“Kenapa Politik Memenjarakan Orang?”

Shena menanyakan ini dalam perjalanan pulang sekolah. Saya berjanji menjawabnya di rumah, seraya berharap dia lupa 😅 Sayangnya tidak. Sambil ganti baju, dia ingatkan bahwa saya berutang penjelasan padanya.

“Shena tahu darimana?”

“Kan Yayah sering nonton berita, aku ikut dengar,”

“Siapa sih yang dipenjarakan?”

“Gak tahu.”

Baca: Kepo Dulu, Masih Kepokah Kini?

Derajat pertanyaannya mulai meningkat. Tak lagi asal tanya, tapi sudah mulai lebih kepo, dan lebih butuh penjelasan. Bahkan kami sudah saling menahan diri, pada suatu peristiwa, dengan sebuah pembatas:
“Bubun emoh lanjut, nanti Shena nanya, gak tahu jawabnya.”
Atau
“Sudah Bun, berhenti dulu, nanti aku nanya banyak lho.”
😁

Continue reading “Kenapa Politik Memenjarakan Orang?”

Advertisements

Female War (2)

“Musuh utama manusia terbesar manusia secara umum, adalah dirinya sendiri. Sedangkan bagi sejumlah perempuan, dia memiliki musuh tambahan, yaitu perempuan lain.”

😯😯

Hela napas agak nyesek, antara mengiyakan dan menidakkan. Mari kita mulai dengan sejumlah fakta yang ada.

👒 Gerbong pink atau gerbong khusus perempuan, kabarnya lebih horor daripada gerbong umum. Sesama wanita bisa saling berebut dengan ganasnya, tanpa peduli dengan kondisi hamil, sakit, ataupun PMS.

Continue reading Female War (2)

Molitik Embuh (2)

Sebagai netijen pasif, emak-emak, dan sekaligus warga negara yang menjunjung tinggi asas kebaperan dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan; saya mulai berpikir betapa nyinyir itu mulai berguna. Sepertinya kenyinyiran kita bersama sudah mulai menemui titik terang. Kitaa…eh kamu aja kalee, saya sih situasional aja 😂

Gatal pengen ngomongin politik, apa daya udara yang dihirup berbau hoax dan fanatisme overdosis. Mengingat betapa njomplangnya pemahaman, semisal saat debat capres antara Megawati vs SBY dulu, saya udah males lihat debat politik. Seringnya terlalu pinter sebelah, nggedabrus sebelah, pokoknya selalu bukan lawan seimbang. Sebagai pembaper, saya tak suka lihat beginian. Beberapa kali milih, saya tutup mata, ini program apaaan sih 😕

Baca: Molitik Embuh

Sesekali Mamak menelpon, yang kemudian menangsurkan ke Bapa untuk ngobrolin politik bersama. Dari dulu Bapa mendukung Jokowi, atas nama supremasi sipil, udah bosen dwifungsi militer yang masih mengakar. Mamak ikut aja. Saya, swinging, tergantung sedang nge-fly dengan hoax mana 😄

Continue reading Molitik Embuh (2)

Katarsis Nyinyir

Salah satu lagu favorit saya waktu masih kecil judulnya Pak Tua, dinyanyikan oleh Elpamas, roker asal Jatim yang mengikuti trend gondrong ala band metal saat itu. Lagunya ringan, santai, apa adanya, lalu hilang dari peredaran Selekta Pop. Vokalisnya Totok Tewel. Sewaktu digantikan Ecki Lamoh, saya juga suka sama lagu Tuan Peterson yang dinyanyikannya. Meski heran juga, kok kita xenophilia banget yah, dan masih hingga hari ini 😑

Lagu ini dicekal karena dianggap menghina Soeharto. Pak tua sebagai representasi gambaran Soeharto. Saya belum banyak paham soal politik saat itu. Hanya ingat jika kami sekeluarga mengobrolkan soal politik, tiba-tiba ada yang mengingatkan supaya kami berhati-hati. Yah, kan musim petrus, orang kritis yang hilang begitu saja. Parno aja sih, lha wong itu cuma sekadar diskusi ringan keluarga, belum melebar sampai suara komunitas 😁

