Deaf Rihla: Cinta Dalam Sunyi MenujuNya

Ini yang pertama di Indonesia, siraman rohani yang disampaikan dalam bahasa isyarat, didampingi oleh beberapa penerjemah. Pembicaranya seorang pengusaha Muslim dari UK.

Pembicaranya, mampu berbicara oral dalam bahasa Inggris, dengan intonasi dan pengucapannya sama seperti orang biasa; namun dia lebih nyaman berbahasa isyarat. Komunikasinya diterjemahkan oleh mas Ipong dalam bahasa Indonesia bagi peserta dengar, kemudian diterjemahkan lagi dalam Bisindo oleh Bunda Galuh bagi peserta tuli. 

Sepintas sih nampak rumit dan peserta dengar mesti bersabar menunggu proses terjemahan. Ada beberapa isyarat yang bahkan mesti dikomunikasikan dengan bahasa Inggris, dibantu dengan Alquran terjemahan, juga bantuan obrolan dengan peserta lain; namun itu tak mengurangi esensi materi. Bahkan, dari sejumlah pertemuan formal dengan para tuli, saya hampir kewalahan mencatat dan menerjemahkannya ke dalam tulisan, karena jadinya banyaak sekali 😀

Continue reading Deaf Rihla: Cinta Dalam Sunyi MenujuNya

Advertisements

Tuli: Sebuah Identitas

Tuli, dengan huruf T kapital seperti halnya menulis nama, adalah sebuah identitas yang dipilih oleh para penyandang gangguan dengar. Mereka memilih berkomunikasi dengan bahasa isyarat, yaitu Bisindo. Sementara yang digunakan secara formal adalah SIBI. Apa perbedaannya?

Berikut informasi yang bisa saya rangkumkan mengenai gambaran komunitas para Tuli, yang sedang memperjuangkan legalitas Bisindo. Materi saya tuliskan sesuai dengan nama pembicaranya ya. 

Iies Arum
Seorang ibu dengan satu putra dan dua putri. Kisah bu Iies sudah saya baca sebelumnya di blog azizaku.com. Putra pertamanya menyandang tuli dan saat ini kelas 5 di sebuah SLB di Yogyakarta. Bu Iies berusaha keras agar Udana bisa mendengar dan berbicara, melalui dukungan terapi wicara dan alat bantu dengar. Namun Udana menginginkan yang berbeda.

Dua pernyataan Udana yang sangat menohok adalah:

Continue reading Tuli: Sebuah Identitas

Reinforcement 

Sebuah hari yang tersebut sebagai reinforcement day 😊 Lokasinya di Bin Attar, Sidoarjo. Beberapa materi sudah pernah saya tulis di blog. Alhamdulillah, tetap ada sejumlah ilmu baru yang nambah ☺

Pembicara ‘talkshow’ hari itu ada tiga. Ibu Uliyah-ibu yang memiliki anak autis, konsultan untuk kebutuhan khusus, dan banyak lagi. Ibu Afiyah Latifah-terapis, psikolog, dan seabreg lainnya. Ustadz Febry Suprapto-dosen, motivator, dan juga banyak deretnya.

Grup musik anak spesial

Berikut ringkasan materinya, yang banyak diantaranya sudah saya bahas di blog: 

-continue reading

Perlindungan Hukum Untuk Para Tuli

Seminar diadakan di Universitas Sanata Dharma, Kampus I, Sleman, pada hari Minggu, 6 Agustus 2017. 
Kesetaraan antara penggunaan dan pemahaman istilah tuli maupun tunarungu, masih menjadi perdebatan. Meski, diskriminasi tetap menjadi ‘bumbu’ utama yang tak bisa hilang sepenuhnya dalam perjuangan menuju setara bagi kaum tuli. Saya menggunakan istilah tuli di sini, menghormati kenyamanan identitas mereka ☺

Supaya ringkas, saya pakai mode tanya jawab. Ada beberapa sumber yang saya tambahkan sebagai data tambahan, serta beberapa tanya jawab selama acara yang saya jadikan materi langsung di bawah ini. Selamat menyimak ☺

Siapa sajakah pembicaranya?
Prof. Michael Steven Stein dari Washington AS, seorang tuli yang bahkan baru belajar bahasa isyarat di usia 24 tahun. Dia menempuh pendidikan bidang hukum di Universitas Harvard dan Princenton, dengan predikat summa cumlaude.
Drg. Juniati Effendy, seorang tuli yang menempuh pendidikan di Dena Upakara Wonosobo, lalu menempuh pendidikan kedokteran di Universitas Prof. dr.Moestopo, Jakarta. Sekarang prakteknya di Jakarta Barat.

Apakah tujuan seminar itu diadakan?
1. Sosialisasi UU no 8 tahun 2016 mengenai kesetaraan hak tuli dan juga para difabel lain di berbagai bidang, mengingat CRPD (Convention on the Rights of a Person with Disability) sudah disahkan oleh PBB sejak 30 Maret 2007. Ada 240 pasal yang diajukan untuk perbaikan nasib para tuli, namun banyak yang dihapus sehingga tersisa 150 pasal.
2. Memberikan advokasi (bantuan hukum) kepada para tuli untuk mendapatkan hak dan fasilitas sesuai dengan kebutuhan kekhususannya.
3. Memfasilitasi keluhan para tuli akan diskriminasi di masyarakat, supaya bisa ditindaklanjuti ke pemerintah bahkan ke tingkat internasional, karena undang-undang kesetaraan ini sudah disetujui sejak tahun 2014 oleh 150 negara termasuk Indonesia.

Siapa sajakah yang termasuk dalam kategori kaum disabilitas (dengan keterbatasan)?
Mereka yang memiliki keterbatasan:
1. Fisik, seperti tunadaksa
2. Intelektual, seperti tunagrahita
3. Mental, seperti schizoprenia, bipolar
4. Sensorik, seperti tuli, buta.

Continue reading Perlindungan Hukum Untuk Para Tuli

Paham Dulu, Hafal Kemudian

Beberapa waktu lalu, seorang teman mengajukan diskusi mengenai ajakan menghafal Alquran di usia dini yang sedang in. Saya juga ingin dong, buat anak-anak saya. Apalagi manfaat Alquran sudah saya rasakan sendiri, dengan bergabung di ODOJ selama hampir tiga tahunan ini. Padahal hanya tilawah dan sedikit terjemah, bukan menghafal. Tapi saya juga sadar, ilmu yang cekak dan teladan diri yang amburadul, bikin maju mundur demi mencanangkan target buat anak-anak :mrgreen:

Qadarullah, teman lain memberitahukan tentang seminar tentang hafalan Alquran, pas dekat rumah. Alhamdulillah, bisa jadi tambahan visi dan misi ;).

Continue reading Paham Dulu, Hafal Kemudian

AVT In A Glance

Materi utamanya berasal dari seminar AVT untuk orang tua, dengan pembicara Cheryl L. Dickson, tanggal 23-24 Juli 2016. Supaya lebih mudah membacanya, ini saya tuliskan Q and A ya. Informasinya campuran, dari berbagai sumber. Semoga bermanfaat ☺

Apa sih pengertian dari AVT?

AVT adalah singkatan dari Auditory Verbal Therapy. Sebuah metode pembelajaran bagi anak tuna rungu, yang menggunakan alat bantu dengar atau implant.

-continue reading->