Terbuai Tere Liye

Buku pertama TL yang saya baca adalah Moga Bunda Disayang Allah, menceritakan mengenai kehidupan anak difabel. Lupa-lupa ingat bagaimana ceritanya, tapi masih ingat jelas bagaimana kesannya. Bagus dan inspiratif, sangat mirip dengan kisah hidup Helen Keller. Sayang agak membosankan buat saya waktu itu, karena sangat panjang dan tidak penuh hal yang tak terduga seperti beberapa novelnya saat ini. Sebagai pembaca jenis omnivor, saya merasa harus menyelesaikannya sampai tuntas. Waktu itu masih ikut Republika, belum Gramedia. Ssstt, pilihan penerbit sangat berpengaruh terhadap ‘rasa’ bacaan lho 😉

Sejak itu, saya butuh alasan kuat untuk membeli bukunya TL. Bukan karena bukunya jelek, tapi tak cocok aja. Baca tetep, tapi maunya pinjem, hehe… Untuk seorang yang produktif tiada tara sekaligus aktif di media sosial, karyanya cukup stabil. TL terus melakukan sejumlah riset demi mewujudkan tiap karya yang berbeda, meski beberapa kejadian dia buat sangat mirip dengan inspirasi aslinya. Helen Keller di buku Moga Bunda Disayang Allah dan The A-Team versi terbaru dalam buku Negeri Para Bedebah.

Continue reading Terbuai Tere Liye

Advertisements

Cantik Tak Harus Putih

One day one post, hari keempat 💪

Kulit saya sawo matang, dan pernah beberapa bulan memakai pemutih, lupa merknya. Hasilnya memang seperti iklan, langsung memutih dalam beberapa hari, kemudian kembali semula jika pemakaian tak dilanjutkan 😐

Krim pemutih memiliki efek samping yang cukup beresiko. Yang paling jamak terjadi, antara lain hiperpigmentasi atau jadi lebih gelap, vitiligo atau kehilangan pigmen dan kulit jadi belang, juga lapisan kulit yang menipis akibat bahan pemutih yang mengikisnya. Lebih lengkapnya bisa dibaca di situs alodokter ya ☺

Menurut feminis Luh Ayu Saraswati, pemutih adalah sebuah bentuk penjajahan emosi. Perempuan terbelenggu dalam dogma kecantikan sebagai kulit putih dan mancung. Mereka tak dibebaskan memahami emosinya sendiri, tentang siapa dan bagaimana dirinya secara utuh. 

Continue reading Cantik Tak Harus Putih

Cerita Pejalan Kaki

“Buuu, buuu…” teriak seseorang memanggil saya dengan kencangnya.

Saya mengedarkan pandangan sekitar, nampak seseibu lain yang menyapa dari kejauhan. Dia nampak antusias.

“Kenapa?” Tanyanya 😯
Lho, bukannya saya yang mesti bertanya, karena dia menyela kegiatan saya…berjalan kaki bersama anak-anak di sore yang cerah. Errr, sebenarnya penuh debu motor dan penuh teriakan sih, supaya kami tak terhajar motor di jalanan kampung yang juga asal seruduk.

“Kenapa kenapa?” Tanya saya balik, sambil teriak juga, karena jarak kami cukup jauh, disela motor dan mobil yang lalu lalang. 

“Kenapa kok jalan kaki?” Tanyanya polos 😕

Sebuah ketertiban yang langka

Eh, sejak kapan jalan kaki butuh alasan. Apakah naik motor juga butuh alasan. Maunya sih naik mobil, tapi saya gak punya, hehehe… Oh, dia sedang berbaik hati menyapa saya, jadi saya hela napas agak panjang, lalu…uhuk, busyet debunya tebal juga.

