Emon dan Cimor

Beberapa bulan lalu, saya memutuskan bahwa saya akan bersahabat dengan kucing. Penyebab utamanya, anak-anak terus memohon agar mereka dibolehkan memelihara kucing. Saya dan Jemi berusaha ‘masuk’, karena kami berdua tak terlalu menyukai binatang, meski juga tak suka jika mereka disakiti.

Hadirlah Emon dan Cimor, begitulah nama yang diberikan Shena pada mereka. Dua kucing persia campuran (bulunya tak terlalu lebat) ini, dengan cepat mengambil hati saya 😍 Padahal saya baruuu aja belajar menyukai. Mengelus syahdu bulu panjangnya, yang bisa membantu menurunkan tekanan darah. Mereka pun beradaptasi dengan cepat. Suka menggelung pada kami bertiga, menjilat, menggigit, dan mencakar dengan mesra. Hihihi, gini ya rasanya berurusan sayang dengan binatang 😊

Continue reading Emon dan Cimor

Advertisements

Dari Bu Dokter Sp.THT Itu

Kali ini saya mengutip kisah saja ya, berhubung saya tak hadir di seminar yang bersangkutan ☺

Dokter perempuan spesialis THT itu, mengatakan bahwa bahasa isyarat bisa menjadi alternatif terakhir, jika anak tak bisa diusahakan mendengar dengan alat bantu atau verbal, mengalami difabilitas ganda, sementara usia anak semakin bertambah.

Meski masih berkaitan dengan deprivasi bahasa, saya ikut senang 😍, apalagi jika mengingat satu kisah pribadi mengenai penolakan yang materialistik itu. Huh…

Baca: Rejected.

Continue reading Dari Bu Dokter Sp.THT Itu

“Mama Moldy…” (2)

“Aku dipukul. Aaaa…” teriak Zen, mengiba, tapi tak berusaha menghindari si pemukul.

“Kamu yang keterlaluan, kamu ludahin adikku. Dasar…” balas anak si pemukul seraya terus melancarkan bogem dan juga menendangi sepedanya Zen.

Gambar pertikaian ala Moldy

Saya tak bisa mendengar dengan begitu jelas, lagi nyambi beres-beres rumah. Pertengkaran berjarak sekitar dua rumah dari saya. Para bocah ini tak mau manut pada teriakan ibu-ibu yang berusaha melerai mereka. Baku hantam terus berlanjut dengan tidak imbang, hingga kemudian mereka menghilang di gang masing-masing. Duh, skornya berapa ya. Eh… 

Continue reading “Mama Moldy…” (2)

Sarden Kukus

One day one post, hari kesebelas 💪

Resep ini saya dapat dari nenek tetangga, yang pintar memasak. Kalau blank dengan ide masak apa hari ini, saya nanya-nanya. Beliau ini selalu berbaik hati membagi resepnya yang sangat beragam. Perkara pengalaman juga ya, jadinya tiap hari tak pernah stuck macam para emak anyaran, yang menunya tak lepas dari tumis sayur dan goreng sana sini 😄

Saya modif sedikit untuk versi minim minyak ya. Seperti biasa, takarannya serba kira-kira 😉

Continue reading Sarden Kukus

“Mama Moldy…”

“Ini nih, si anak yang diludahi dan ditendang sama Zen,” adu seorang anak abege, ketika saya dan Shena melewati segerombolan anak di depan toko penganan. Duh nak, kenapa mesti nunggu temanmu ngumpul baru kamu bilang? 😯 Kita kan tiap hari ketemu…

Si anak yang dia maksud adalah Shena. Zen yang dia maksud adalah anak kebutuhan khusus yang tiap sore datang ke rumah saya, menggoyang pagar, seraya memanggil dengan lembut, “Mama Moldy.”

‘Petugas patroli’ sore

“Haaaii…” sapa saya antusias. 

“Minta es krim,” katanya tanpa basa-basi. Sekali dikasi es krim bikinan saya sendiri, tiap ketemu minta es krim terus 😒

-continue reading

Sepanjang Dua Hari Yang Lalu

30 September kemarin, genap 8 tahun saya menjadi ibu. Hari lahirnya Moldy, dicekam horor sebagai emak baru yang super bloon. Syukurlah tak ada lagi kewajiban menonton film horor sejarah kelam. Maunya sih bikin postingan yang cetar yang akan menjadi kenangan, eh ternyata wassalam 😕

Saya beli kue dan Jemi beli kado. Pagi yang terlalui dengan biasa aja, tak se-excited ekspresi Moldy saat dia memohon agar bisa ultah sambil tiup lilin. Ealah nak, tiwas kami ini menyempatkan rencana sana sini supaya heboh 😄 

Kue udah agak nyoklat luar dalam, dia cuma niup aja, gak mau makan. Buat chocolover kayak Moldy, ini emang biasa aja. Masih nyoklat yang dulu dibeliin Jemi buat saya, pas belum ada anak-anak. Hehehe, pilihan kue akhirnya mengikuti jumlah anggota keluarga yang mesti ditanggung yaa 😉

Ini merk P, dekat rumah. Maunya sih merk H, yang sudah halal dan pasti enak, tapi lebih kecil 😂

-continue reading

Salsabella

Bella pindah rumah ke area perumahan lain yang harganya mihil bingit dan kabarnya, dibayar cash. Ihiii, nggosiiip 😄 Belum termasuk sawah beberapa hektar atas nama bapaknya dan juga beberapa mobil.

Nggumunnya bukan perkara kekayaan itu, tapi soal sikap mereka. Ada beberapa orang yang menunjukkan sikap permusuhan terang-terangan, entah kenapa. Si ibu dan anak sama-sama baiknya pada kami, saya gak tahu alasan mereka dibenci. 😆 Jatuhnya kok malah jadi agak iba yak 😐 Continue reading Salsabella