Reinforcement (3)

Bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda 2018, sebuah gelar wicara bertema disabilitas diadakan oleh mahasiswa FE UNAIR dan sejumlah sponsor. Salah satu sponsor yang saya suka, Indocafe Coffeemix 🤤 Sluuurp, dapat kopi gratis secangkir kecil☕ Tapi sekarang lagi belajar minum kopi tubruk, mengurangi kopi instant ✌

Baca: (Sedang berusaha) Tidak Ngopi

Temanya Social Action, menghadirkan lima pemuda difabel berprestasi. Saya ceritakan sesuai dengan nama masing-masing ya..

Alfian
Mahasiswa tunanetra pertama yang diterima di Unair, di jurusan Antropologi 2015. Di tahun 2017, ada tiga orang lagi yang diterima.

Sistem yang dipakai untuk belajar adalah Jaws, mengubah tulisan menjadi suara.

Continue reading Reinforcement (3)

Kesehatan Mental Kaum Tuli

Siang menjelang malam, saya mendapat kesempatan untuk ngobrol bertiga dengan Laura, kakak Tuli yang bisa 10 bahasa dan Herbert Klein, profesor bidang kesehatan mental, yang juga tuli. Saya yang cuma bisa bahasa isyarat patah-patah, dibantu kakak yang saat ini akan melanjutkan S2 di Hongkong. Ternyata diskusi seru juga, sampai lupa untuk minta difoto sebagai bukti saya nampang bersama orang keren 😃

Terkadang, males selfie itu agak menyesatkan popularitas 🤭

Seru lho, penyampai materi semuanya berbahasa isyarat

Laura, terlahir dari keluarga tuli, menguasai sekitar sepuluh bahasa asing. Herbert, seorang Tuli dari keluarga dengar. Menjadi berkebutuhan khusus, secara medis, tak akan menghalangi seseorang untuk berprestasi. Secara budaya, Tuli adalah kaum minoritas yang memiliki ciri khasnya sendiri.

Baca: Tuli: Sebuah Identitas

Continue reading Kesehatan Mental Kaum Tuli

Tarif Ngelmu

Ngelmu maksudnya mencari ilmu ya, bukan dalam konotasi negatif. Yang semacam itu, akan saya bahas di seri kedua, insyaallah, jika tak ada halangan dan datanya cukup 😊

Di awal-awal tahun 2000an, harga tiket untuk pelatihan atau seminar motivasi, berbandrol sekian ratus ribu hingga sekian juta rupiah. Yang beli banyak, lulusannya bisa jadi motivator dan barangkali bisa balik modal dalam jangka waktu singkat. Tinggal tentukan harga seminar, beri bumbu menarik dan orang akan berbondong datang. Keajaiban kata-kata 😉

Dampak positifnya pasti ada, tapi tak sefenomenal yang dicontohkan saat seminar. Saya sempat tertarik ikut yang beginian, meski bukan ikut yang mahal 🤭 tapi lama-lama mikir juga. Semua duit banyak, pasti dihasilkan dari kerja keras sekaligus kerja cerdas, secara konsisten. Tapi…gitu deh, panjang penjelasannya 😁

Baca: Berkah

Beberapa bulan lalu, seminar dan atau pelatihan untuk anak autis terbandrol 500 ribu hingga beberapa juta, tergantung bobot materinya. Banyak juga yang datang, terutama orang tua, guru, dan terapis. Untuk ini, saya tidak heran, mengingat penanganan difabilitas ini cukup rumit. Makanannya khusus yang non alergen, tesnya tak semua bisa dikaver di Indonesia, perlakuan untuk tiap spektrum pun tak sama.

Continue reading Tarif Ngelmu

Reinforcement (2): HTHT

Senaaang sekali kalau ada seminar murah atau bahkan tak berbayar. Sayang, efek sampingnya agak menyesatkan 😁 Saya jadi malas berusaha mencari tahu dari awal. Biasanya kalau mahal, saya ubekin dulu ranah informasi digital, biar punya bahan untuk nanya-nanya. Ogah rugi, hehe… Tapi kalau murah atau gratis, saya malah cuek asal datang. Duh, Indonesian.

Bagaimanapun, saya harus berterima kasih pada banyak pihak yang ternyata berusaha keras untuk memfasilitasi orang tua dan anak difabel untuk menuju kesetaraan. Ini salah satunya. Seminar murah, meriah, dan ilmu yang sangat bermanfaat. Alhamdulillah, kalau mau mencari dan mencoba, banyak kok fasilitas untuk para difabel. Setara memang belum sempurna ya, tapi kepedulian sudah cukup baik 😊

Ini materi lama, tahun lalu 😔 Hasrat ingin menulis dengan data sempurna, berujung tak segera ditulis, hehe… Akhirnya banyak informasi yang lupa. Gapapa ya, sebagian besar masih apdet kok. Pembicara juga masih kemana-mana untuk menawarkan tekniknya sebagai solusi alternatif dan komplementer bagi pendampingan anak difabel.

⚅ Siapa pembicaranya?
Octorina Basushanti. Kuliah di HI-UI angkatan 93.

