Diet Agama (2)

Agama diturunkan dari orang tua atau benar hidayah?

Mari disimak beberapa contoh berikut.
Nabi Ibrahim bukanlah penyembah berhala seperti orang tuanya.
Anak yang dibunuh Nabi Khidr karena nantinya akan menjadi seorang pembunuh.
Anak Nabi Nuh yang durhaka dan tenggelam bersama air bah.
Pengasuhan adalah usaha, hasilnya wallahualam โ˜บ

Beriman adalah hidayah, yang bisa diusahakan. Iya, dulu jaman belum banyak manusia, beberapa terpilih untuk menyampaikan risalah kepada umatnya masing-masing, mengajak kepada tauhid. Dengan makin berkembangnya akal dan pengetahuan, risalah itu dijadikan tertulis, yang kemudian menjadi pedoman kita dalam usaha menjaga iman hari-hari ini โ˜บ

Mengapa sih kita harus beragama?

Continue reading Diet Agama (2)

Advertisements

Para Guru

Ini guru-guru saya. Mulai dari SD hingga kuliah. Tak semua ya, hanya beberapa yang teringat dan juga menarik untuk diceritakan ๐Ÿ˜‰

๐Ÿ‘‘ Bu KRN
Beliau pernah memukul kaki saya, dengan lembut. Penyebabnya, saya selalu berlari kemana-mana, jarang berjalan. Takut ditegur lagi, saya berusaha berjalan dengan menekan hentakan pegas di kedua tumit. Waaa, tersiksa sekali. Saya mulai menyadari, bahwa kalau Moldy super umek, saya pun mesti bercermin ๐Ÿ˜„

Beberapa tahun berlalu sejak pensiun, ternyata beliau masih ingat dengan saya.
“Nak, apakah kau masih menulis dengan huruf kotak?” ๐Ÿ˜ณ sapanya ketika tak sengaja kami bertemu.

Hehehe, dulu saking panjangnya waktu ujian dan sedikitnya soal, saya menghias tulisan supaya selesainya lama. Lha piye, mau keluar duluan juga gak boleh.. ๐Ÿ˜ƒ

๐Ÿ‘‘ Bu MRN
Beliau sangat menyayangi Dunan, yang selalu juara kelas, paling tidak tiga besar. Dunan juga pendiam dan penurut, tidak seperti adik perempuannya yang berantakan. Peringkat saya, entahlah, lupa ๐Ÿ˜‚ Dengan perbedaan siblings yang njomplang itulah, sepertinya beliau jaga jarak dengan saya.

Continue reading Para Guru

Monolog Angka Kembar

Kepala tiga, nduk?
Bah, simbok ucapkan itu dan biarkan mereka tebak usia aku.

โ€ฆage is just a number, donโ€™t you stop having fun (Happy Birthday-NKOTB)โ€ฆ
Tapi buat wanita, satu tahun itu sangat berarti.

Opo yo kamu bakal muda selamanya? Waktu itu ora kenal kompromi, nduk. Ini tentang bagaimana kamu bersahabat dengannya, karena dia sudah paten.
Tapi kadang masih kurang.

Continue reading Monolog Angka Kembar

Emon dan Cimor

Beberapa bulan lalu, saya memutuskan bahwa saya akan bersahabat dengan kucing. Penyebab utamanya, anak-anak terus memohon agar mereka dibolehkan memelihara kucing. Saya dan Jemi berusaha ‘masuk’, karena kami berdua tak terlalu menyukai binatang, meski juga tak suka jika mereka disakiti.

Hadirlah Emon dan Cimor, begitulah nama yang diberikan Shena pada mereka. Dua kucing persia campuran (bulunya tak terlalu lebat) ini, dengan cepat mengambil hati saya ๐Ÿ˜ Padahal saya baruuu aja belajar menyukai. Mengelus syahdu bulu panjangnya, yang bisa membantu menurunkan tekanan darah. Mereka pun beradaptasi dengan cepat. Suka menggelung pada kami bertiga, menjilat, menggigit, dan mencakar dengan mesra. Hihihi, gini ya rasanya berurusan sayang dengan binatang ๐Ÿ˜Š

Continue reading Emon dan Cimor

Sepanjang Dua Hari Yang Lalu

30 September kemarin, genap 8 tahun saya menjadi ibu. Hari lahirnya Moldy, dicekam horor sebagai emak baru yang super bloon. Syukurlah tak ada lagi kewajiban menonton film horor sejarah kelam. Maunya sih bikin postingan yang cetar yang akan menjadi kenangan, eh ternyata wassalam ๐Ÿ˜•

Saya beli kue dan Jemi beli kado. Pagi yang terlalui dengan biasa aja, tak se-excited ekspresi Moldy saat dia memohon agar bisa ultah sambil tiup lilin. Ealah nak, tiwas kami ini menyempatkan rencana sana sini supaya heboh ๐Ÿ˜„

Kue udah agak nyoklat luar dalam, dia cuma niup aja, gak mau makan. Buat chocolover kayak Moldy, ini emang biasa aja. Masih nyoklatย yang dulu dibeliinย Jemi buat saya, pasย belum ada anak-anak. Hehehe, pilihan kue akhirnya mengikuti jumlah anggota keluarga yang mesti ditanggung yaa ๐Ÿ˜‰

Ini merk P, dekat rumah. Maunya sih merk H, yang sudah halal dan pasti enak, tapi lebih kecil ๐Ÿ˜‚

-continue reading

Cerita Pejalan Kaki

“Buuu, buuu…” teriak seseorang memanggil saya dengan kencangnya.

Saya mengedarkan pandangan sekitar, nampak seseibu lain yang menyapa dari kejauhan. Dia nampak antusias.

“Kenapa?” Tanyanya ๐Ÿ˜ฏ
Lho, bukannya saya yang mesti bertanya, karena dia menyela kegiatan saya…berjalan kaki bersama anak-anak di sore yang cerah. Errr, sebenarnya penuh debu motor dan penuh teriakan sih, supaya kami tak terhajar motor di jalanan kampung yang juga asal seruduk.

“Kenapa kenapa?” Tanya saya balik, sambil teriak juga, karena jarak kami cukup jauh, disela motor dan mobil yang lalu lalang.

“Kenapa kok jalan kaki?” Tanyanya polos ๐Ÿ˜•

Sebuah ketertiban yang langka

Eh, sejak kapan jalan kaki butuh alasan. Apakah naik motor juga butuh alasan. Maunya sih naik mobil, tapi saya gak punya, hehehe… Oh, dia sedang berbaik hati menyapa saya, jadi saya hela napas agak panjang, lalu…uhuk, busyet debunya tebal juga.

-continue reading