Romansa Mengibu

Jadi ibu itu berat, Dilan pun tak akan sanggup 😂

Meski berat, semua berjalan begitu naluriah dan sesuai waktunya, akan semakin menawan jika kita paham mengapa ini semua terjadi pada kita. Unik. Bahkan lelaki pun tak sanggup menahan sakitnya kontraksi. Sementara ada banyak ibu yang bertahan bahkan hingga 10 hari masa kontraksi demi keluarnya si bayi secara alami.

Tersadar pada satu kalimat baku: Semua ibu itu cantik 😍

Bagaimana, sudahkah engkau merasa cantik hari ini? 😉

Psssttt, ini bukti punya saya…

Continue reading Romansa Mengibu

Advertisements

Penyebab Diet Gagal

Ketahuilah kawan, saya sudah belajar melakoni diet sejak lulus sekolah dasar 😄 Penyebabnya, saya cape dan jengkel tiap ketemu siapapun selalu diejek gendut. Padahal kalau dilihat, masih ada banyak yang lebih gendut daripada saya. Bapa bilang itu perhatian. Saya bilang itu persetan 😑 Saat itu dunia terasa mau runtuh dengan bentuk tubuh yang enggak banget. Huaaa…

Eh, begitu kena masalah lain yang mesti dihadapi sendiri tanpa bantuan siapapun, saya langsung kuruuus, sampai ada yang menyarankan ke psikiater segala 😥 Menjelang menikah pun, masih agak gemuk. Namun begitu menjalani pernikahan, susaaah banget gemuknya.

Entah kenapa, semenjak menikah berat badan malah susut, susah sekali gemuk, sampai dikira penyakitan. Berat badan saya waktu kuliah, sama dengan berat badan saya waktu hamil si Moldy 😨 Itupun mentok, tak bisa naik lagi. Padahal teman dekat saya tahu, saya ini cemilannya banyak dan abot semua. Tidak bahagia? Hihihi, katanya sih begitu. Walahualam 😉

Continue reading Penyebab Diet Gagal

Pergi (2)

Merasakan dua keguguran dalam waktu dua tahun berturut-turut. Antara sedih dan lega. Sedih karena sudah melihat bentuknya yang hampir sempurna seperti bayi, sayangnya pertumbuhan agak lambat dan tanpa detak jantung 😭 Lega karena di dua bulan pertama usianya ini, kami sekeluarga sakit bergantian, mulai dari flu berat hingga cacar air. Tak bisa dihindari kan, hanya bisa pasrah dengan nasib si calon bayi dalam perut, semua terjadi sudah atas kehendak Allah 😢

Baca: Pergi

Hidup memang penuh misteri. Saya sudah hampir menyalahkan diri kenapa tak begini dan begitu. Namun dokter menyatakan bahwa kemungkinan mengapa dia pergi, adalah karena batas takdir usianya hanya sampai sekian saja.

Continue reading Pergi (2)

Rindu Masakan Mamak

“Mak, aku pengen dimasakin Mamak,” kata saya di telepon dengan tangis tertahan.

“Masakan apa?” Tanya beliau, ada selintas nada bahagia yang melemah.

“Kare ayam, lapis daging, bihun kecambah, …”

Seraya terbayangkan sedapnya. Hmmm, sluuurp… 😊 Mamak hanya menggunakan penyedap alami berupa gula garam serta racikan bumbu rempah lainnya, dan selalu enak. Kalau Mamak memasak, bisa dipastikan hanya satu-dua kali makan selalu habis tak tersisa. Kadang bahkan anak cucunya rebutan bagian, hehehe… Sayangnya, Mamak memasaknya berdurasi lamaaa sekali 😂

Rumah klasik Mamak

“Doakan ya,” balasnya singkat, sebelum saya sempat menyebutkan deretan panjang masakan Mamak yang lain.

Baca: (Not) Into Cooking

Continue reading Rindu Masakan Mamak

Jeniper, Si Andalan

Jeruk nipis peras.

Elitnya sih, lemon 😂 Sayangnya, lemon lebih mahal dan susah didapat, jadi yah jeruk nipis paling pas. Untuk 6-7 biji jeruk nipis ukuran sedang, harga termahal tak sampai sepuluh ribu. Saat harga murah, malah cuma 3-4 ribuan.

Ini manfaatnya, berdasar pengalaman dan percobaan saya ya:

🍋 Mengurangi amisnya ikan.
Saya males goreng ikan pakai bumbu kunyit karena minyaknya makin kotor, ribet (mesti nguleg), dan lengket.
Untuk ikan segar, sehabis dibersihkan, dikucuri jeruk nipis, garam, merica. Diamkan sebentar. Kalau mau rasa lebih, tambahkan bawang putih cincang dan ketumbar bubuk. Sebelum digoreng, lumuri ikan dengan sedikit minyak supaya tidak menempel di penggorengan.
Tambahkan irisan jahe waktu digoreng, supaya minyak tak meletus-letus.
Rasanya, hmmm, saya suka makanan yang masih ada citarasa aslinya dan tak banyak penyedap. Begitu 😉

Pernah coba yang begini?

Continue reading Jeniper, Si Andalan

Kue Tradisional dan Kenangan

One day one post, hari ketigabelas 💪

Ninih bilang, hari itu beliau akan membuat jenang. Saya, yang saat itu belum sekolah, mengikutinya ke sana kemari di pawon yang luas dan panjang. Paling ujung, tempat cuci piring, yang buangannya manual, berupa sebuah bak besar. Kalau malam, tempat ini cukup horor. Cahaya lampunya temaram, tak cukup menerangi sampai area cuci piring.

Saat Ninih berpulang ke rumah abadi, tempat inilah yang konon menjadi area pamitan Ninih. Sesuai dengan kesibukan hariannya, panci dan wajan berbunyi sendiri di tengah malam, tepat di 40 hari kepergiannya. Hiii… 😨

Kembali lagi ke area pawon. Kayu bakar, wajan besi yang sangat besar dan tebal, kompor beton dengan lubang tempat pembakaran, gula merah, santan kental dari kelapa yang baru saja diparut. Semua beraroma klasik, tanah dan hangus 😀

Continue reading Kue Tradisional dan Kenangan

Yuk ‘Ngomel’!

Cape habis ngojek puluhan kilometer seharian, kerjaan rumah tak pernah usai, anak-anak yang bahagia dengan rumah ala kapal pecah, hidden agenda antar emak dengan berbagai pose, suami yang diharapkan ganteng romantis tajir suka membantu, eh hihihi… ✌ Jadi tolong jelaskan bagaimana cara supaya menahan diri untuk tidak ngomel demi berdamai manis dengan keadaan? Tolooong… 😑

Repotnya, mulut perempuan itu setajam silet. Kalau lagi jengkel atau terluka, wuuush, keluarlah mantra tingkat dewi durjana yang bisa bikin orang mati kaku. Sampai ada yang memfatwakan, bahwa fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. Melawan dengan pena (kata-kata) bisa menghentikan atau malah menginisiasi pertempuran. Begitu dahsyatnya, sebuah film menggambarkan laut pun bisa marah dengan omelan beruntun seorang perempuan 😨

Continue reading Yuk ‘Ngomel’!