Hubungan Dalam Terjemahan

Kabarnya, ada alat penerjemah perasaan, supaya para lelaki dan para perempuan tak saling salah paham mengenai maksud masing-masing.

Maksud perempuan (rata-rata) seringkali berkebalikan dengan apa yang dikatakannya. Semisal, kalau suaminya pamit pergi nonton konser, istrinya menjawab, “Pergi aja…” seraya memalingkan muka dan bersikap juthek, itu artinya “Oh jadi gitu, nonton sendiri, aku gak diajak…” πŸ˜€

Sementara, lelaki mengatakan sesuatu yang sederhana untuk mewakili pikirannya yang jauh lebih rumit. Semisal, saat istrinya nanya, “Apakah aku kelihatan cantik?”
Suaminya pun menjawab dengan wajah datar, “Iya cantik.”
Itu sebenarnya demi menyederhanakan maksud: ya ampun istriku kok ayu tenan yo, tak rugi aku dulu memilihmu di antara sekian gadis yang rencananya akan kutembak sebagai alternatif jika ditolak oleh yang sebelumnya πŸ˜„

Continue reading Hubungan Dalam Terjemahan

Advertisements

Gratis Tak Selalu Manis (2)

Alatnya Moldy yang kedua, gratis dari Star***. Sebenarnya saya tak terlalu sepakat dengan ini sih, mending beli sendiri. Atau bahkan tak usah pakai sama sekali. Jemi tetap memaksa kami berangkat ngantri. Mengurus pertanggungjawaban tak butuh alat itu seperti superhero kesiangan. Kalau Jemi mendukung kami sih, tak masalah, tapi… Hiks, kompak itu susah, kawan πŸ˜€

Tak lama kemudian alatnya enggan berfungsi, dan segera karatan karena lama tak digunakan. Saya juga tak berangkat untuk servis. Mbuh, rasanya dendam banget dengan alat bantu. Hahaha…

Baca: Rejected

Continue reading Gratis Tak Selalu Manis (2)

Diet Agama (3): Convert

Temenmu, saudaramu, berapa banyak yang pindah agama?
Perasaanmu: jengkel, marah, bahagia, atau cuek aja?
Perasaan itu timbul karena apa?
πŸ˜‰
Yuk, kita ngobrolin isu sensitif ini dengan kepala dingin. Kalau udah panas dari awal, jangan dilanjutin bacanya. Ayolah, pahami dulu emosi diri, baru lanjut kalau kepo, hehehe…

Saya punya saudara sepupu yang berbeda agama dan atau saling pindah mengikuti pasangan, punya teman baik yang beda agama. Banyak di antara mereka yang kemudian sungkan berurusan dengan teman lama, sedangkan si teman rikuh juga. Serba salah kan. Urusan perbedaan ini semacam konflik terpendam yang emoh untuk dituntaskan πŸ˜‘

Continue reading Diet Agama (3): Convert

5 Alasan Ngeblog

Ada yang masih ingat dengan blogdrive? 😊
Di situ saya bikin blog pertama, yang isinya pengalaman sehari-hari. Hampir sama juga kayak sekarang, beda intensitas dan datanya. Saya selalu tertarik dengan tema anak-anak, perempuan, politik, dan agama. Gak terlalu nyambung sih, hehehe, tapi itulah sejumlah topik konsisten yang hampir selalu saya tulis.

Tentang anak-anak, melebar menjadi difabilitas, pendidikan, dan pengasuhan. Politik banyak berkurang, buat bahan obrolan offline aja, nulisnya hanya menyentil sedikit aja. Sudah banyak ahli politik dadakan di medsos, sungkan euy πŸ˜† Bahasan agama juga mulai saya kurangi, kecuali yang sumbernya jelas dan hampir minim kontroversi. Sesekali baca Magdalene untuk tes ombak, laman yang cukup kritis untuk topik perempuan dan agama. Boleh baca pandangan saya, silakan berargumen πŸ˜‰ Saya pernah menjadi sangat kanan, hampir cadaran, tapi udah tidak lagi. Barangkali buat sebagian teman, saya udah semacam liberal atau plural. Bodo amat, tafsir aja ada Ibnu Katsir dan Saidi, imam ada empat; masa kita yang kaum akar rumput harus sepakat sama persis πŸ˜•