Continue reading Katarsis Nyinyir

Gratis Tak Selalu Manis (2)

Alatnya Moldy yang kedua, gratis dari Star***. Sebenarnya saya tak terlalu sepakat dengan ini sih, mending beli sendiri. Atau bahkan tak usah pakai sama sekali. Jemi tetap memaksa kami berangkat ngantri. Mengurus pertanggungjawaban tak butuh alat itu seperti superhero kesiangan. Kalau Jemi mendukung kami sih, tak masalah, tapi… Hiks, kompak itu susah, kawan 😀

Tak lama kemudian alatnya enggan berfungsi, dan segera karatan karena lama tak digunakan. Saya juga tak berangkat untuk servis. Mbuh, rasanya dendam banget dengan alat bantu. Hahaha…

Baca: Rejected

Continue reading Gratis Tak Selalu Manis (2)

Desakan Poligami

Sssttt…

Saya rutin scanning gawai suami lhooo…

Anda juga kah?

😂

Bukan atas dasar motif curiga berlebihan, tapi mempekerjakan naluri saya sebagai satpam rumah tangga. Hehehe… Anak-anak kan tak dapat jatah gawai pribadi, jadi mereka lihat apapun dengan gawai kami berdua. Cuma lihat kiriman gambar dan video aja, pesan-pesan gak pernah saya baca, males 😃

Bapak-bapak itu ya, kalau di grup, byuh, macam bujang lapuk yang haus belaian kasih sayang. Kalau ternyata anak-istrinya lengkap dan baik-baik aja, bisa jadi dia ‘ada sesuatu’. Guyonan, gambar, atau video yang dikirim; well, silakan dibayangkan seperti apa isi otak pria 😄 Ini bukan asumsi ya, sudah masuk ranah penelitian bahwa otak pria lebih banyak memikirkan soal empat huruf berawalan dan berakhiran huruf s itu 😉

Tujuan saya scanning gawai suami ya ini, menghapus konten seronok, supaya tak dilihat anak-anak. Moldy mengamati detail dengan matanya. Shena sudah mulai membaca dengan baik. Kalau kami kecolongan, gagap juga dong cari penjelasannya 😂

Selain itu semua, isu istri kedua dan betapa bahagianya bisa poligami adalah sejumlah topik yang selalu diusung dalam berbagai pose. Bahkan ada meme yang menyatakan bahwa, hukum dasar pernikahan adalah poligami. Hiyaaa…😮

Continue reading Desakan Poligami

Terbuai Tere Liye

Buku pertama TL yang saya baca adalah Moga Bunda Disayang Allah, menceritakan mengenai kehidupan anak difabel. Lupa-lupa ingat bagaimana ceritanya, tapi masih ingat jelas bagaimana kesannya. Bagus dan inspiratif, sangat mirip dengan kisah hidup Helen Keller. Sayang agak membosankan buat saya waktu itu, karena sangat panjang dan tidak penuh hal yang tak terduga seperti beberapa novelnya saat ini. Sebagai pembaca jenis omnivor, saya merasa harus menyelesaikannya sampai tuntas. Waktu itu masih ikut Republika, belum Gramedia. Ssstt, pilihan penerbit sangat berpengaruh terhadap ‘rasa’ bacaan lho 😉

Sejak itu, saya butuh alasan kuat untuk membeli bukunya TL. Bukan karena bukunya jelek, tapi tak cocok aja. Baca tetep, tapi maunya pinjem, hehe… Untuk seorang yang produktif tiada tara sekaligus aktif di media sosial, karyanya cukup stabil. TL terus melakukan sejumlah riset demi mewujudkan tiap karya yang berbeda, meski beberapa kejadian dia buat sangat mirip dengan inspirasi aslinya. Helen Keller di buku Moga Bunda Disayang Allah dan The A-Team versi terbaru dalam buku Negeri Para Bedebah.

Continue reading Terbuai Tere Liye