-continue reading

Prov-Antiv

Dengan information-overwhelmed, saya jadinya malah males mikir 😯

Moldy dan Shena, sebagai warga negara yang berusaha berpikiran baik dan benar, sudah disuntik vaksin MR (measles, rubella). Detail penyakit silakan googling sendiri ya…

Jika tak salah kira, Moldy menyandang ketulian karena virus rubella, yang kabarnya memang lebih suka sama ibu hamil. Pembawanya malah rapopo. Makanya, para pembawa inilah yang disuruh jadi ‘tentara’ yang berangkat perang, sehingga (diharapkan) efek samping rubella bisa dikurangi sebanyak mungkin. Sepakat tak sepakat (untuk vaksin) itu pilihan anda 😉 Edukasi silakan, intimidasi jangan ya…

Jika anda kebanyakan kelayapan di timeline yang hobi ‘memainkan perasaan dan keputusan orang lain’, di situlah ujian anda sebagai pengakses medsos 😂 Hayati lelaah, tapi kenapa nemuuu aja di timeline. Ini sebagian hasil kelayapan yang hampir bikin galau jiwa:

-continue reading

Perlindungan Hukum Untuk Para Tuli

Seminar diadakan di Universitas Sanata Dharma, Kampus I, Sleman, pada hari Minggu, 6 Agustus 2017. 
Kesetaraan antara penggunaan dan pemahaman istilah tuli maupun tunarungu, masih menjadi perdebatan. Meski, diskriminasi tetap menjadi ‘bumbu’ utama yang tak bisa hilang sepenuhnya dalam perjuangan menuju setara bagi kaum tuli. Saya menggunakan istilah tuli di sini, menghormati kenyamanan identitas mereka ☺

Supaya ringkas, saya pakai mode tanya jawab. Ada beberapa sumber yang saya tambahkan sebagai data tambahan, serta beberapa tanya jawab selama acara yang saya jadikan materi langsung di bawah ini. Selamat menyimak ☺

Siapa sajakah pembicaranya?
Prof. Michael Steven Stein dari Washington AS, seorang tuli yang bahkan baru belajar bahasa isyarat di usia 24 tahun. Dia menempuh pendidikan bidang hukum di Universitas Harvard dan Princenton, dengan predikat summa cumlaude.
Drg. Juniati Effendy, seorang tuli yang menempuh pendidikan di Dena Upakara Wonosobo, lalu menempuh pendidikan kedokteran di Universitas Prof. dr.Moestopo, Jakarta. Sekarang prakteknya di Jakarta Barat.

Apakah tujuan seminar itu diadakan?
1. Sosialisasi UU no 8 tahun 2016 mengenai kesetaraan hak tuli dan juga para difabel lain di berbagai bidang, mengingat CRPD (Convention on the Rights of a Person with Disability) sudah disahkan oleh PBB sejak 30 Maret 2007. Ada 240 pasal yang diajukan untuk perbaikan nasib para tuli, namun banyak yang dihapus sehingga tersisa 150 pasal.
2. Memberikan advokasi (bantuan hukum) kepada para tuli untuk mendapatkan hak dan fasilitas sesuai dengan kebutuhan kekhususannya.
3. Memfasilitasi keluhan para tuli akan diskriminasi di masyarakat, supaya bisa ditindaklanjuti ke pemerintah bahkan ke tingkat internasional, karena undang-undang kesetaraan ini sudah disetujui sejak tahun 2014 oleh 150 negara termasuk Indonesia.

Siapa sajakah yang termasuk dalam kategori kaum disabilitas (dengan keterbatasan)?
Mereka yang memiliki keterbatasan:
1. Fisik, seperti tunadaksa
2. Intelektual, seperti tunagrahita
3. Mental, seperti schizoprenia, bipolar
4. Sensorik, seperti tuli, buta.

Continue reading Perlindungan Hukum Untuk Para Tuli

Hurting Heed

Pernahkah merasa status seseorang ditujukan spesial buat anda? 😉

Seriiing…

Hehehe, ge-er tak ada yang melarang, tapi kalau reaktif jangan sampai yaaa…

Saya pernah beberapa kali dalam posisi itu, clearly. Salah satu di antaranya, (saya merasa) kami saling menyerang pada kesempatan yang berbeda. Menurut saya sih begitu, entah gimana menurut yang bersangkutan 😂 Asiknya, saya tak sungkan memujinya jika memang layak. Pun, yang bersangkutan juga demikian, meski posisinya lebih sering pada saya yang kalah skor, hihihi…

Sempat juga sih sakit hati, kok begitu. Ini kan tak adil 😉 Rehat sejenak dari riuhnya medsos, lalu biasa lagi 🙂

Continue reading Hurting Heed