Continue reading 5 Alasan Ngeblog

Jurus Basa Basi

Tabungan berencana per tahunan, ditutup sepihak oleh bank, karena telat top up πŸ™ˆ Kebetulan yang alhamdulillah πŸ˜‰ Pas butuh, hehehe…

“Mau buka yang baru aja, bu?” tanya si mbak teller.

Si mas teller, si tukang interogasi yang sering bikin saya kebingungan menghindar; baru saja datang dari ruangan lain dan siap bergabung. Moldy sibuk menyusuri ruangan bank, sambil comot dan usil sana sini, seperti biasanya πŸ˜‚ Menghabiskan waktu untuk pembuatan tabungan baru selama sekitar 30 menitan, sambil mengawasi si bocah, sambil menjawab pertanyaan basa basi yang bikin mules, tidaaak…

πŸ˜‘πŸ˜‘

Saya menggeleng.

“Ndak usah mbak, kapan-kapan aja.”

Si mbak teller tersenyum manis. Sebelum si mas teller ikut bergabung bersama kami untuk melontarkan jurus basa basinya, saya segera pamit. Menyelamatkan diri πŸ˜‡

Continue reading Jurus Basa Basi

Di Balik Nama (2)

Balik ke nama asli, Esthy Wika, tak lagi memakai nama Daniar. Sungguh, saya bukan orang yang pinter basa-basi dan berpura-pura, hehehe… Kalaupun terpaksa berpura-pura, badan saya yang menolak, stress. Jadinya pakai identitas lain sangat memberatkan hati. Kembalilah ke nama lama, yang sudah dipakai sebagai nama pena orang lain, lalu memperbaiki visi dan misi tulisan dalam blog πŸ˜‰

Baca: Hurting Heed

Nama Jemi, Moldy, Shena, tetep pada tempat masing-masing. Belum kepikiran memakai nama asli. Biarlah orang dekat saya saja yang tahu siapa saja mereka. Bahkan teman-teman saking terbawanya kisah di sini, kalau nanya,

Continue reading Di Balik Nama (2)

Mendiang Ninih

Saya tinggal bersama Ninih, ibu dari Mamak, beberapa saat sebelum sekolah. Bukan hanya saya, ada juga beberapa saudara sepupu yang tinggal di sana. Rame dan rasanya nano-nanoΒ πŸ˜‚

Rumah kuno Ninih luas sekali. Meski tak ada pintu untuk masuk mobil, tapi terasnya luas, ada kebun pohon pisang dan taman kecil yang rindang. Masuk ke dalam, ada gazebo dan sebuah kamar kecil yang disewakan. Masuk ke dalam lagi ada ruang tamu yang bisa menampung dua set kursi dan satu kamar tamu. Menuju ruang tengah, ada meja makan super besar seperti yang di Perjamuan Terakhir, dengan dua kamar. Ruang tengah dan dapur dihubungkan lorong yang setengah terbuka. Kalau hujan, air bisa masuk dan membuat jalannya basah dan licin.

Dapurnya sepanjang ruang tamu dengan satu kamar tidur. Terpisah dari dapur, sebuah kamar mandi kecil dan ruang terbuka yang luas untuk mencuci dan menjemur. Ada sumur konvensional untuk ambil air dan sekaligus latihan kekuatan tangan 😁

Wow kan, rumah orang jaman dulu ☺ Makan sih seadanya, tapi lahan bisa diwariskan sampai beberapa turunan. Bisa ditempati dengan layak untuk ukuran jaman sekarang, dijual atau bahkan dijadikan ladang penghasilan melalui toko atau indekos.

Baca: Kue Tradisional

Suatu hari saya berteriak mencari beliau, “Niniiiiiiiiiiih…”

Continue reading Mendiang Ninih