Molitik Embuh (2)

Sebagai netijen pasif, emak-emak, dan sekaligus warga negara yang menjunjung tinggi asas kebaperan dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan; saya mulai berpikir betapa nyinyir itu mulai berguna. Sepertinya kenyinyiran kita bersama sudah mulai menemui titik terang. Kitaa…eh kamu aja kalee, saya sih situasional aja 😂

Gatal pengen ngomongin politik, apa daya udara yang dihirup berbau hoax dan fanatisme overdosis. Mengingat betapa njomplangnya pemahaman, semisal saat debat capres antara Megawati vs SBY dulu, saya udah males lihat debat politik. Seringnya terlalu pinter sebelah, nggedabrus sebelah, pokoknya selalu bukan lawan seimbang. Sebagai pembaper, saya tak suka lihat beginian. Beberapa kali milih, saya tutup mata, ini program apaaan sih 😕

Baca: Molitik Embuh

Sesekali Mamak menelpon, yang kemudian menangsurkan ke Bapa untuk ngobrolin politik bersama. Dari dulu Bapa mendukung Jokowi, atas nama supremasi sipil, udah bosen dwifungsi militer yang masih mengakar. Mamak ikut aja. Saya, swinging, tergantung sedang nge-fly dengan hoax mana 😄

Continue reading Molitik Embuh (2)

Advertisements

Katarsis Nyinyir

Salah satu lagu favorit saya waktu masih kecil judulnya Pak Tua, dinyanyikan oleh Elpamas, roker asal Jatim yang mengikuti trend gondrong ala band metal saat itu. Lagunya ringan, santai, apa adanya, lalu hilang dari peredaran Selekta Pop. Vokalisnya Totok Tewel. Sewaktu digantikan Ecki Lamoh, saya juga suka sama lagu Tuan Peterson yang dinyanyikannya. Meski heran juga, kok kita xenophilia banget yah, dan masih hingga hari ini 😑

Lagu ini dicekal karena dianggap menghina Soeharto. Pak tua sebagai representasi gambaran Soeharto. Saya belum banyak paham soal politik saat itu. Hanya ingat jika kami sekeluarga mengobrolkan soal politik, tiba-tiba ada yang mengingatkan supaya kami berhati-hati. Yah, kan musim petrus, orang kritis yang hilang begitu saja. Parno aja sih, lha wong itu cuma sekadar diskusi ringan keluarga, belum melebar sampai suara komunitas 😁

Continue reading Katarsis Nyinyir

5 Di 2018

Awal tahun 2019 besok, blog tuwuhingati akan memasuki tahun kelima. Pfft, lumayan anteng 😁 Biasanya dua tiga tahun sudah males lanjut, trus bikin lagi blog baru, hihihi… Meskinya isinya tetap nano-nano, alhamdulillah tiap tahun ada peningkatan kunjungan ☺

Kayaknya saya terlalu menikmati proses, sampai lupa bahwa menulis pun butuh tantangan. Sempat beberapa kali berburu lomba antologi dan lomba menulis lain, atau sekadar tantangan komunitas, lalu saya males 🙊. Pas ketemu bahasan difabilitas, ya udah ditulis aja. Pas pengen nyerempet politik dan atau agama, ya udah ditulis aja, di blog, bukan di status 😉✌

Continue reading 5 Di 2018

Anakku Tidak/Belum Hebat

Saat orang memuji Shena yang nilainya baik dan rajin belajar, saya segera berdalih bahwa dialah hiburan saya. Moldy yang malas belajar dan cuek dengan nilainya 😅

Saat orang memuji Moldy bisa tampil di panggung beberapa kali di sela keterbatasannya sebagai seorang Tuli, saya bersyukur alhamdulillah umeknya tersalurkan 😉

Mereka hebat karena jatah dari Allah, saya sih numpang keren aja 😁 Hehehe, sombong itu gampang, rendah hati itu butuh perjuangan 😀 Pengen juga sih sesekali pamer, tapi lihat-lihat dulu dengan siapa ngobrolnya…

Baca: Kekuranganmu Adalah…

Rasanya jengkel banget kalau dengerin orang sedang mblukuthuk tentang kehebatan dirinya atau anaknya. Sekali-dua kali, oke, wajar. Tapi kalau terus menerus, sampai tak memberi kesempatan lawan bicara, gak adil juga dong. Yang suka bicara supaya emosinya tersalur, perempuan. Yang ingin dihargai pencapaiannya dalam mendidik anak, perempuan juga. Mbok ya saling memberi kesempatan. Toh demi kesehatan jiwa masing-masing 😉✌

Selain itu, saya juga pernah merasakan betapa galaunya, saat anak lain maju pesat, sementara anak saya di situ-situ aja, super selow, bahkan mundur 😨 Saking galaunya, saya marahin Moldy. Bukannya bikin dia paham, eh dia malah nangis memohon-mohon agar saya tak berubah jadi setan 😈

