Si Polisi Moral

Shena, dengan kualitasnya yang unik, sebagai adik yang memiliki kakak difabel tuli. Mau tak mau, sikap bijak dan dewasanya tumbuh lebih awal. Kadang oke sebagai pengingat dan penyeimbang, kadang nyebelin juga sih 😂

Harus Berjuang
“Naik ojol aja ya,” rayu suami saya, sewaktu saya mau ke Surabaya motoran. Itu baru aja perbaruan SIM lama. Saya merasa eman gak segera dipake, tapi Jemi masih belum tega melepas saya sendirian bermotor dari Sidoarjo. Ecieee…
Sudah berlalu ya, sekarang beda, minta anter malah disuruh berangkat sendiri 😁 Tiap hari sudah boleh antar jemput anak-anak, motoran, melaju bersama para truk besar itu. Fiuuhh… Demi pengiritan dan efisiensi waktu lah.

Baca: Otw Bisindo

Motor tidak sedang dihidupkan yaa 😉

“Emoh ah, (naik ojol) mahal.”
Emak-emak dengan jiwa pengiritan yang mengakar 😁
“Jauh lho,” dia tetap berusaha meyakinkan.

Continue reading Si Polisi Moral

Advertisements

Centang Biru, Centang Abu

Seorang teman memakai centang abu di whatsapp, dengan alasan tak mau diburu soal pekerjaan, entah gimana detailnya. Beberapa teman lain melakukan hal yang sama, saya menakar pekerjaannya, kemudian memakluminya. Selama pesan sampai dan dibalas sesuai kebutuhan, ya sudah, itu privasi mereka. Saya pakai centang abu, karena tak ingin tergantung, menunggu balasan. Maklumlah, emak rumahan, apa-apa ditungguin 😛 Ada yang aneh waktu pertama kali gak lagi lihat biru-biru di pesan, senyap gitu ya. Ya udin, konsekuensinya kan begitu. Nanti kalau pengen warna-warna, ya dinyalain lagi.

Continue reading Centang Biru, Centang Abu

Molitik Embuh (2)

Sebagai netijen pasif, emak-emak, dan sekaligus warga negara yang menjunjung tinggi asas kebaperan dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan; saya mulai berpikir betapa nyinyir itu mulai berguna. Sepertinya kenyinyiran kita bersama sudah mulai menemui titik terang. Kitaa…eh kamu aja kalee, saya sih situasional aja 😂

Gatal pengen ngomongin politik, apa daya udara yang dihirup berbau hoax dan fanatisme overdosis. Mengingat betapa njomplangnya pemahaman, semisal saat debat capres antara Megawati vs SBY dulu, saya udah males lihat debat politik. Seringnya terlalu pinter sebelah, nggedabrus sebelah, pokoknya selalu bukan lawan seimbang. Sebagai pembaper, saya tak suka lihat beginian. Beberapa kali milih, saya tutup mata, ini program apaaan sih 😕

Baca: Molitik Embuh

Sesekali Mamak menelpon, yang kemudian menangsurkan ke Bapa untuk ngobrolin politik bersama. Dari dulu Bapa mendukung Jokowi, atas nama supremasi sipil, udah bosen dwifungsi militer yang masih mengakar. Mamak ikut aja. Saya, swinging, tergantung sedang nge-fly dengan hoax mana 😄

Continue reading Molitik Embuh (2)

Katarsis Nyinyir

Salah satu lagu favorit saya waktu masih kecil judulnya Pak Tua, dinyanyikan oleh Elpamas, roker asal Jatim yang mengikuti trend gondrong ala band metal saat itu. Lagunya ringan, santai, apa adanya, lalu hilang dari peredaran Selekta Pop. Vokalisnya Totok Tewel. Sewaktu digantikan Ecki Lamoh, saya juga suka sama lagu Tuan Peterson yang dinyanyikannya. Meski heran juga, kok kita xenophilia banget yah, dan masih hingga hari ini 😑

Lagu ini dicekal karena dianggap menghina Soeharto. Pak tua sebagai representasi gambaran Soeharto. Saya belum banyak paham soal politik saat itu. Hanya ingat jika kami sekeluarga mengobrolkan soal politik, tiba-tiba ada yang mengingatkan supaya kami berhati-hati. Yah, kan musim petrus, orang kritis yang hilang begitu saja. Parno aja sih, lha wong itu cuma sekadar diskusi ringan keluarga, belum melebar sampai suara komunitas 😁

Continue reading Katarsis Nyinyir

5 Di 2018

Awal tahun 2019 besok, blog tuwuhingati akan memasuki tahun kelima. Pfft, lumayan anteng 😁 Biasanya dua tiga tahun sudah males lanjut, trus bikin lagi blog baru, hihihi… Meskinya isinya tetap nano-nano, alhamdulillah tiap tahun ada peningkatan kunjungan ☺

Kayaknya saya terlalu menikmati proses, sampai lupa bahwa menulis pun butuh tantangan. Sempat beberapa kali berburu lomba antologi dan lomba menulis lain, atau sekadar tantangan komunitas, lalu saya males 🙊. Pas ketemu bahasan difabilitas, ya udah ditulis aja. Pas pengen nyerempet politik dan atau agama, ya udah ditulis aja, di blog, bukan di status 😉✌

Continue reading 5 Di 2018

Melogat

Tahun 1997, saya mengikuti kunjungan perbandingan ke beberapa kampus negeri di wilayah barat Indonesia. Kunjungan itu antara lain ke UI, UGM, ITB. Bertemu dengan para kakak kelas yang logatnya sudah sangat kota, Nyunda atau Mbetawi. Saya, sok akrab, mengajak mereka bicara campur dalam bahasa Jawa. Kediri je, ngapain juga mesti lupa tanah air. Kalau bukan sekolah dari sana (Kediri), belum tentu juga bakal lolos ke kampus itu 😀

“Ya ampun, ngomongnya kok medok banget,” sindir seorang kakak. Cowok. Wajahnya masih sangat Kediri pula 😎

Di angkot, sementara teman saya menahan bicara karena malu terdengar kemedokannya, saya tetep ngomong apa adanya sampai sesembak tersenyum menyapa,

“Dari Jawa ya, mbak?”

“Hehe, iya, kenapa?”

Sepanjang perjalanan, dia tersenyum simpul, rikuh dan saya cuek terus aja bicara. Hihihi, hidup Jowo! 🙊

Continue reading Melogat

Hubungan Dalam Terjemahan

Kabarnya, ada alat penerjemah perasaan, supaya para lelaki dan para perempuan tak saling salah paham mengenai maksud masing-masing.

Maksud perempuan (rata-rata) seringkali berkebalikan dengan apa yang dikatakannya. Semisal, kalau suaminya pamit pergi nonton konser, istrinya menjawab, “Pergi aja…” seraya memalingkan muka dan bersikap juthek, itu artinya “Oh jadi gitu, nonton sendiri, aku gak diajak…” 😀

Sementara, lelaki mengatakan sesuatu yang sederhana untuk mewakili pikirannya yang jauh lebih rumit. Semisal, saat istrinya nanya, “Apakah aku kelihatan cantik?”
Suaminya pun menjawab dengan wajah datar, “Iya cantik.”
Itu sebenarnya demi menyederhanakan maksud: ya ampun istriku kok ayu tenan yo, tak rugi aku dulu memilihmu di antara sekian gadis yang rencananya akan kutembak sebagai alternatif jika ditolak oleh yang sebelumnya 😄

Continue reading Hubungan Dalam Terjemahan