Antara SLB, Terapi, dan Pemerintah (2)

Tulisan seri pertama dijadikan salah satu data mengenai kebutuhan khusus, alhamdulillah. Entah mesti seneng atau gimana, karena yang dia (penulis skripsi) simpulkan kurang tepat. Moldy dianggap perempuan, dibully di sekolah umum. Padahal Moldy adalah seorang lelaki yang pernah diperlakukan tidak adil dalam pergaulan sehari-hari. Di sebuah TK umum, dialah yang dulu jadi salah satu pembully anak-anak perempuan kecil 😂✌

Baca: Antara SLB, Terapi, dan Pemerintah

Hehehe, dia belum ngerti waktu itu dan kami belum banyak tahu cara memahaminya. Ada banyak kejadian lucu. Saya yang masih panikan, dia sering bikin gara-gara, jadi saya ikutin melulu kemana pun dia melangkah. Para gadis kecil selalu lari ketakutan atau ibunya yang buruan menyelamatkan sebelum kena kejahilan Moldy 😂🙇

Suatu hari, saya berikan jajannya Moldy (karena banyak) ke seorang gadis kecil. Salahnya, saya gak minta ijin jadi Moldy merebutnya, merasa itu miliknya. Saya minta maaf sama ibunya, untung si ibu baik. Besoknya, Moldy bawa jajan lebih banyak dan dia kasikan pada si bocah yang kemarin dia sakiti. Ibunya cerita 😁 Nah kan, dia cuma jengkel, bukan jahat.

Masa menyekolahkan dia ke umum adalah masa denial, berharap dia mampu berbaur dengan mereka yang a.k.a. normal. Begitu sadar dia tak nyaman, saya mulai agak ikhlas dan mencari SLB. Siapa sangka, dia begitu bahagia ketemu sesama tuli dan langsung bersemangat sekolah ☺

Menuju empat tahun bersekolah di SLB, mulai terpetakan bagaimana suasana, masalah diskriminasi, sistem pengajaran, dan sebagainya. Ada beberapa hal yang kurang sejalan dengan hati nurani, ya lah, rasanya tak ada sekolah yang sesempurna ekspektasi semua orang. Bagaimanapun, inshaallah masih bisa dilanjutkan dengan sejumlah penyesuaian dan lapang dada ☺

Tulisan kedua ini, menyajikan kesimpulan yang sama sekali berbeda dengan tulisan pertama 😉

Continue reading Antara SLB, Terapi, dan Pemerintah (2)

Advertisements

‘Gaung’ Isyarat

Saya pernah bertekad, bahwa Moldy tak akan sekolah di SLB supaya dia bisa bergaul dengan anak dengar, tak akan berbahasa isyarat supaya verbalnya lebih terasah. Pokoknya dia harus bisa berbicara seperti orang biasa. Semaksimal mungkin. Senormal mungkin 😑

Apa daya, terapi wicara mengalami perkembangan lambat, maju satu langkah lalu mundur dua langkah 😢 Belum lagi menangani tantrumnya yang hampir tanpa henti. Disuruh bilang A, keluarnya B. Terus dipaksa, dia memilih melarikan diri atau cuma diam sambil melotot seolah mengatakan, “Aku males, aku emoh, so what?” 😄

Continue reading ‘Gaung’ Isyarat

Normal, Isyarat, Bahagia

“Ibu harus mengajari anaknya berbicara. Jangan berikan apa yang dia minta jika dia belum bicara,” pesan ibu ketua dengan berapi-api.

Saya meringis cuek, “Iya, bu.”
Sebelum giliran saya mendaftar sekolah, ada anak implant, perempuan, menurut, dan kata-katanya lumayan jelas. Apes saya deh, Moldy dibandingkan dengannya, menyeluruh, termasuk emaknya 😑

“Lihat ibu itu,” lanjutnya sambil menunjuk pada ibu anak implant.

Continue reading Normal, Isyarat, Bahagia

Dari Bu Dokter Sp.THT Itu

Kali ini saya mengutip kisah saja ya, berhubung saya tak hadir di seminar yang bersangkutan ☺

Dokter perempuan spesialis THT itu, mengatakan bahwa bahasa isyarat bisa menjadi alternatif terakhir, jika anak tak bisa diusahakan mendengar dengan alat bantu atau verbal, mengalami difabilitas ganda, sementara usia anak semakin bertambah.

Meski masih berkaitan dengan deprivasi bahasa, saya ikut senang 😍, apalagi jika mengingat satu kisah pribadi mengenai penolakan yang materialistik itu. Huh…

Baca: Rejected.

Continue reading Dari Bu Dokter Sp.THT Itu

Deaf Rihla: Cinta Dalam Sunyi MenujuNya

Ini yang pertama di Indonesia, siraman rohani yang disampaikan dalam bahasa isyarat, didampingi oleh beberapa penerjemah. Pembicaranya seorang pengusaha Muslim dari UK.

Pembicaranya, mampu berbicara oral dalam bahasa Inggris, dengan intonasi dan pengucapannya sama seperti orang biasa; namun dia lebih nyaman berbahasa isyarat. Komunikasinya diterjemahkan oleh mas Ipong dalam bahasa Indonesia bagi peserta dengar, kemudian diterjemahkan lagi dalam Bisindo oleh Bunda Galuh bagi peserta tuli. 

Sepintas sih nampak rumit dan peserta dengar mesti bersabar menunggu proses terjemahan. Ada beberapa isyarat yang bahkan mesti dikomunikasikan dengan bahasa Inggris, dibantu dengan Alquran terjemahan, juga bantuan obrolan dengan peserta lain; namun itu tak mengurangi esensi materi. Bahkan, dari sejumlah pertemuan formal dengan para tuli, saya hampir kewalahan mencatat dan menerjemahkannya ke dalam tulisan, karena jadinya banyaak sekali 😀

Continue reading Deaf Rihla: Cinta Dalam Sunyi MenujuNya

OTW: Bisindo

Dengan isyarat yang terbata-bata, saya sampaikan kepada Moldy, bahwa kami akan belajar bahasa isyarat untuknya, agar bisa ngobrol lebih banyak.

Moldy menyatakan bahwa dia senang sekali 😍


Belajar sepatah demi sepatah melalui medsos, tak cukup membuat saya langsung mahir. Meski demikian, isyarat ibu masih bisa berlaku ya. Saya maksimalkan itu, dan Moldy menanggapinya dengan sangat positif. Amarah dan kekecewaannya pun jadi lebih terkendali. Jika tak paham sesuatu, dia mengangsurkan spidol dan meminta saya menulis serta menggambar di papan tulis.
Continue reading OTW: Bisindo

Shena, The Shadow

“Kapan sih kakak bisa ngomong? Biar aku gak malu sama teman-temanku,” protes Shena, lagi, ketika kami menjemputnya pulang sekolah.

😑😑

Saya sedang belajar diam, mencoba membiarkan dia menyimpulkan sendiri. Soal sakit hati atau sedih sih, inshaallah tidak. Tidak banyak maksudnya, hahaha…

Continue reading Shena, The Shadow