S.O.c.S. (2)

Saya bukan manusia gawai kalau di luar. Pengennya ngobral-ngobrol sama orang baru, yang punya cerita dan pengalaman beda-beda. Apa daya, hampir semua sibuk dengan gawai masing-masing. Ambil pose pun kalau ingat merasa perlu rekam jejak. Ndilalah, kamera saya tak berfungsi. Saya tetap hidup kok, dan baik-baik saja. Cuman jadinya merepotkan Jemi, saya minta dia ambil foto dan video sana sini 😀

Berhubung juga bukan manusia #latepost, maka foto-foto ke Wisata Mangrove Surabaya baru saya unggah ke instagram beberapa hari sesudahnya. Menulis ini pun beberapa bulan setelahnya, hihihi… Tentu saja selalu telat nanya apakah saya sedang di Surabaya 😁 Udah pulang lah. Selain pertanyaan teknis lainnya, ada pertanyaan menggelitik dari seorang teman yang sedang di Ostrali, mengikuti suami kuliah.

“Dikasi pelampung gak? Atau kita mesti siap sendiri?”

Aseli coklat, tanpa edit, saking panasnya

Continue reading S.O.c.S. (2)

Advertisements

Emon dan Cimor

Beberapa bulan lalu, saya memutuskan bahwa saya akan bersahabat dengan kucing. Penyebab utamanya, anak-anak terus memohon agar mereka dibolehkan memelihara kucing. Saya dan Jemi berusaha ‘masuk’, karena kami berdua tak terlalu menyukai binatang, meski juga tak suka jika mereka disakiti.

Hadirlah Emon dan Cimor, begitulah nama yang diberikan Shena pada mereka. Dua kucing persia campuran (bulunya tak terlalu lebat) ini, dengan cepat mengambil hati saya 😍 Padahal saya baruuu aja belajar menyukai. Mengelus syahdu bulu panjangnya, yang bisa membantu menurunkan tekanan darah. Mereka pun beradaptasi dengan cepat. Suka menggelung pada kami bertiga, menjilat, menggigit, dan mencakar dengan mesra. Hihihi, gini ya rasanya berurusan sayang dengan binatang 😊

Continue reading Emon dan Cimor

Dari Bu Dokter Sp.THT Itu

Kali ini saya mengutip kisah saja ya, berhubung saya tak hadir di seminar yang bersangkutan ☺

Dokter perempuan spesialis THT itu, mengatakan bahwa bahasa isyarat bisa menjadi alternatif terakhir, jika anak tak bisa diusahakan mendengar dengan alat bantu atau verbal, mengalami difabilitas ganda, sementara usia anak semakin bertambah.

Meski masih berkaitan dengan deprivasi bahasa, saya ikut senang 😍, apalagi jika mengingat satu kisah pribadi mengenai penolakan yang materialistik itu. Huh…

Baca: Rejected.

Continue reading Dari Bu Dokter Sp.THT Itu

“Mama Moldy…” (2)

“Aku dipukul. Aaaa…” teriak Zen, mengiba, tapi tak berusaha menghindari si pemukul.

“Kamu yang keterlaluan, kamu ludahin adikku. Dasar…” balas anak si pemukul seraya terus melancarkan bogem dan juga menendangi sepedanya Zen.

Gambar pertikaian ala Moldy

Saya tak bisa mendengar dengan begitu jelas, lagi nyambi beres-beres rumah. Pertengkaran berjarak sekitar dua rumah dari saya. Para bocah ini tak mau manut pada teriakan ibu-ibu yang berusaha melerai mereka. Baku hantam terus berlanjut dengan tidak imbang, hingga kemudian mereka menghilang di gang masing-masing. Duh, skornya berapa ya. Eh… 

Continue reading “Mama Moldy…” (2)

Sarden Kukus

One day one post, hari kesebelas 💪

Resep ini saya dapat dari nenek tetangga, yang pintar memasak. Kalau blank dengan ide masak apa hari ini, saya nanya-nanya. Beliau ini selalu berbaik hati membagi resepnya yang sangat beragam. Perkara pengalaman juga ya, jadinya tiap hari tak pernah stuck macam para emak anyaran, yang menunya tak lepas dari tumis sayur dan goreng sana sini 😄

Saya modif sedikit untuk versi minim minyak ya. Seperti biasa, takarannya serba kira-kira 😉

Continue reading Sarden Kukus

“Mama Moldy…”

“Ini nih, si anak yang diludahi dan ditendang sama Zen,” adu seorang anak abege, ketika saya dan Shena melewati segerombolan anak di depan toko penganan. Duh nak, kenapa mesti nunggu temanmu ngumpul baru kamu bilang? 😯 Kita kan tiap hari ketemu…

Si anak yang dia maksud adalah Shena. Zen yang dia maksud adalah anak kebutuhan khusus yang tiap sore datang ke rumah saya, menggoyang pagar, seraya memanggil dengan lembut, “Mama Moldy.”

‘Petugas patroli’ sore

“Haaaii…” sapa saya antusias. 

“Minta es krim,” katanya tanpa basa-basi. Sekali dikasi es krim bikinan saya sendiri, tiap ketemu minta es krim terus 😒

-continue reading

Salsabella

Bella pindah rumah ke area perumahan lain yang harganya mihil bingit dan kabarnya, dibayar cash. Ihiii, nggosiiip 😄 Belum termasuk sawah beberapa hektar atas nama bapaknya dan juga beberapa mobil.

Nggumunnya bukan perkara kekayaan itu, tapi soal sikap mereka. Ada beberapa orang yang menunjukkan sikap permusuhan terang-terangan, entah kenapa. Si ibu dan anak sama-sama baiknya pada kami, saya gak tahu alasan mereka dibenci. 😆 Jatuhnya kok malah jadi agak iba yak 😐 Continue reading Salsabella