Ini perlu digarisbawahi, sembari mengingat Arief Budiman (Ketua KPU), Dee Lestari (penulis), Tika Panggabean (artis), Ade Rai (binaragawan), Patsy Widakuswara (jurnalis), Gilang Bhaskara (comic), Ge Pamungkas (comic). Semuanya lulusan HI.

Bu Octo kemudian mendalami hipnoterapi dan meraih gelar master.
Bu Octo memiliki 9 anak, 8 perempuan dan 1 lelaki. Satu-satunya inilah yang ternyata divonis menyandang cerebral palsy, blind, deaf, bahkan mengalami kematian otak di usia beberapa bulan. Namanya Drumas. Sehari kejang bisa 155 kali 😨
Dengan sejumlah metode yang dipadukan secara otodidak dan hipnoterapi, Drumas kini bisa bermain drum, berjalan dengan tongkat, makan dan mencuci piringnya sendiri.
Otaknya dinyatakan mengalami regenerasi/pemulihan di usia 4-5 tahun. Subhanallah…

Continue reading Reinforcement (2): HTHT

7 Cara Menjadi Ibu Yang Dirindukan

Akhirnya, sekian lama jadi anggota grup ngaji online, baru kali ini bisa hadir ke acara offlinenya. Dapat bonus sampel pembersih wajah dan kipas. Alhamdulillah 🤗

Pembicaranya Siti Fauziah, konselor pendidikan Al Falah.

Penyampaiannya cukup ringkas, hampir seperti kuliah. Ada studi kasus langsung dan ujian lisan tentang materi yang baru dibahas 👍 Seperti biasa, saya tambahkan materi dari sumber lain supaya lebih bernutrisi yaa 😘

Ice breaking diisi dengan menuliskan kenangan apa saja yang paling kita ingat tentang ibu. Standar ya, masakan yang khas. Untuk Mamak, saya baru tersadar bahwa Mamak selalu menyimak kisah saya selama sekolah, memberikan nasehat terbaik atau menyemangati. Kebiasaan yang patut dilestarikan, dan ternyata berhubungan erat dengan materi yang disampaikan 😍

Contoh universal diawali dengan, Albert Einstein dan Thomas Alfa Edison. Saat sekolah, keduanya digolongkan sebagai bodoh dan lambat belajar. Berkat jasa dan pendampingan ibunya, mereka berhasil menjadi penemu hebat, yang hasilnya bisa dinikmati penduduk dunia hingga hari ini 🤗

Contoh islami, ada Aminah ibunda Rasulullah, yang tetap dihormati meski hanya merawat beliau hanya hingga usia 6 tahun. Ibunda lain yang melahirkan dan mendampingi para ulama besar dunia, juga banyak. Sayang contohnya kurang aplikatif. Banyak tokoh Muslim yang berjasa bagi peradaban dunia, tapi kita tak banyak mengenal mereka 🙁

Baca: Ibunda Para Ulama

Continue reading 7 Cara Menjadi Ibu Yang Dirindukan

Our Anger Management-ADHD Suspect (2)

Dari seminar ke seminar. Dari terapi ke terapi. Dari obat ke stop. Dari diet lalu malas. Dari bingung sampai bingung bangeeet, kadang teori tak setara dengan praktek. Masih terus berjalan dan mencoba. Kali ini, kami diperkenankan mendapat tambahan ilmu yang lebih kooperatif. Racikan antara kasih sayang dan sentuhan.

Ini tentang sejumlah penanganan bagi yang (tercurigai) ADHD. Untuk jenis dan detailnya, anda mesti tetap menghubungi ahli terkait ya. Tulisan ini hanya berbagi sedikit pengalaman ☺

Baca: ADHD, Ya Sudahlah

Minggu 29 Juli, saya berkesempatan menghadiri seminar dengan pembicara Octorina Basushanti, penemu teknik Octo Touch, HTHT (how to handle them). Libatkan hati, yuhuuu, seperti tujuan awal pembuatan blog ini, jangan lepaskan hati dalam setiap langkah. Anak difabel dikenal akan sensitivitasnya. Mereka akan dengan mudah membedakan mana orang yang tulus melayaninya dan mana yang tidak.

Baca: Di Balik Nama

Materinya bu Octo secara lengkap saya tulis terpisah ya. Ini yang penanganan (tercurigai) ADHD saja. Saya genapkan penanganan versi bu Octo, dengan tambahan beberapa sumber lain dan sejumlah pengalaman yang sudah saya jalani.

Continue reading Our Anger Management-ADHD Suspect (2)

Dari Bu Dokter Sp.THT Itu

Kali ini saya mengutip kisah saja ya, berhubung saya tak hadir di seminar yang bersangkutan ☺

Dokter perempuan spesialis THT itu, mengatakan bahwa bahasa isyarat bisa menjadi alternatif terakhir, jika anak tak bisa diusahakan mendengar dengan alat bantu atau verbal, mengalami difabilitas ganda, sementara usia anak semakin bertambah.

Meski masih berkaitan dengan deprivasi bahasa, saya ikut senang 😍, apalagi jika mengingat satu kisah pribadi mengenai penolakan yang materialistik itu. Huh…

Baca: Rejected.

Continue reading Dari Bu Dokter Sp.THT Itu