Continue reading Anakku Tidak/Belum Hebat

Melogat

Tahun 1997, saya mengikuti kunjungan perbandingan ke beberapa kampus negeri di wilayah barat Indonesia. Kunjungan itu antara lain ke UI, UGM, ITB. Bertemu dengan para kakak kelas yang logatnya sudah sangat kota, Nyunda atau Mbetawi. Saya, sok akrab, mengajak mereka bicara campur dalam bahasa Jawa. Kediri je, ngapain juga mesti lupa tanah air. Kalau bukan sekolah dari sana (Kediri), belum tentu juga bakal lolos ke kampus itu 😀

“Ya ampun, ngomongnya kok medok banget,” sindir seorang kakak. Cowok. Wajahnya masih sangat Kediri pula 😎

Di angkot, sementara teman saya menahan bicara karena malu terdengar kemedokannya, saya tetep ngomong apa adanya sampai sesembak tersenyum menyapa,

“Dari Jawa ya, mbak?”

“Hehe, iya, kenapa?”

Sepanjang perjalanan, dia tersenyum simpul, rikuh dan saya cuek terus aja bicara. Hihihi, hidup Jowo! 🙊

Continue reading Melogat

Hubungan Dalam Terjemahan

Kabarnya, ada alat penerjemah perasaan, supaya para lelaki dan para perempuan tak saling salah paham mengenai maksud masing-masing.

Maksud perempuan (rata-rata) seringkali berkebalikan dengan apa yang dikatakannya. Semisal, kalau suaminya pamit pergi nonton konser, istrinya menjawab, “Pergi aja…” seraya memalingkan muka dan bersikap juthek, itu artinya “Oh jadi gitu, nonton sendiri, aku gak diajak…” 😀

Sementara, lelaki mengatakan sesuatu yang sederhana untuk mewakili pikirannya yang jauh lebih rumit. Semisal, saat istrinya nanya, “Apakah aku kelihatan cantik?”
Suaminya pun menjawab dengan wajah datar, “Iya cantik.”
Itu sebenarnya demi menyederhanakan maksud: ya ampun istriku kok ayu tenan yo, tak rugi aku dulu memilihmu di antara sekian gadis yang rencananya akan kutembak sebagai alternatif jika ditolak oleh yang sebelumnya 😄

Continue reading Hubungan Dalam Terjemahan

Antara SLB, Terapi, dan Pemerintah (2)

Tulisan seri pertama dijadikan salah satu data mengenai kebutuhan khusus, alhamdulillah. Entah mesti seneng atau gimana, karena yang dia (penulis skripsi) simpulkan kurang tepat. Moldy dianggap perempuan, dibully di sekolah umum. Padahal Moldy adalah seorang lelaki yang pernah diperlakukan tidak adil dalam pergaulan sehari-hari. Di sebuah TK umum, dialah yang dulu jadi salah satu pembully anak-anak perempuan kecil 😂✌

Baca: Antara SLB, Terapi, dan Pemerintah

Hehehe, dia belum ngerti waktu itu dan kami belum banyak tahu cara memahaminya. Ada banyak kejadian lucu. Saya yang masih panikan, dia sering bikin gara-gara, jadi saya ikutin melulu kemana pun dia melangkah. Para gadis kecil selalu lari ketakutan atau ibunya yang buruan menyelamatkan sebelum kena kejahilan Moldy 😂🙇

Suatu hari, saya berikan jajannya Moldy (karena banyak) ke seorang gadis kecil. Salahnya, saya gak minta ijin jadi Moldy merebutnya, merasa itu miliknya. Saya minta maaf sama ibunya, untung si ibu baik. Besoknya, Moldy bawa jajan lebih banyak dan dia kasikan pada si bocah yang kemarin dia sakiti. Ibunya cerita 😁 Nah kan, dia cuma jengkel, bukan jahat.

Masa menyekolahkan dia ke umum adalah masa denial, berharap dia mampu berbaur dengan mereka yang a.k.a. normal. Begitu sadar dia tak nyaman, saya mulai agak ikhlas dan mencari SLB. Siapa sangka, dia begitu bahagia ketemu sesama tuli dan langsung bersemangat sekolah ☺

Menuju empat tahun bersekolah di SLB, mulai terpetakan bagaimana suasana, masalah diskriminasi, sistem pengajaran, dan sebagainya. Ada beberapa hal yang kurang sejalan dengan hati nurani, ya lah, rasanya tak ada sekolah yang sesempurna ekspektasi semua orang. Bagaimanapun, inshaallah masih bisa dilanjutkan dengan sejumlah penyesuaian dan lapang dada ☺

Tulisan kedua ini, menyajikan kesimpulan yang sama sekali berbeda dengan tulisan pertama 😉

Continue reading Antara SLB, Terapi, dan Pemerintah (2)