‘Gaung’ Isyarat

Saya pernah bertekad, bahwa Moldy tak akan sekolah di SLB supaya dia bisa bergaul dengan anak dengar, tak akan berbahasa isyarat supaya verbalnya lebih terasah. Pokoknya dia harus bisa berbicara seperti orang biasa. Semaksimal mungkin. Senormal mungkin 😑

Apa daya, terapi wicara mengalami perkembangan lambat, maju satu langkah lalu mundur dua langkah 😢 Belum lagi menangani tantrumnya yang hampir tanpa henti. Disuruh bilang A, keluarnya B. Terus dipaksa, dia memilih melarikan diri atau cuma diam sambil melotot seolah mengatakan, “Aku males, aku emoh, so what?” 😄

Continue reading ‘Gaung’ Isyarat

Advertisements

Normal, Isyarat, Bahagia

“Ibu harus mengajari anaknya berbicara. Jangan berikan apa yang dia minta jika dia belum bicara,” pesan ibu ketua dengan berapi-api.

Saya meringis cuek, “Iya, bu.”
Sebelum giliran saya mendaftar sekolah, ada anak implant, perempuan, menurut, dan kata-katanya lumayan jelas. Apes saya deh, Moldy dibandingkan dengannya, menyeluruh, termasuk emaknya 😑

“Lihat ibu itu,” lanjutnya sambil menunjuk pada ibu anak implant.

Continue reading Normal, Isyarat, Bahagia

Dari Bu Dokter Sp.THT Itu

Kali ini saya mengutip kisah saja ya, berhubung saya tak hadir di seminar yang bersangkutan ☺

Dokter perempuan spesialis THT itu, mengatakan bahwa bahasa isyarat bisa menjadi alternatif terakhir, jika anak tak bisa diusahakan mendengar dengan alat bantu atau verbal, mengalami difabilitas ganda, sementara usia anak semakin bertambah.

Meski masih berkaitan dengan deprivasi bahasa, saya ikut senang 😍, apalagi jika mengingat satu kisah pribadi mengenai penolakan yang materialistik itu. Huh…

Baca: Rejected.

Continue reading Dari Bu Dokter Sp.THT Itu

Deaf Rihla: Cinta Dalam Sunyi MenujuNya

Ini yang pertama di Indonesia, siraman rohani yang disampaikan dalam bahasa isyarat, didampingi oleh beberapa penerjemah. Pembicaranya seorang pengusaha Muslim dari UK.

Pembicaranya, mampu berbicara oral dalam bahasa Inggris, dengan intonasi dan pengucapannya sama seperti orang biasa; namun dia lebih nyaman berbahasa isyarat. Komunikasinya diterjemahkan oleh mas Ipong dalam bahasa Indonesia bagi peserta dengar, kemudian diterjemahkan lagi dalam Bisindo oleh Bunda Galuh bagi peserta tuli. 

Sepintas sih nampak rumit dan peserta dengar mesti bersabar menunggu proses terjemahan. Ada beberapa isyarat yang bahkan mesti dikomunikasikan dengan bahasa Inggris, dibantu dengan Alquran terjemahan, juga bantuan obrolan dengan peserta lain; namun itu tak mengurangi esensi materi. Bahkan, dari sejumlah pertemuan formal dengan para tuli, saya hampir kewalahan mencatat dan menerjemahkannya ke dalam tulisan, karena jadinya banyaak sekali 😀

Continue reading Deaf Rihla: Cinta Dalam Sunyi MenujuNya

OTW: Bisindo

Dengan isyarat yang terbata-bata, saya sampaikan kepada Moldy, bahwa kami akan belajar bahasa isyarat untuknya, agar bisa ngobrol lebih banyak.

Moldy menyatakan bahwa dia senang sekali 😍


Belajar sepatah demi sepatah melalui medsos, tak cukup membuat saya langsung mahir. Meski demikian, isyarat ibu masih bisa berlaku ya. Saya maksimalkan itu, dan Moldy menanggapinya dengan sangat positif. Amarah dan kekecewaannya pun jadi lebih terkendali. Jika tak paham sesuatu, dia mengangsurkan spidol dan meminta saya menulis serta menggambar di papan tulis.
Continue reading OTW: Bisindo

Shena, The Shadow

“Kapan sih kakak bisa ngomong? Biar aku gak malu sama teman-temanku,” protes Shena, lagi, ketika kami menjemputnya pulang sekolah.

😑😑

Saya sedang belajar diam, mencoba membiarkan dia menyimpulkan sendiri. Soal sakit hati atau sedih sih, inshaallah tidak. Tidak banyak maksudnya, hahaha…

Continue reading Shena, The Shadow

Tuli: Sebuah Identitas

Tuli, dengan huruf T kapital seperti halnya menulis nama, adalah sebuah identitas yang dipilih oleh para penyandang gangguan dengar. Mereka memilih berkomunikasi dengan bahasa isyarat, yaitu Bisindo. Sementara yang digunakan secara formal adalah SIBI. Apa perbedaannya?

Berikut informasi yang bisa saya rangkumkan mengenai gambaran komunitas para Tuli, yang sedang memperjuangkan legalitas Bisindo. Materi saya tuliskan sesuai dengan nama pembicaranya ya. 

Iies Arum
Seorang ibu dengan satu putra dan dua putri. Kisah bu Iies sudah saya baca sebelumnya di blog azizaku.com. Putra pertamanya menyandang tuli dan saat ini kelas 5 di sebuah SLB di Yogyakarta. Bu Iies berusaha keras agar Udana bisa mendengar dan berbicara, melalui dukungan terapi wicara dan alat bantu dengar. Namun Udana menginginkan yang berbeda.

Dua pernyataan Udana yang sangat menohok adalah:

Continue reading Tuli: Sebuah Identitas