berbeda dengan tulisan pertama 😉

Continue reading Antara SLB, Terapi, dan Pemerintah (2)

Gratis Tak Selalu Manis (2)

Alatnya Moldy yang kedua, gratis dari Star***. Sebenarnya saya tak terlalu sepakat dengan ini sih, mending beli sendiri. Atau bahkan tak usah pakai sama sekali. Jemi tetap memaksa kami berangkat ngantri. Mengurus pertanggungjawaban tak butuh alat itu seperti superhero kesiangan. Kalau Jemi mendukung kami sih, tak masalah, tapi… Hiks, kompak itu susah, kawan 😀

Tak lama kemudian alatnya enggan berfungsi, dan segera karatan karena lama tak digunakan. Saya juga tak berangkat untuk servis. Mbuh, rasanya dendam banget dengan alat bantu. Hahaha…

Baca: Rejected

Continue reading Gratis Tak Selalu Manis (2)

Bully (4): Pada Ortu Anak Disable

Jangankan terpikir untuk membully orang tua lain, untuk bangkit dari bully aja, saya pun butuh waktu yang tak sebentar. Sempat ngefek juga, semacam minder dan self-blaming 😕 Sekarang pun rasanya masih naik turun, kadang sedih kadang santai, tapi lumayan bisa dikendalikan ☺
Pengertian bully itu sebenarnya lebih kepada perbuatan intimidatif yang dilakukan berulang oleh orang/kelompok yang sama. Kalau dilakukan berulang oleh orang yang berbeda, belum teristilah bully. Namun untuk memudahkan obrolan kita kali ini, sebagian digunakan istilah bully, sebagian lagi ejekan atau yang setara.

Baca: Rejected

Sebuah resiko yang tak bisa dihindari, bahwa semua yang menyandang status sebagai ortu anak difabel, dipandang aneh 😑 Dibilang punya dosa terlalu besar di masa lalu hingga anak yang menanggungnya, punya pesugihan dan anak sebagai tumbalnya, akibat suami istri tidak rukun, tidak menjaga diri saat hamil, tidak pinter mengasuh anak, ibu/ayahnya penyakitan, kena kutukan, anak dirasuki makhluk halus, dan sebagainya 😨 Anda yang mana aja? Ada ejekan lain? Boleh ditulis di kolom komentar dan yuk bersama kita kirim kutukan balik 😂✌

Baca: Kebutuhan Khusus Dalam Alquran

Continue reading Bully (4): Pada Ortu Anak Disable

Perjalanan Menerima

Dalam sebuah forum diskusi, terkemukalah topik mengenai perjalanan menerima ☺ Perjalanan yang cukup personal, setiap orang tua memiliki tahapan serta waktu yang bervariasi. Untuk itu, para orang tua diminta untuk melengkapi kalimat berikut:

“Aku sadar bahwa aku mulai sepenuhnya menerima kondisi anakku yang tuli/tunarungu saat ________”

☺☺

Jawaban yang mereka sampaikan membuktikan bahwa benar, menerima adalah proses personal yang unik. Menerima berkenaan dengan kelapangan hati. Bahkan ada yang dengan jujur mengakui bahwa dia belum sepenuhnya menerima 😢
Lebih lengkapnya, mari dibaca satu per satu 😉 Saya pisah berdasarkan kesimpulan tema, yaitu lingkungan keluarga, perdamaian diri, prestasi anak, orang tua yang terus belajar, dan Tuhan.

Continue reading Perjalanan Menerima

5 Alasan Ngeblog

Ada yang masih ingat dengan blogdrive? 😊
Di situ saya bikin blog pertama, yang isinya pengalaman sehari-hari. Hampir sama juga kayak sekarang, beda intensitas dan datanya. Saya selalu tertarik dengan tema anak-anak, perempuan, politik, dan agama. Gak terlalu nyambung sih, hehehe, tapi itulah sejumlah topik konsisten yang hampir selalu saya tulis.

Tentang anak-anak, melebar menjadi difabilitas, pendidikan, dan pengasuhan. Politik banyak berkurang, buat bahan obrolan offline aja, nulisnya hanya menyentil sedikit aja. Sudah banyak ahli politik dadakan di medsos, sungkan euy 😆 Bahasan agama juga mulai saya kurangi, kecuali yang sumbernya jelas dan hampir minim kontroversi. Sesekali baca Magdalene untuk tes ombak, laman yang cukup kritis untuk topik perempuan dan agama. Boleh baca pandangan saya, silakan berargumen 😉 Saya pernah menjadi sangat kanan, hampir cadaran, tapi udah tidak lagi. Barangkali buat sebagian teman, saya udah semacam liberal atau plural. Bodo amat, tafsir aja ada Ibnu Katsir dan Saidi, imam ada empat; masa kita yang kaum akar rumput harus sepakat sama persis 😕

Continue reading 5 Alasan Ngeblog

Bisakah Mereka Mendengar dan Berbicara? (2)

Hampir tiga tahun berlalu sejak saya menulis kemungkinan bisa mendengar dan berbicara. Sesudah menelisik semua pilihan kemungkinan, akhirnya saya menyepakati bahasa isyarat sebagai bahasa ibu dan sayalah yang mesti belajar ☺

Agak kecewa, dengan propaganda bahasa isyarat yang susah, banyak macamnya, atau bahkan dianggap sebagai bahasa tarsan. Memanfaatkan sisa pendengeran jargonnya. Indonesia may hear. Hmmm, tak semua masalah pengetahuan dan pemahaman bisa diselesaikan dengan harus mendengar.

Baca: Normal, Bahagia, Isyarat

Continue reading Bisakah Mereka Mendengar dan Berbicara? (2)